<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>nullum magnum ingenium sine mixtura dementiae fuit</title>
	<atom:link href="http://berkahdalem.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://berkahdalem.wordpress.com</link>
	<description>arie's life journal</description>
	<lastBuildDate>Sun, 19 Oct 2008 10:17:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='berkahdalem.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>nullum magnum ingenium sine mixtura dementiae fuit</title>
		<link>http://berkahdalem.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://berkahdalem.wordpress.com/osd.xml" title="nullum magnum ingenium sine mixtura dementiae fuit" />
	<atom:link rel='hub' href='http://berkahdalem.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>SHAME ON YOU!</title>
		<link>http://berkahdalem.wordpress.com/2008/10/18/shame-on-you/</link>
		<comments>http://berkahdalem.wordpress.com/2008/10/18/shame-on-you/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Oct 2008 19:39:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>susiloari</dc:creator>
				<category><![CDATA[MY THOUGHTS]]></category>
		<category><![CDATA[bisnisman]]></category>
		<category><![CDATA[Fuld]]></category>
		<category><![CDATA[kebanggaan]]></category>
		<category><![CDATA[korporasi]]></category>
		<category><![CDATA[lehman brothers]]></category>
		<category><![CDATA[pegawai negri]]></category>
		<category><![CDATA[shame]]></category>
		<category><![CDATA[swasta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berkahdalem.wordpress.com/?p=229</guid>
		<description><![CDATA[Menyandang status bisnisman &#8216;swasta&#8217;, meskipun kecil-kecilan bagiku cukup membanggakan. saking bangganya, kadang aku agak memandang rendah pegawai, terutama &#8216;pegawai negri&#8217;. Ada beberapa alasan: 1. Berarti aku ini orang yang mandiri secara finansial, tidak menggantungkan &#8216;hidupku&#8217; pada belas kasihan pemerintah. Tidak perlu merengek-rengek minta naik gaji. 2. Karena secara finansial mandiri, maka aku merasa lebih independen [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=berkahdalem.wordpress.com&amp;blog=4682063&amp;post=229&amp;subd=berkahdalem&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Menyandang status bisnisman &#8216;swasta&#8217;, meskipun kecil-kecilan bagiku cukup membanggakan. saking bangganya, kadang aku  agak memandang rendah pegawai, terutama &#8216;pegawai negri&#8217;. Ada beberapa alasan:</p>
<p style="text-align:justify;">1. Berarti aku ini orang yang mandiri secara finansial, tidak menggantungkan &#8216;hidupku&#8217; pada belas kasihan pemerintah. Tidak perlu merengek-rengek minta naik gaji.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Karena secara finansial mandiri, maka aku merasa lebih independen dalam mengatur hidupku, menyuarakan pendapatku. Aku tidak takut dihukum indisipliner. Tidak merasa gerah harus berseragam. Tidak perlu menjilat pantat atasan.</p>
<p style="text-align:justify;">3. Status itu mendorongku untuk terus maju berkembang, tidak stagnan, tidak gampang puas. Tanpa etos seperti itu, tentu aku bakal &#8216;gulung tikar&#8217;. kalau hanya duduk baca koran, dari mana dapat uang? kalau hanya males-malesan mangkir kerja, mau dibawa kemana periuk nasi? Tuntutan untuk tidak mandeg bahkan bangkrut itu membentuk pribadi yang komit 100% pada apa yang dipikirkan dan dikerjakan. Pribadiku berkembang terus, bukan sebatas urusan bisnis, tapi pada hal-hal lain di luar itu. Hati-hati, cermat, nggak serakah, terukur&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">4. Aku bertanggung jawab atas hidupku. Kalau tambah duit ya karena usahaku. kalau bangkrut ya resikoku yang harus kutanggung.</p>
<p style="text-align:justify;">Mencermati &#8216;musibah-musibah ekonomi&#8217; belakangan ini membuatku berpikir rupanya yang patut berbangga dengan status &#8216;swasta&#8217; cuma mereka yang kecil-kecilan saja. Yang besar-besar, yang kelas kakap ketahuan &#8216;memble&#8217;-nya. Contoh paling fresh adalah kasus Lehman Brothers Inc dan lembaga bisnis keuangan raksasa lainnya. dalam situasi normal, pongahnya bukan main. Gaya hidup para petingginya selangit! Super elit!. Begitu bangkrut dililit utang, eh ngacir ke pengadilan pailit. Minta dipailitkan. Dengan status pailit berarti lepas tanggung jawab dong. Tinggal gimana maunya pemerintah sebagai regulator. Jual asset kek. Suntik dana segar kek.</p>
<p style="text-align:justify;">Diukur dengan istrumen 4 faktor kebanggaan seperti yang aku sebut, nggak lolos deh! malu-maluin &#8216;swasta&#8217; aja nih.</p>
<p style="text-align:justify;">1. Mempailitkan diri, pasrah bongkok-an kepada pemerintah berarti hidup dalam belas kasihan. Dirampas assetnya ya monggo, dibantu ya sukur&#8230;.. najis!</p>
<p style="text-align:justify;">2. Jelas nggak ada lagi independensi. Harus manut! (Herannya tampang si Richard S Fuld Jr, CEO Lehman Bros kok ya tetap pongah aja ya?&#8230;rai gedhek!)</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://berkahdalem.files.wordpress.com/2008/10/ngemis-wallstreet.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-230" style="margin:1px 4px;" title="ngemis-wallstreet" src="http://berkahdalem.files.wordpress.com/2008/10/ngemis-wallstreet.jpg" alt="" width="420" height="280" /></a>3. Kebangkrutan gara-gara Subprime Mortage itu jelas berawal dari ketamakan yang mengalahkan kehati-hatian dan keterukuran.</p>
<p style="text-align:justify;">4. Sama sekali nggak tanggung jawab. Nggak ingat gayanya waktu berjaya.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka nggak salah kalau si Clark Clark berulah. Londo edan asal AS ini melakukan aksi satire. Dia pura-pura jadi pengemis di depan bursa saham New York. Tindakannya menyindir korporasi AS uang yang dililit kebangkrutan dan akhirnya ditolong dengan dana penyelamatan dari pemerintah (berita foto Kompas 13/10).</p>
<p style="text-align:justify;">Kepada korporasi-korporasi kakap tapi bermental kere, sebagai bisnisman &#8216;swasta&#8217; kecil-kecilan yang bangga dengan statusnya, I just want to say&#8230;.SHAME.. ON.. YOU!!</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Berkah Dalem</em></p>
<p style="text-align:justify;">
<br />Posted in MY THOUGHTS Tagged: bisnisman, Fuld, kebanggaan, korporasi, lehman brothers, pegawai negri, shame, swasta <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/berkahdalem.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/berkahdalem.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/berkahdalem.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/berkahdalem.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/berkahdalem.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/berkahdalem.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/berkahdalem.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/berkahdalem.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/berkahdalem.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/berkahdalem.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/berkahdalem.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/berkahdalem.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/berkahdalem.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/berkahdalem.wordpress.com/229/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=berkahdalem.wordpress.com&amp;blog=4682063&amp;post=229&amp;subd=berkahdalem&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berkahdalem.wordpress.com/2008/10/18/shame-on-you/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fabfb5175b394f9acd2708f9fa7a397d?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">susiloari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://berkahdalem.files.wordpress.com/2008/10/ngemis-wallstreet.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ngemis-wallstreet</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KRISIS SUBPRIME DI AS &#8211; KALAU LANGIT MASIH KURANG TINGGI</title>
		<link>http://berkahdalem.wordpress.com/2008/10/14/krisis-subprime-di-as-kalau-langit-masih-kurang-tinggi/</link>
		<comments>http://berkahdalem.wordpress.com/2008/10/14/krisis-subprime-di-as-kalau-langit-masih-kurang-tinggi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Oct 2008 15:19:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>susiloari</dc:creator>
				<category><![CDATA[HORISON]]></category>
		<category><![CDATA[AS]]></category>
		<category><![CDATA[CEO]]></category>
		<category><![CDATA[dummies]]></category>
		<category><![CDATA[krisis keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[lehman brothers]]></category>
		<category><![CDATA[mortgage]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berkahdalem.wordpress.com/?p=217</guid>
		<description><![CDATA[(Tulisan ini ditulis oleh Dahlan Iskan, CEO JawaPos Grup. Menarik, karena lewat tuturan yang sederhana (for dummies), saya yang nggak mudeng ekonomi njlimet itu lalu sedikit lebih ngeh. Oh, begitu to&#8230;.. Selamat berdummie-ria. Berkah Dalem) Meski saya bukan ekonom, banyak pembaca tetap minta saya “menceritakan”secara awam mengenai hebatnya krisis keuangan di AS saat ini. Seperti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=berkahdalem.wordpress.com&amp;blog=4682063&amp;post=217&amp;subd=berkahdalem&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">(<em>Tulisan ini ditulis oleh </em>Dahlan Iskan, CEO JawaPos Grup<em>. Menarik, karena lewat tuturan yang sederhana (for dummies), saya yang nggak mudeng ekonomi njlimet itu lalu sedikit lebih ngeh. Oh, begitu to&#8230;.. Selamat berdummie-ria. Berkah Dalem)</em><strong><em><br />
</em></strong>
</p>
<p style="text-align:justify;">Meski saya bukan ekonom, banyak pembaca tetap minta saya “menceritakan”secara awam mengenai hebatnya krisis keuangan di AS saat ini. Seperti juga, banyak pembaca tetap bertanya tentang sakit liver, meski mereka tahu saya bukan dokter. Saya coba:</p>
<p style="text-align:justify;">Semua perusahaan yang sudah go public lebih dituntut untuk terus berkembang di semua sektor. Terutama labanya. Kalau bisa, laba sebuah perusahaan publik terus meningkat sampai 20 persen setiap tahun. Soal caranya bagaimana, itu urusan kiat para CEO dan direkturnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Pemilik perusahaan itu (para pemilik saham) biasanya sudah tidak mau tahu lagi apa dan bagaimana perusahaan tersebut dijalankan. Yang mereka mau tahu adalah dua hal yang terpenting saja: harga sahamnya harus terus naik dan labanya harus terus meningkat.</p>
<p style="text-align:justify;">Perusahaan publik di AS biasanya dimiliki ribuan atau ratusan ribu orang, sehingga mereka tidak peduli lagi dengan tetek-bengek perusahaan mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengapa mereka menginginkan harga saham harus terus naik?</p>
<p style="text-align:justify;">Agar kalau para pemilik saham itu ingin menjual saham, bisa dapat harga lebih tinggi dibanding waktu mereka beli dulu: untung.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengapa laba juga harus terus naik? Agar, kalau mereka tidak ingin jual saham, setiap tahun merekabisa dapat pembagian laba (dividen) yang kian banyak.</p>
<p style="text-align:justify;">Soal cara bagaimana agar keinginan dua hal itu bisa terlaksana dengan baik, terserah pada CEO-nya. Mau pakai cara kucing hitam atau cara kucing putih, terserah saja. Sudah ada hukum yang mengawasi cara  kerja para CEO tersebut: hukum perusahaan, hukum pasar modal, hukum pajak,  hokum perburuhan, dan seterusnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah para CEO yang harus selalu memikirkan dua hal itu  merasa tertekan dan stres setiap hari? Bukankah sebuah perusahaan kadang bisa untung, tapi kadang bisa rugi?</p>
<p style="text-align:justify;">Anehnya, para CEO belum tentu merasa terus-menerus diuber target. Tanpa disuruh pun para CEO sendiri memang juga menginginkannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengapa?</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama, agar dia tidak terancam kehilangan jabatan CEO. Kedua, agar dia mendapat bonus superbesar yang biasanya dihitung sekian persen dari laba dan pertumbuhan yang dicapai. Gaji dan bonus yang diterima para CEO perusahaan besar di AS bisa 100 kali lebih besar dari gaji Presiden George Bush. Mana bisa dengan gaji sebesar itu masih stres?</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://berkahdalem.files.wordpress.com/2008/10/fuld_lgl.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-220" style="margin:4px;" title="fuld_lgl" src="http://berkahdalem.files.wordpress.com/2008/10/fuld_lgl.jpg?w=200&#038;h=300" alt="" width="200" height="300" /></a>Keinginan pemegang saham dan keinginan para CEO dengan demikian seperti tumbu ketemu tutup: klop. Maka, semua perusahaan dipaksa untuk terus-menerus berkembang dan membesar. Kalau tida ada jalan, harus dicarikan jalan lain.. Kalau jalan lain tidak ditemukan, bikin jalan baru.. Kalau bikin jalan baru ternyata sulit, ambil saja jalannya orang lain. Kalau tidak boleh diambil ? Beli ! Kalau tidak dijual? Beli dengan cara yang licik -dan kasar!  Istilah populernya hostile take over.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau masih tidak bisa juga, masih ada jalan aneh: minta politisi untuk bikinkan berbagai peraturan yang memungkinkan perusahaan bisa mendapat jalan. Kalau perusahaan terus berkembang, semua orang happy. CEO dan para direkturnya happy karena dapat bonus yang mencapai Rp 500 miliar setahun. Para pemilik saham juga happy karena kekayaannya terus naik. Pemerintah happy karena penerimaan pajak yang terus membesar. Politisi happy karena dapat dukungan atau sumber dana.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan gambaran seperti itulah ekonomi AS berkembang pesat dan kesejahteraan rakyatnya meningkat. Semua orang lantas mampu membeli kebutuhan hidupnya. Kulkas, TV, mobil, dan rumah laku dengan kerasnya. Semakin banyak yang bisa membeli barang, ekonomi semakin maju lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena itu, AS perlu banyak sekali barang. Barang apa saja. Kalau tidak bisa bikin sendiri, datangkan saja dari Tiongkok atau Indonesia atau negara lainnya. Itulah yang membuat Tiongkok bisa menjual barang apa saja ke AS yang bisa membuat Tiongkok punya cadangan devisa terbesar di dunia: USD 2 triliun!</p>
<p style="text-align:justify;">Sudah lebih dari 60 tahun cara &#8221;membesarkan&#8217; &#8216; perusahaan seperti itu dilakukan di AS dengan suksesnya. Itulah bagian dari ekonomi kapitalis. AS dengan kemakmuran dan kekuatan ekonominya lalu menjadi penguasa dunia.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi, itu belum cukup.Yang makmur harus terus lebih makmur. Punya toilet otomatis dianggap tidak cukup lagi: harus computerized!</p>
<p style="text-align:justify;">Bonus yang sudah amat besar masih kurang besar. Laba yang terus meningkat harus terus mengejar langit. Ukuran perusahaan yang sudah sebesar gajah harus dibikin lebih jumbo. Langit, gajah, jumbo juga belum cukup.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika semua orang sudah mampu beli rumah, mestinya tidak ada lagi perusahaan yang jual rumah. Tapi, karena perusahaan harus terus meningkat, dicarilah jalan agar penjualan rumah tetap bisa dilakukan dalam jumlah yang kian banyak. Kalau orangnya sudah punya rumah, harus diciptakan agar kucing atau anjingnya juga punya rumah. Demikian juga mobilnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi, ketika anjingnyapun sudah punya rumah, siapa pula yang akan beli rumah? Kalau tidak ada lagi yang beli rumah, bagaimana perusahaan bisa lebih besar?  Bagaimana perusahaan penjamin bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan alat-alat bangunan bisa lebih besar? Bagaimana  bank bisa lebih  besar? Bagaimana notaris bisa lebih besar? Bagaimana  perusahaan penjual kloset bisa lebih besar? Padahal, doktrinnya, semua  perusahaan  harus semakin besar?</p>
<p style="text-align:justify;">Ada jalan baru.</p>
<p style="text-align:justify;">Pemerintah AS- lah yang membuat jalan baru itu. Pada1980 pemerintah bikin keputusan yang disebut &#8221;Deregulasi Kontrol Moneter&#8221;. Intinya, dalam hal kredit rumah, perusahaan real estat diperbolehkan menggunakan variabel bunga. Maksudnya: boleh mengenakan bunga tambahan dari bunga yang sudah ditetapkan secara pasti. Peraturan baru itu berlaku  dua tahun kemudian.</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah peluang besar bagi banyak sektor usaha: realestat, perbankan, asuransi, broker, underwriter, dan seterusnya. Peluang itulah yang dimanfaatkan perbankan secara nyata.</p>
<p style="text-align:justify;">Begini ceritanya:</p>
<p style="text-align:justify;">Sejak sebelum 1925, di AS sudah ada UU Mortgage.Yakni,semacam undang-undang kredit pemilikan rumah (KPR). Semua warga AS, asalkan memenuhi syarat tertentu, bisa mendapat mortgage (anggap saja seperti KPR, meski tidak sama). Misalnya, kalau gaji seseorang sudah Rp100 juta setahun, boleh ambil mortgage untuk beli rumah seharga Rp250 juta. Cicilan bulanannya ringan karena mortgage itu berjangka 30 tahun dengan bunga 6 persen setahun.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://berkahdalem.files.wordpress.com/2008/10/immediate-mortgage.jpg"><img class="size-medium wp-image-224 alignleft" style="margin:1px 3px;" title="immediate-mortgage" src="http://berkahdalem.files.wordpress.com/2008/10/immediate-mortgage.jpg?w=208&#038;h=210" alt="" width="208" height="210" /></a>Negara-negara maju, termasuk Singapura, umumnya punya UU Mortgage. Yang  terbaru adalah UU Mortgage di Dubai. Sejak itu, penjualan properti di Dubai naik 55 persen. UU Mortgage tersebut sangat ketat dalam menetapkan syarat orang yang bisa mendapat mortgage.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan keluarnya &#8221;jalan baru&#8221; pada 1980 itu, terbuka peluang untuk menaikkan bunga. Bisnis yang terkait dengan perumahan kembali hidup. Bank bisa dapat peluang bunga tambahan. Bank menjadi lebih agresif. Juga para broker dan bisnis lain yang terkait.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi, karena semua orang sudah punya rumah, tetap saja ada hambatan. Maka, ada lagi&#8221;jalan baru&#8221;yang dibuat pemerintah enam tahun kemudian. Yakni, tahun 1986. Pada 1986 itu, pemerintah menetapkan reformasi pajak. Salah satu isinya: pembeli rumah diberi keringanan pajak. Keringanan itu juga berlaku bagi pembelian rumah satu lagi. Artinya, meski sudah punya rumah, kalau mau beli rumah satu lagi, masih bisa dimasukkan dalam fasilitas itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Di negara-negara maju, sebuah keringanan pajak mendapat sambutan yang luar biasa. Di sana pajak memang sangat tinggi. Bahkan, seperti di Swedia atau Denmark, gaji seseorang dipajaki sampai 50 persen. Imbalannya, semua keperluan hidup seperti sekolah dan pengobatan gratis. Hari tua juga terjamin.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan adanya fasilitas pajak itu, gairah bisnis rumah meningkat drastis menjelang 1990. Dan terus melejit selama 12 tahun berikutnya. Kredit yang disebut mortgage yang biasanya hanya USD 150 miliar setahun langsung menjadi dua kali lipat pada tahun berikutnya. Tahun-tahun berikutnya terus meningkat lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada 2004 mencapai hampir USD 700 miliar setahun.</p>
<p style="text-align:justify;">Kata &#8221;mortgage&#8221; berasal dari istilah hukum dalam bahasa Prancis. Artinya: matinya sebuah ikrar. Itu agak berbeda dari kredit rumah. Dalam mortgage, Anda mendapat kredit. Lalu, Anda memiliki rumah. Rumah itu Anda serahkan kepada pihak yang memberi kredit. Anda boleh menempatinya selama cicilan Anda belum lunas.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena rumah itu bukan milik Anda, begitu pembayaran mortgage macet, rumah itu otomatis tidak bisa Anda tempati. Sejak awal ada ikrar bahwa itu bukan rumah Anda. Atau belum. Maka, ketika Anda tidak membayar cicilan, ikrar  itu dianggap mati. Dengan demikian, Anda harus langsung pergi dari rumah tersebut.</p>
<p>Lalu, apa hubungannya dg bangkrutnya investment banking seperti Lehman Brothers?</p>
<p style="text-align:justify;">Gairah bisnis rumah yang luar biasa pada 1990-2004 itu bukan hanya karena fasilitas pajak tersebut. Fasilitas itu telah dilihat oleh &#8221;para pelaku bisnis keuangan&#8221; sebagai peluang untuk membesarkan perusahaan dan meningkatkan laba.</p>
<p style="text-align:justify;">Warga terus dirangsang dengan berbagai iklan dan berbagai fasilitas mortgage. Jor-joran memberi kredit bertemu dengan jor-joran membeli rumah. Harga rumah dan tanah naik terus melebihi bunga bank.</p>
<p style="text-align:justify;">Akibatnya, yang pintar bukan hanya orang-orang bank, tapi juga para pemilik rumah. Yang rumahnya sudah lunas, di-mortgage- kan lagi untuk membeli rumah berikutnya. Yang belum memenuhi syarat beli rumah pun bisa mendapatkan kredit dengan harapan toh harga rumahnya terus naik. Kalau toh suatu saat ada yang tidak bisa bayar, bank masih untung. Jadi, tidak ada kata takut dalam memberi kredit rumah.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi, bank tentu punya batasan yang ketat sebagaimana diatur dalam undang-undang perbankan yang keras. Sekali lagi, bagi orang bisnis, selalu ada jalan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Jalan baru itu adalah ini: bank bisa bekerja sama dengan &#8221;bank jenis lain&#8221; yang disebut<br />
investment banking.
</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah investment banking itu,bank? Bukan. Ia perusahaan keuangan yang &#8221;hanya mirip&#8221; bank. Ia lebih bebas daripada bank. Ia tidak terikat peraturan bank. Bisa berbuat banyak hal: menerima macam-macam &#8221;deposito&#8221; dari para pemilik uang, meminjamkan uang, meminjam uang, membeli perusahaan, membeli saham, menjadi penjamin, membeli rumah, menjual rumah, private placeman, dan apa pun yang orang bisa lakukan. Bahkan, bisa melakukan apa yang orang tidak pernah memikirkan ! Lehman Brothers,Bear Stern, dan banyak lagi adalah jenis investment banking itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan kebebasannya tersebut, ia bisa lebih agresif. Bisa memberi pinjaman tanpa ketentuan pembatasan apa pun. Bisa membeli perusahaan dan menjualnya kapan saja. Kalau uangnya tidak cukup, ia bisa pinjam kepada siapa saja: kepada bank lain atau kepada sesama investment banking. Atau, juga kepada orang-orang kaya yang punya banyak uang dengan istilah &#8221;personal banking&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya sering kedatangan orang dari investment banking seperti itu yang menawarkan banyak fasilitas. Kalau saya mau menempatkan dana di sana, saya dapat bunga lebih baik dengan hitungan yang rumit. Biasanya saya tidak sanggup mengikuti hitung-hitungan yang canggih itu. Saya orang yang berpikiran sederhana. Biasanya tamu-tamu seperti itu saya serahkan ke Dirut Jawa Pos Wenny Ratna Dewi. Yang kalau menghitung angka lebih cepat dari kalkulator. Kini saya tahu, pada dasarnya dia tidak menawarkan fasilitas, tapi cari pinjaman untuk memutar cash-flow.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Begitu agresifnya para investment banking itu, sehingga kalau dulu hanya orang yang memenuhi syarat (prime) yang bisa dapat mortgage, yang kurang memenuhi syarat pun (sub-prime)<br />
dirangsang untuk minta mortgage.
</p>
<p style="text-align:justify;">Di AS, setiap orang punya rating. Tinggi rendahnya rating ditentukan oleh besar kecilnya penghasilan dan boros-tidaknya gaya hidup seseorang. Orang yang disebut prime adalah yang ratingnya 600 ke atas. Setiap tahun orang bisa memperkirakan sendiri, ratingnya naik atau turun..Kalau sudah mencapai 600, dia sudah boleh bercita-cita punya rumah lewat mortgage. Kalau belum 600, dia harus berusaha mencapai 600. Bisa dengan terus bekerja keras agar gajinya naik atau terus melakukan penghematan pengeluaran.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://berkahdalem.files.wordpress.com/2008/10/houseonmanbyitulip.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-223" style="margin-left:2px;margin-right:2px;" title="houseonmanbyitulip" src="http://berkahdalem.files.wordpress.com/2008/10/houseonmanbyitulip.jpg?w=240&#038;h=160" alt="" width="240" height="160" /></a>Tapi, karena perusahaan harus semakin besar dan laba harus kian tinggi, pasar pun digelembungkan. Orang yang ratingnya baru 500 sudah ditawari mortgage.Toh kalau gagal bayar, rumah itu bisa disita.<br />
Setelah disita, bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi dari nilai pinjaman. Tidak pernah dipikirkan jangka panjangnya. Jangka panjang itu ternyata tidak terlalu panjang. Dalam waktu kurang dari 10 tahun, kegagalan bayar mortgage langsung melejit. Rumah yang disita sangat banyak. Rumah yang dijual kian bertambah. Kian banyak orang yang jual rumah, kian turun harganya. Kian turun harga, berarti nilai jaminan rumah itu kian tidak cocok dengan nilai pinjaman. Itu berarti kian banyak yang gagal bayar.
</p>
<p style="text-align:justify;">Bank atau investment banking yang memberi pinjaman telah pula menjaminkan rumah-rumah itu kepada bank atau investment banking yang lain. Yang lain itu menjaminkan ke yang lain lagi. Yang lain lagi itu menjaminkan ke yang beriktunya lagi. Satu ambruk, membuat yang lain ambruk. Seperti kartu domino yang didirikan berjajar. Satu roboh menimpa kartu lain. Roboh semua.</p>
<p style="text-align:justify;">Berapa ratus ribu atau juta rumah yang termasuk dalam mortgage itu? Belum ada data. Yang ada baru nilai uangnya. Kira-kira mencapai 5 triliun dolar.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, kalau Presiden Bush merencanakan menyuntik dana APBN USD 700 miliar, memang perlu dipertanyakan: kalau ternyata dana itu tidak menyelesaikan masalah, apa harus menambah USD 700 miliar lagi? Lalu, USD 700 miliar lagi?</p>
<p style="text-align:justify;">Itulah yang ditanyakan anggota DPR AS sekarang, sehingga belum mau menyetujui rencana pemerintah tersebut. Padahal, jumlah suntikan sebanyak USD 700 miliar itu sudah sama dengan pendapatan seluruh bangsa dan negara Indonesia dijadikan satu.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, kita masih harus menunggu apa yang akan dilakukan pemerintah dan rakyat AS. Kita juga masih menunggu data berapa banyak perusahaan dan orang Indonesia yang &#8221;menabung&#8221; -kan uangnya di lembaga-lembaga investment banking yang kini lagi pada kesulitan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebesar tabungan itulah Indonesia akan terseret ke dalamnya. Rasanya tidak banyak, sehingga pengaruhnya tidak akan sebesar pengaruhnya pada Singapura, Hongkong, atau Tiongkok.</p>
<p style="text-align:justify;">Singapura dan Hongkong terpengaruh besar karena dua negara itu menjadi salah satu pusat beroperasinya raksasa-raksasa keuangan dunia. Sedangkan Tiongkok akan terpengaruh karena daya beli rakyat AS akan sangat menurun, yang berarti banyak barang buatan Tiongkok yang tidak bisa dikirim secara besar-besaran ke sana.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita, setidaknya, masih bisa menanam jagung.(*)</p>
<br />Posted in HORISON Tagged: AS, CEO, dummies, krisis keuangan, lehman brothers, mortgage <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/berkahdalem.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/berkahdalem.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/berkahdalem.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/berkahdalem.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/berkahdalem.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/berkahdalem.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/berkahdalem.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/berkahdalem.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/berkahdalem.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/berkahdalem.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/berkahdalem.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/berkahdalem.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/berkahdalem.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/berkahdalem.wordpress.com/217/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=berkahdalem.wordpress.com&amp;blog=4682063&amp;post=217&amp;subd=berkahdalem&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berkahdalem.wordpress.com/2008/10/14/krisis-subprime-di-as-kalau-langit-masih-kurang-tinggi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fabfb5175b394f9acd2708f9fa7a397d?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">susiloari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://berkahdalem.files.wordpress.com/2008/10/fuld_lgl.jpg?w=200" medium="image">
			<media:title type="html">fuld_lgl</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://berkahdalem.files.wordpress.com/2008/10/immediate-mortgage.jpg?w=297" medium="image">
			<media:title type="html">immediate-mortgage</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://berkahdalem.files.wordpress.com/2008/10/houseonmanbyitulip.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">houseonmanbyitulip</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Injil Minggu Biasa XXIX/A 19 Oktober 2008 (Mat 22:15-21)</title>
		<link>http://berkahdalem.wordpress.com/2008/10/14/injil-minggu-biasa-xxixa-19-oktober-2008-mat-2215-21/</link>
		<comments>http://berkahdalem.wordpress.com/2008/10/14/injil-minggu-biasa-xxixa-19-oktober-2008-mat-2215-21/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Oct 2008 14:20:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>susiloari</dc:creator>
				<category><![CDATA[JENDELA ALKITAB]]></category>
		<category><![CDATA[KATOLISITAS]]></category>
		<category><![CDATA[A.Gianto SJ]]></category>
		<category><![CDATA[alkitab]]></category>
		<category><![CDATA[bayar pajak]]></category>
		<category><![CDATA[Injil]]></category>
		<category><![CDATA[jendela]]></category>
		<category><![CDATA[kaisar]]></category>
		<category><![CDATA[yesus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berkahdalem.wordpress.com/?p=210</guid>
		<description><![CDATA[MEMBAYAR PAJAK KEPADA KAISAR Satu ketika Yesus dimintai pendapat tentang membayar pajak kepada Kaisar: apakah hal ini diperbolehkan (Mat 22:15-21). Bila mengatakan boleh maka ia akan menyalahi rasa kebangsaan. Tetapi bila mengatakan tidak, ia pun akan berhadapan dengan penguasa Romawi yang waktu itu mengatur negeri orang Yahudi. Para pengikut Yesus kerap dihadapkan ke masalah seperti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=berkahdalem.wordpress.com&amp;blog=4682063&amp;post=210&amp;subd=berkahdalem&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>MEMBAYAR PAJAK KEPADA KAISAR</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Satu ketika Yesus dimintai pendapat tentang membayar pajak kepada Kaisar: apakah hal ini diperbolehkan (Mat 22:15-21). Bila mengatakan boleh maka ia akan menyalahi rasa kebangsaan. Tetapi bila mengatakan tidak, ia pun akan berhadapan dengan penguasa Romawi yang waktu itu mengatur negeri orang Yahudi.  Para pengikut Yesus kerap dihadapkan ke masalah seperti itu. Ada dua macam rumusan. Yang pertama terlalu menyederhanakan perkaranya, dan bisanya berbunyi demikian: &#8220;Bolehkah mengakui dan hidup menurut kelembagaan duniawi?&#8221; Gagasan ini kurang membantu. Kalau bilang &#8220;ya&#8221; maka bisa dipersoalkan, lho kan orang beriman mesti hidup dari dan bagi Kerajaan Surga seutuhnya. Kalau bilang &#8220;tidak&#8221;, apa maksudnya akan mengadakan pemerintahan ilahi di muka bumi? Pertanyaan ini sama dengan jerat yang diungkapkan murid-murid kaum Farisi. Untunglah, ada pertanyaan yang lebih cocok dengan inti Injil hari ini: Bagaimana Yesus sang pembawa warta Kerajaan Surga melihat kehidupan di dunia ini? Ia memakai pendekatan frontal? Atau pendekatan kerja sama? Apa yang dapat dipetik dari cara pandangnya?</p>
<p style="text-align:justify;">SEBUAH DISKUSI</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut kebiasaan kaum terpelajar Yahudi waktu itu, dalam menanggapi pertanyaan yang membawa ke soal yang makin rumit, orang berhak mengajukan sebuah pertanyaan guna menjernihkan perkaranya terlebih dahulu. Lihat misalnya pertanyaan dalam Mat 21:23-25 mengenai asal kuasa Yesus. Dalam perbincangan mengenai boleh tidaknya membayar pajak kepada Kaisar, Yesus mengajak lawan bicaranya memasuki persoalan yang sesungguhnya. Ia meminta mereka menunjukkan mata uang pembayar pajak dan bertanya gambar siapa tertera di situ. Mereka tidak dapat menyangkal itu gambar Kaisar. Yesus pun menyudahi pembicaraan dengan mengatakan, &#8220;Berikanlah kepada Kaisar yang wajib kalian berikan kepada Kaisar dan kepada Allah yang wajib kalian berikan kepada Allah!&#8221; Dengan jawaban ini ia membuat mereka memikirkan sikap mereka sendiri baik terhadap &#8220;urusan kaisar&#8221; maupun keprihatinan mereka mengenai &#8220;urusan Allah&#8221; dan sekaligus menghindari jerat yang dipasang lawan-lawannya. Bagaimana penjelasannya?</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://berkahdalem.files.wordpress.com/2008/10/coin.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-213" style="margin-left:1px;margin-right:3px;" title="coin" src="http://berkahdalem.files.wordpress.com/2008/10/coin.jpg?w=194&#038;h=172" alt="" width="194" height="172" /></a>Kaum Farisi memang bermaksud menjerat Yesus. Mereka menyuruh murid-murid mereka datang kepadanya bersama dengan para pendukung Herodes. Kedua kelompok ini sebetulnya memiliki pandangan yang bertolak belakang. Orang-orang Farisi secara prinsip tidak mengakui hak pemerintah Romawi memungut pajak yang dikenal sebagai pajak &#8220;kensos&#8221;, yakni pajak bagi penduduk, praktisnya sama dengan pajak hak milik tanah. Inilah pajak yang dibicarakan dalam petikan ini. Tidak dibicarakan pajak pendapatan. Mereka yang warga Romawi tidak dikenai pajak penduduk, tapi mereka diwajibkan membayar pajak pendapatan kepada pemerintah. Orang Yahudi yang bukan warga Romawi diharuskan membayar pajak penduduk. Maklumlah, seluruh negeri telah diserap ke dalam kedaulatan Romawi. Pemerintah Romawi tidak memungut pajak pendapatan orang Yahudi bukan warga Romawi. Tapi aturan agama juga mewajibkan mereka membayar pajak pendapatan dan hasil bumi yang dikenal dengan nama &#8220;persepuluhan&#8221; kepada lembaga agama. Disebut pajak Bait Allah. Kepengurusan Bait Allah akan mengatur pemakaian dana tadi bagi pemeliharaan tempat ibadat, menghidupi yatim piatu, janda, kaum terlantar serta keperluan sosial lain. Jadi orang Yahudi yang memiliki tanah dan berpendapatan dipajak dua kali.</p>
<p style="text-align:justify;">MASALAH PAJAK?</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi orang Farisi, membayar pajak penduduk berarti mengakui kekuasaan Romawi atas tanah suci. Padahal dalam keyakinan mereka, tanah itu milik turun temurun yang diberikan Allah, dan tak boleh diganggu gugat, apalagi dipajak. Maka pungutan pajak penduduk dirasakan sebagai perkara yang amat melawan ajaran agama leluhur. Para penarik pajak yang orang Yahudi dipandang sebagai kaum murtad dan melawan inti keyahudian sendiri. Mereka itu dianggap pendosa, sama seperti perempuan yang tidak setia.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana sikap para pendukung Herodes? Yang dimaksud ialah Herodes Antipas, penguasa wilayah Galilea di bagian utara tanah suci. Pemerintah Romawi meresmikannya sebagai penguasa &#8220;pribumi&#8221; dan memberi wewenang dalam urusan sipil dan militer di wilayahnya. Tetapi di Yerusalem dan Yudea wewenang dipegang langsung oleh perwakilan Romawi, waktu itu Ponsius Pilatus. Herodes mengikuti politik Romawi dan merasa berhak menarik pajak penduduk di wilayahnya. Mereka yang disebut kaum pendukung Herodes dalam Mat 21:16 itu sebetulnya bukan mereka yang tinggal di Galilea, melainkan orang Yerusalem dan Yudea pada umumnya yang menginginkan otonomi &#8220;pribumi&#8221; seperti Herodes di utara. Mereka memperjuangkan pajak penduduk &#8211; pajak yang dibicarakan dalam petikan ini &#8211; tetapi bukan bagi pemerintah Romawi, melainkan bagi kas kegiatan politik mereka di Yudea dan Yerusalem. Jadi mereka berbeda paham dengan orang Farisi yang menganggap penarikan pajak penduduk dalam bentuk apa saja oleh siapa saja tidak sah dan melawan ajaran agama.</p>
<p style="text-align:justify;">Bila Yesus menyetujui pembayaran pajak penduduk yang diklaim penguasa Romawi, ia akan berhadapan dengan mereka yang bersikap nasionalis dan akan dianggap meremehkan pandangan teologis bahwa tanah suci ialah hak yang langsung diberikan oleh Allah. Dan orang Farisi bisa memakainya untuk mengobarkan rasa tidak suka kepada Yesus. Tetapi bila ia mengatakan jangan, maka ia akan bermusuhan dengan para pendukung Herodes yang dibawa serta orang Farisi dan sekaligus melawan politik Romawi. Jawaban apapun akan membuat Yesus mendapat lawan-lawan baru. Memang itulah yang diinginkan oleh orang Farisi.</p>
<p style="text-align:justify;">PEMECAHAN</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika mengatakan berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib diberikan kepada Kaisar sebetulnya Yesus mengajak lawan bicaranya memikirkan keadaan mereka sendiri, yakni dibawahkan pada kuasa Romawi. Jelas kaum Farisi dan para pendukung Herodes hendak menyangkalnya, tapi dengan alasan yang berbeda. Kaum Farisi menolak dengan alasan agama, sedangkan kaum pendukung dengan alasan kepentingan politik mereka sendiri. Di sini ada titik temu dengan permasalahan yang kadang-kadang dihadapi para pengikut Yesus di manapun juga seperti disebut pada awal ulasan ini. Bukan dalam arti mengidentifikasi diri dengan pilihan orang-orang yang datang membawa masalah, melainkan belajar dari sikap Yesus dalam menghadapi persoalan tadi. Dengan mengatakan bahwa patutlah diberikan kepada Allah yang wajib diberikan kepadaNya, Yesus hendak menekankan perlunya integritas batin. Bila kehidupan agama mereka utamakan, hendaklah mereka menjalankannya dengan lurus. Bila mau jujur, mereka mau tak mau akan memeriksa diri adakah mereka sungguh percaya atau sebetulnya mereka menomorsatukan kepentingan sendiri dengan memperalat agama.</p>
<p style="text-align:justify;">Yesus juga membuat mereka yang datang kepadanya berpikir apakah ada pilihan lain selain memberikan kepada Kaisar yang menjadi haknya. Bila ya, coba mana? Ternyata keadaan mereka tak memungkinkan. Mereka tidak mencoba menemukan kemungkinan yang lain. Mereka telah menerima status quo dan tidak mengusahakan perbaikan kecuali dengan mengubahnya menjadi soal teologi. Padahal masalahnya terletak dalam kehidupan sehari-hari. Iman dan hukum agama mereka pakai sebagai dalih dan sebenarnya mereka permiskin. Yesus tidak mengikuti pemikiran yang sempit ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada akhir petikan disebutkan mereka &#8220;heran&#8221; mendengar jawaban tadi. Dalam dunia Perjanjian Lama, para musuh umat tak bisa berbuat banyak karena Allah sendiri melindungi umatNya dengan tindakan-tindakan ajaib. Para lawan itu tak berdaya dan bungkam mengakui kebesaranNya. Inilah makna &#8220;heran&#8221; tadi. Mereka kini terdiam mengakui kebijaksanaan Yesus dan mundur. Seperti penggoda di padang gurun yang terdiam dan mundur meninggalkannya.</p>
<p style="text-align:justify;">KOMUNITAS ORANG YANG PERCAYA</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika merumuskan pertanyaan mereka (Mat 21:16), murid-murid orang Farisi terlebih dahulu menyebut Yesus sebagai &#8220;orang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan tidak takut kepada siapa pun juga, sebab tidak mencari muka.&#8221; Dalam bahasa sekarang, Yesus itu dikenal sebagai orang yang punya prinsip serta hidup sesuai dengan prinsip tadi secara transparan . Bukannya demi meraih keuntungan dan menjaga kedudukan. Orang yang mencobainya sebetulnya sudah melihat arah pemecahan masalah, yakni sikapnya yang terarah pada kepentingan Allah. Pembicaraan selanjutnya menunjukkan bahwa sikap itu bukan sikap menutup diri terhadap urusan duniawi dan memusuhinya. Malah hidup dengan urusan duniawi itu juga menjadi cara untuk membuat kehidupan rohani lebih berarti. Itulah kebijaksanaan Yesus. Itulah yang dapat dikaji dan diikuti para pengikutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Gagasan pokok yang ditampilkan dalam petikan di atas dapat menjadi arahan bagi Gereja. Apakah Gereja sebagai lembaga rohani yang ada di muka bumi ini menemukan perannya juga? Sebagai kelompok masyarakat agama, Gereja diharapkan dapat berdialog dengan kenyataan yang berubah-ubah dalam masyarakat luas tanpa memaksa-maksakan posisi dan pilihan-pilihan sendiri. Pada saat yang sama disadari juga betapa pentingnya menjalankan perutusannya sebagai komunitas orang-orang yang mau menghadirkan Allah, yang memungkinkan urusanNya berjalan sebaik-baiknya di bumi ini. Petikan di atas mengajak orang menumbuhkan kebijaksanaan hidup dan menepati perutusan tadi.</p>
<p style="text-align:justify;">Salam,<br />
A. Gianto</p>
<br />Posted in JENDELA ALKITAB, KATOLISITAS Tagged: A.Gianto SJ, alkitab, bayar pajak, Injil, jendela, kaisar, yesus <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/berkahdalem.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/berkahdalem.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/berkahdalem.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/berkahdalem.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/berkahdalem.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/berkahdalem.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/berkahdalem.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/berkahdalem.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/berkahdalem.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/berkahdalem.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/berkahdalem.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/berkahdalem.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/berkahdalem.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/berkahdalem.wordpress.com/210/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=berkahdalem.wordpress.com&amp;blog=4682063&amp;post=210&amp;subd=berkahdalem&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berkahdalem.wordpress.com/2008/10/14/injil-minggu-biasa-xxixa-19-oktober-2008-mat-2215-21/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fabfb5175b394f9acd2708f9fa7a397d?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">susiloari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://berkahdalem.files.wordpress.com/2008/10/coin.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">coin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KUATIRAN</title>
		<link>http://berkahdalem.wordpress.com/2008/10/07/kuatiran/</link>
		<comments>http://berkahdalem.wordpress.com/2008/10/07/kuatiran/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 17:18:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>susiloari</dc:creator>
				<category><![CDATA[MEA VITA]]></category>
		<category><![CDATA[gethuk]]></category>
		<category><![CDATA[jadah]]></category>
		<category><![CDATA[kuatir]]></category>
		<category><![CDATA[magelang]]></category>
		<category><![CDATA[pasar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berkahdalem.wordpress.com/?p=189</guid>
		<description><![CDATA[(Ini tulisan istriku. Tambah pinter nulis, dia&#8230;.hehe istri siapa to? &#8211; Berkah Dalem) Saya, orangnya kuatiran sekali. Dari jaman muda dulu sampai sekarang sudah punya dua orang anak. Ada sisi positifnya juga, sih. Contohnya, saking kuatirnya ada barang yang dibutuhkan di jalan, kalau pergi dengan anak-anak, banyak sekali barang yang saya bawa. Bahkan barang yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=berkahdalem.wordpress.com&amp;blog=4682063&amp;post=189&amp;subd=berkahdalem&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>(Ini tulisan istriku. Tambah pinter nulis, dia&#8230;.hehe istri siapa to? &#8211; Berkah Dalem)</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Saya, orangnya kuatiran sekali. Dari jaman muda dulu sampai sekarang sudah punya dua orang anak. Ada sisi positifnya juga, sih. Contohnya, saking kuatirnya ada barang yang dibutuhkan di jalan, kalau pergi dengan anak-anak, banyak sekali barang yang saya bawa. Bahkan barang yang aneh dan tidak terpikir oleh orang lain: gunting kecil, kertas, vitamin c, sampai jamu tolak angin… Sangu baju dan makanan jangan ditanya lagi. Banyak dan macam macam jenisnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Itu baru dalam hal bepergian. Dalam keseharian pun juga begitu. Saya sering kuatir dengan banyak hal. Yang utama sih kalau warung saya sepi. Yang kepikiran bagaimana menggaji para karyawan, bagaimana membayar spp anak anak, bagaimana nanti kalau ada kebutuhan mendesak. Walaupun saya inget, burung pipit dan bunga di padang saja dipelihara olehNya. Tapi saya tetap kuatir.<br />
<!--[if !supportLineBreakNewLine]--><br />
<!--[endif]--></span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Bapaknya anak anak lebih ‘santai’. “Tenang saja to bu, namanya juga baru sepi. Sabar saja nanti sore atau besok pagi mesti rame lagi,” begitu katanya dengan nada tenang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Suatu hari, kami bertiga, saya, suami <span> </span>dan si kecil, mengantar si besar kembali ke sekolahnya di luar kota. Magelang tepatnya. Sengaja kami berangkat pagi-pagi karena takut jalanan macet. Sampai di Magelang hari masih siang. Kembali ke kebumen? Sepertinya sayang. Akhirnya kami memutuskan untuk jalan-jalan ke pasar Rejowinangun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Saya sebenarnya agak bingung juga. Mau apa saya di pasar? Saya tidak pernah masuk pasar. Dulu Jaman saya kecil sih iya. Dulu saya sering ikut ibu ke pasar. Menurut gambaran saya, belanja di pasar tidak menyenangkan. Mau beli barang saja harus menawar dulu, bahkan saya sering dengar ada nada-nad</span><span style="font-family:&quot;">a tinggi dalam proses tawar menawar.</span><a href="http://berkahdalem.files.wordpress.com/2008/10/foto-pasar.jpg"><img class="size-full wp-image-191 alignright" title="foto-pasar" src="http://berkahdalem.files.wordpress.com/2008/10/foto-pasar.jpg" alt="" width="320" height="240" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">“Bu, sendale pira kiye?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">“Selawe.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">“Sepuluh ewu bae ya? Olih?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">“Mbak, nawar kok kayak nggone mbahe dewek.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">“Kene, rong puluh wis pas.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">“Lah, limolas. Olih tak tuku. Olih apa ora?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">“Ra, durung bisa mbak, tukune be ora olih semeno.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Begitulah …..walaupun tidak sama persis. Tapi dalam gambaran saya pasar jadi tempat yang kurang menyenangkan. Wong mau beli saja susah. Nanti kalau barang sudah terbeli dengan usaha menawar setengah mati, masih saja kuatir.<span> </span>Jangan-jangan masih kemahalan harganya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Tapi ternyata, di Rejowinangun saya tergoda juga untuk beli-beli. Gethuk singkong dua bungkus seharga masing-masing lima ribu rupiah. Tahu seharga sepuluh ribu rupiah. Dan sebungkus slondok seharga sepuluh ribu. Semua saya beli tanpa menawar sedikitpun. Menurut saya cukup murah. Dan yang jelas, ndak tega saya. Bayangkan. Tahu sepuluh ribu mendapat tiga belas potong besar-besar. Mau ditawar berapa lagi?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Tapi, ada satu yang membuat saya sungguh tertarik. Di sebuah sudut ada penjual jadah bakar. Tadinya dari kejauhan saya heran, ada asap tipis apa itu. Ternyata si mbak sedang membakar jadah. Wih potongannya besar-besar. Kalau ndak inget sudah jajan banyak, saya ingin membeli. Baunya sedap. Benar benar mengundang selera.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Saya agak ragu-ragu. Beli? Tidak? Beli? Tidak? Cukup lama saya di situ sambil menimbang-nimbang. Tiba-tiba saya sadar, dari tadi belum ada yang membeli jadah. Tapi si mbak dengan santainya terus membakar. Dia serius tanpa melihat atau berusaha menawarkan dagangannya ke orang lewat. Ditambahnya lagi jadah di atas bakaran. Bul…… Asap tipis mengepul.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Saya heran juga. Optimis juga si mbak ini. Lha kalau sampai nanti tidak ada yang membeli, terus jadah sebanyak itu mau diapakan? Kenapa kok membakarnya tidak nanti saja, kalau ada yang mau beli saja?<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Sampai di mobil, hal itu jadi bahan obrolan buat saya dan suami. Menurut saya hal itu aneh. Tapi menurut suami tidak. Berarti si mbak tadi optimis dagangannya bakal laku. Mungkin pagi belum, mungkin siang. Nanti kalau siang belum laris juga, mungkin sore. Begitu kata suami saya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Wah, saya jadi malu. Orang seperti si mbak jadah saja yakin pada rejekinya. Yakin pada belas kasihan Tuhan. Yakin bakal ada rejeki untuk dia dan keluarganya hari itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Sudah ada rejeki untuk hari ini pun, saya masih kuatir untuk yang besok. Apa besok laris seperti hari ini? Apalagi kalau sepi. Wih, bingungnya pol. Kadang saya sampai tergoda untuk melakukan hal yang tidak baik, hal yang tidak semestinya. Apa saya harus seperti banyak warung lain, memberi nota kosong? Atau mengutak atik angka di nota? Atau apa saja, menghalalkan segala cara agar pembeli mau ke warung saya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Hari itu saya belajar banyak dari SEORANG PENJUAL JADAH BAKAR.<span> </span>Saya tidak tahu namanya. Saya tiadak tahu apa agamanya. Bahkan wajahnya pun saya sudah lupa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Terima kasih mbak…. Saya janji kalau besok saya ke pasar itu lagi, saya akan borong jadah bakarmu. Akan saya bagi bagikan ke teman-teman. Dan saya katakan ini ada oleh-oleh sedikit. Dibeli dengan rejeki dari Bapa… </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Salam</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Laurensia</span></p>
<br />Posted in MEA VITA Tagged: gethuk, jadah, kuatir, magelang, pasar <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/berkahdalem.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/berkahdalem.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/berkahdalem.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/berkahdalem.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/berkahdalem.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/berkahdalem.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/berkahdalem.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/berkahdalem.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/berkahdalem.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/berkahdalem.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/berkahdalem.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/berkahdalem.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/berkahdalem.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/berkahdalem.wordpress.com/189/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=berkahdalem.wordpress.com&amp;blog=4682063&amp;post=189&amp;subd=berkahdalem&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berkahdalem.wordpress.com/2008/10/07/kuatiran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fabfb5175b394f9acd2708f9fa7a397d?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">susiloari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://berkahdalem.files.wordpress.com/2008/10/foto-pasar.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">foto-pasar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Matahari Yongki Simbok Gethuk</title>
		<link>http://berkahdalem.wordpress.com/2008/09/28/matahari-yongki-simbok-gethuk/</link>
		<comments>http://berkahdalem.wordpress.com/2008/09/28/matahari-yongki-simbok-gethuk/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Sep 2008 06:46:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>susiloari</dc:creator>
				<category><![CDATA[MEA VITA]]></category>
		<category><![CDATA[gethuk]]></category>
		<category><![CDATA[life]]></category>
		<category><![CDATA[magelang]]></category>
		<category><![CDATA[simbok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berkahdalem.wordpress.com/?p=180</guid>
		<description><![CDATA[Minggu 28 September 2008 Jam 7 pagi aku mancal APV-ku ke Mertoyudan Magelang mau njemput pulang anakku dari Seminari. Dia dapat libur lebaran. Kabar terakhir yang kuterima dia pulang habis siang. Biasanya sih (dulu) habis makan siang. So, sekitar jam 1 siang. Berhubung takut kena macet arus mudik, aku memutuskan untuk nggasikki. Rupanya jalan gak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=berkahdalem.wordpress.com&amp;blog=4682063&amp;post=180&amp;subd=berkahdalem&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Minggu 28 September 2008 Jam 7 pagi aku <em>mancal </em>APV-ku ke Mertoyudan Magelang mau njemput pulang anakku dari Seminari. Dia dapat libur lebaran. Kabar terakhir yang kuterima dia pulang habis siang. Biasanya sih (dulu) habis makan siang. So, sekitar jam 1 siang. Berhubung takut kena macet arus mudik, aku memutuskan untuk <em>nggasikki</em>.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Rupanya jalan gak macet sama sekali, meskipun rame, sehingga aku bisa nyampe Mertoyudan jam 10 kurang. Eh, blaik! Ternyata anak-anak seminaris baru bisa pulang setelah jam 2.30. Begitu kata mas-mas yang jaga di ruang tamu. Lama dong nunggunya&#8230;.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Daripada bengong di tempat, aku putuskan untuk memantau (cie&#8230;) suasana menjelang lebaran di pusat kota Magelang. Resikonya emamng kena macet.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Benar saja. Jalanan di seputar alun-alun dan jalan pemuda penuh kendaraan. Orang-orang lalu-lalang. Pinggir jalan <em>full</em> parkir mobil. Aku sendiri akhirnya memarkir grobak jepangku di sisi barat alun-alun. Setelah bengong sebentar, akhirnya aku putuskan untuk jalan kaki nyebrang alun-alun ke arah Matahari Dept. Store.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Wuih&#8230;pada belanja, <em>cing! </em>Aku juga sok sibuk lihat-lihat barang. Pertama sepatu sama sandal. Hehe&#8230; Diskon 50%! Iya sih, kelihatannya murah. Tapi setelah ngelongok label harganya. Wits&#8230;kok kayaknya dinaikkan dulu dari harga wajar kalau nggak diskon. Sandal buatan Oom Yongki Komaladi yang biasa dijual di harga <em>cepek-an</em> berubah jadi Rp 199.900,-. Ya, <em>sami wawon</em>. <em>Opok. Ndoboz</em>.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Browsing aku lanjutkan ke lantai 2 dengan sedikit males gara-gara harga sulapan tadi. Sampai di lantai 2, aku melihat daerah mainan anak. Cling! Aku jadi ingat kalau anakku yang kecil. Belum lama ini dia <em>pengin</em> banget mainan papan yang bisa ditulis, yang tulisannya jadi hilang kalau alat penggesernya yang ada di papan itu digeser dari ujung yang satu ke ujung yang lain. <em>Embuh </em>apa namanya. Papan ajaib, <em>mbok</em>?</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Aku beli satu. Harganya Rp 35.000. Didiskon jadi Rp 28.000-an.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Browsing-browsing sebentar, lalu keluar dari Matahari. Jalan lagi nyebrang alun-alaun ke arah parkiran mobil. Sentuuuupp! Bau kuah bakso masuk hidung. Mampirlah aku mbakso dulu. Clak, clak,clak! Di trotoar dekat mobilku parkir ibu-ibu penjual kelapa muda sedang beraksi mengayunkan bendo-nya. Ayunan pisau besar itu seperti lambaian tangan di mataku: mampir mas! OK! Aku lalu ndegan. Tentu setelah baksonya habis. Slurrpp!</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Aku nengok jam tangan. Masih lama. Ngapaian lagi, ya?</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">APV aku pancal menyusuri jalan pemuda, terus ke selatan melewati pasar&#8230; Pasar! Aku mau ke pasar! Setelah <em>celingak-celinguk</em>, akhirnya dapat tempat parkir. Nyebrang jalan sebentar, mulailah episode browsing baru. Mas Ari <em>tindak</em> pasar&#8230;&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Wualah, ramenya. Jalan di trotoar sambil <em>senggal-senggol</em> (nggak sengaja lho!). Macem-macem yang dijual. Ada sate yang bergelut dalam panci kupingan bersama <em>ndas pitik</em>, nanas-nanas yang sedang dikuliti oleh seorang ibu dengan muka tanpa ekspresi, gethuk magelang merah-hijau-coklat-putih, bunga hias-bunga tabur, tahu ayu-ayu, tempe <em>ngawe-awe</em>, sandal jepit, pisau, ember, tali jemuran. Komplit!</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Di satu sisi trotoar ada 3 orang simbok-simbok duduk bersimpuh di belakang dagangannya: bunga tabur tiga kranjang kecil dan gula aren satu kranjang kecil. Orang-orang lalu lalang saja. Nggak ada yang beli. Aku perhatikan simbok ini. Mukanya kelihatan capek. Mungkin capek karena sudah memulai aktifitas bisnisnya sedari pagi buta. Mungkin juga karena dari pagi belum laku daganannya. <em>I know it</em>. Karena aku juga jualan.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Lalu lewatlah sepasang suami-istri <em>ndeso</em> bersama anaknya yang masih kecil. Rupanya mereka saling kenal. Maka meluncurlah percakapan dan sapaan bla-bla-bla.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Wah, tindak sekalian niki&#8230;”</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Nggih, mbokde. Niki pados srandal-e thole”</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Lebaran nganyari srandal yo le&#8230;?”</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Anak kecil yang ditanya itu cuma mesam-mesem sambil sentrap-sentrup nyedot umbel.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Pinarak, monggo&#8230;.”</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Sampun, mbokde&#8230;selak siang&#8230;”</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Muka simbok itu jadi berseri-seri. Mukaku juga ketularan berseri-seri. Entah kenapa aku menikmati pemandangan itu tadi. Mungkin karena aku menangkap perubahan suasana dari lesu menjadi riang di muka simbok itu. Padahal dagangan tetap nggak laku. Mungkin juga kau geli mendengar simbok itu menarwarkan sepasang suami istri yang sedang lewat itu untuk <em>pinarak</em>, mampir. Mampir? Mampir di trotoar? Orang kan umumnya <em>ngampirke</em> orang lain di rumah. Lha ini kok di trotoar. Apa <em>saking </em>menghayati hidup bisnisnya sehingga simbok itu menyamakan level trotoar dengan rumahnya?</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Aku segera berlalu. Takut jadi melow&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Sebelum meninggalkan kawasan pasar itu, aku sempatkan beli gethuk dan wajik buat oleh-oleh. Lalu aku meluncur ke selatan, ke Mertoyudan. Jam12.30. Ah, masih 2 jam lagi.</p>
<br />Posted in MEA VITA Tagged: gethuk, life, magelang, simbok <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/berkahdalem.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/berkahdalem.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/berkahdalem.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/berkahdalem.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/berkahdalem.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/berkahdalem.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/berkahdalem.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/berkahdalem.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/berkahdalem.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/berkahdalem.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/berkahdalem.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/berkahdalem.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/berkahdalem.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/berkahdalem.wordpress.com/180/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=berkahdalem.wordpress.com&amp;blog=4682063&amp;post=180&amp;subd=berkahdalem&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berkahdalem.wordpress.com/2008/09/28/matahari-yongki-simbok-gethuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fabfb5175b394f9acd2708f9fa7a397d?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">susiloari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jawa Kreatif aka Java Creative</title>
		<link>http://berkahdalem.wordpress.com/2008/09/26/jawa-kreatif-aka-java-creative/</link>
		<comments>http://berkahdalem.wordpress.com/2008/09/26/jawa-kreatif-aka-java-creative/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 15:38:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>susiloari</dc:creator>
				<category><![CDATA[CERITA]]></category>
		<category><![CDATA[HUMOR]]></category>
		<category><![CDATA[barlingmascakeb]]></category>
		<category><![CDATA[creative]]></category>
		<category><![CDATA[humor]]></category>
		<category><![CDATA[java]]></category>
		<category><![CDATA[jawa]]></category>
		<category><![CDATA[joglosemar]]></category>
		<category><![CDATA[kreatif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berkahdalem.wordpress.com/2008/09/26/jawa-kreatif-aka-java-creative/</guid>
		<description><![CDATA[Ini kiriman, tepatnya forward-an dari Romo Slamet Lasmunadi Pr. Mbuh asalnya dari mana. Silakan dinikmati. Berkah Dalem. (Jawa Mode On – Please fasten your seatbelt) Selain lembaga pemerintahan, kebiasaan singkat menyingkat juga berlaku untuk tag line suatu daerah. Solo Berseri, Jogja Berhati Nyaman, Temanggung Bersenyum, Cilacap Bercahaya, semuanya adalah singkatan. Juga untuk menyebut suatu kawasan, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=berkahdalem.wordpress.com&amp;blog=4682063&amp;post=162&amp;subd=berkahdalem&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:Times New Roman;"><em>Ini kiriman, tepatnya forward-an dari Romo Slamet Lasmunadi Pr. Mbuh asalnya dari mana. Silakan dinikmati. Berkah Dalem.<br />
</em></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;"><em>(Jawa Mode On – Please fasten your seatbelt)</em></span></p>
<p><a href="http://berkahdalem.files.wordpress.com/2008/09/logo.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-165" title="logo" src="http://berkahdalem.files.wordpress.com/2008/09/logo.gif" alt="" width="100" height="100" /></a>Selain lembaga pemerintahan, kebiasaan singkat menyingkat juga berlaku untuk<br />
tag line suatu daerah.</p>
<p>Solo Berseri, Jogja Berhati Nyaman, Temanggung Bersenyum, Cilacap Bercahaya,<br />
semuanya adalah singkatan.</p>
<p>Juga untuk menyebut suatu kawasan, yang katanya akan menjadi suatu kawasan yang unggul dan berkembang.</p>
<p>Bermula dari Jabotabek, eh sekarang Jabodetabek.<br />
Muncul pula Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya ,<br />
Sidoarjo, Lamongan),<br />
Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen),<br />
Pawonsari Bakulrejo (Pacitan Wonogiri Wonosari, Bantul, Kulon Progo,<br />
Purworejo),<br />
atau Joglosemar (Jogja Solo Semarang).</p>
<p>Beruntung tidak ada yang membalik urutannya menjadi Semarang Solo Yogya,<br />
disingkat menjadi Semar Loyo.<br />
Mungkin di masa mendatang akan muncul juga Dibalang Sendal (Purwodadi,<br />
Batang, Pemalang, Semarang , Kendal),<br />
atau Kasur Bosok (Karanganyar, Sukoharjo, Boyolali, Solo, Klaten).<br />
Asal jangan Susu Mbokde (Surakarta , Sukoharjo, Mboyolali, Kartasura,<br />
Delanggu)<br />
atau Tanteku Montok (Panjatan, Tegalan, Kulwaru, Temon, Toyan, Kokap)</p>
<p>Anak-anak muda Jogja tidak kalah kreatifnya untuk ikut-ikutan menyingkat<br />
nama tempat.<br />
Sebut saja Amplas untuk Ambarukmo Plaza , atau Jakal (Jalan Kaliurang),<br />
Jamal (Jalan Magelang).<br />
Kalau sampeyan sekolah di SMA 6, bisa nyombong kalau sampeyan sekolah di<br />
Depazter alias Depan Pasar Terban.</p>
<p>Bahkan, dari pusat kota Jogja, sangat mudah untuk mencapai<br />
Paris(Parangtritis),<br />
atau Pakistan (Pasar Kidul Stasiun alias Sarkem),<br />
bahkan Banglades (Bangjo Lapangan Denggung Sleman).</p>
<p>Sampeyan seorang yang enthengan, ringan tangan, suka membantu, ndak pernah<br />
menolak untuk dimintai tolong?<br />
Berarti sampeyan layak menyandang nama Willem Ortano, alias Dijawil Gelem<br />
Ora Tau Nolak.<br />
Atau kalau sampeyan pinter omong, jualan obat, meyakinkan orang dengan<br />
omongan sampeyan<br />
yang nggak karuan bener salahnya, maka jangan marah kalau sampeyan dipanggil<br />
sebagai Toni Boster, alias Waton Muni Ndobose Banter.</p>
<br />Posted in CERITA, HUMOR Tagged: barlingmascakeb, creative, humor, java, jawa, joglosemar, kreatif <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/berkahdalem.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/berkahdalem.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/berkahdalem.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/berkahdalem.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/berkahdalem.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/berkahdalem.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/berkahdalem.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/berkahdalem.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/berkahdalem.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/berkahdalem.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/berkahdalem.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/berkahdalem.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/berkahdalem.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/berkahdalem.wordpress.com/162/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=berkahdalem.wordpress.com&amp;blog=4682063&amp;post=162&amp;subd=berkahdalem&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berkahdalem.wordpress.com/2008/09/26/jawa-kreatif-aka-java-creative/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fabfb5175b394f9acd2708f9fa7a397d?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">susiloari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://berkahdalem.files.wordpress.com/2008/09/logo.gif" medium="image">
			<media:title type="html">logo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Surga Anak-anak (Cerpen Naguib Mahfouz)</title>
		<link>http://berkahdalem.wordpress.com/2008/09/26/surga-anak-anak/</link>
		<comments>http://berkahdalem.wordpress.com/2008/09/26/surga-anak-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 15:29:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>susiloari</dc:creator>
				<category><![CDATA[CERITA]]></category>
		<category><![CDATA[SASTRA]]></category>
		<category><![CDATA[anak-anak]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[religion]]></category>
		<category><![CDATA[religiositas]]></category>
		<category><![CDATA[religius]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berkahdalem.wordpress.com/2008/09/26/surga-anak-anak/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Bapak!&#8221; &#8220;Ya?&#8221; &#8220;Saya dan teman saya Nadia selalu bersama-sama.&#8221; &#8220;Tentu, Sayang. Dia kan sahabatmu.&#8221; &#8220;Di kelas, pada waktu istirahat, dan waktu makan siang.&#8221; &#8220;Bagus sekali. Ia anak yang manis dan sopan.&#8221; &#8220;Tapi waktu pelajaran agama, saya di satu kelas dan ia di kelas yang lain.&#8221; Terlihat ibunya tersenyum, meskipun sedang sibuk menyulam seprai. Dan ia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=berkahdalem.wordpress.com&amp;blog=4682063&amp;post=159&amp;subd=berkahdalem&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Bapak!&#8221;<br />
&#8220;Ya?&#8221;<br />
&#8220;Saya dan teman saya Nadia selalu bersama-sama.&#8221;<br />
&#8220;Tentu, Sayang. Dia kan sahabatmu.&#8221;<br />
&#8220;Di kelas, pada waktu istirahat, dan waktu makan siang.&#8221;<br />
&#8220;Bagus sekali. Ia anak yang manis dan sopan.&#8221;<br />
&#8220;Tapi waktu pelajaran agama, saya di satu kelas dan ia di kelas yang lain.&#8221;</p>
<p>Terlihat ibunya tersenyum, meskipun sedang sibuk menyulam seprai. Dan ia berkata sambil juga tersenyum:<br />
&#8220;Itu hanya pada pelajaran agama saja.&#8221;<br />
&#8220;Kenapa, Pak?&#8221;<br />
&#8220;Karena kau punya agama sendiri dan ia punya agama lain.&#8221;<br />
&#8220;Bagaimana sih, Pak?&#8221;<br />
&#8220;Kau Islam dan ia Kristen.&#8221;<br />
&#8220;Kenapa?&#8221;<br />
&#8220;Kau masih kecil, nanti akan mengerti.&#8221;<br />
&#8220;Saya sudah besar sekarang.&#8221;<br />
&#8220;Masih kecil, Sayangku.&#8221;<br />
&#8220;Kenapa saya seorang Islam?&#8221;</p>
<p>Ia harus lapang dada dan harus hati-hati. Juga tidak mempersetankan pendidikan modern yang baru pertama kali diterapkan. Dan ia berkata:<br />
&#8220;Bapak dan Ibu orang Islam. Sebab itu kau juga orang Islam.&#8221;<br />
&#8220;Dan Nadia?&#8221;<br />
&#8220;Bapak dan ibunya Kristen. Sebab itu ia juga Kristen.&#8221;<br />
&#8220;Apa karena bapaknya berkacamata?&#8221;<br />
&#8220;Bukan. Tak ada urusannya kacamata dalam hal ini. Dan juga karena kakeknya Kristen.&#8221;</p>
<p>Ia berusaha mengikuti silsilah kakek-kakeknya sampai entah tak ada batasnya, agar anak itu bosan dan mengalihkan percakapan ke arah lain. Tapi sang anak bertanya:<br />
&#8220;Siapa yang lebih baik?&#8221;</p>
<p>Ia berpikir sejenak, lalu berkata:<br />
&#8220;Orang Islam baik dan orang Kristen juga baik.&#8221;<br />
&#8220;Tentu salah satu ada yang lebih baik.&#8221;<br />
&#8220;Ini baik dan itu juga baik.&#8221;<br />
&#8220;Apa boleh saya berlaku seperti Kristen, agar kami bisa selalu bersama-sama?&#8221;<br />
&#8220;Oo tidak, Sayang, itu tidak bisa. Tiap orang tetap harus seperti bapak dan ibunya.&#8221;<br />
&#8220;Tapi kenapa?&#8221;</p>
<p>Memang betul, pendidikan modern itu keji juga! Dan ia bertanya:<br />
&#8220;Apa tidak tunggu saja sampai kau besar nanti?&#8221;<br />
&#8220;Tidak.&#8221;<br />
&#8220;Baiklah, kau tahu mode kan? Seseorang bisa menyenangi mode tertentu, dan orang lain menyenangi mode lain. Bahwa kau orang Islam, itu artinya mode terakhir. Sebab itu kau harus tetap Islam.&#8221;<br />
&#8220;Jadi, Nadia itu mode lama?&#8221;</p>
<p>Hmm, jangan-jangan Tuhan akan menjewermu bersama Nadia pada hari yang sama. Tampaknya ia telah melakukan kesalahan, betapapun ia sudah berhati-hati. Dan ia merasa seperti didorong tanpa ampun ke sebuah leher botol. Katanya:<br />
&#8220;Masalahnya adalah selera. Tapi tiap orang harus tetap seperti bapak dan ibunya.&#8221;<br />
&#8220;Apakah dapat saya katakan pada Nadia, bahwa ia mode lama dan saya mode baru?&#8221;</p>
<p>Segera ia memotong:<br />
&#8220;Tiap agama baik. Orang Islam menyembah Allah, dan orang Kristen menyembah Allah juga.&#8221;<br />
&#8220;Kenapa ia menyembah Allah di satu kelas dan saya di kelas yang lain?&#8221;<br />
&#8220;Di sini Allah disembah dengan cara tertentu, dan di sana dengan cara lain.&#8221;<br />
&#8220;Apa bedanya, Pak?&#8221;<br />
&#8220;Nanti tahun depan kau akan mengetahuinya, atau tahun berikutnya lagi. Sekarang kau cukup tahu saja, bahwa orang Islam itu menyembah Allah dan orang Kristen juga menyembah Allah.&#8221;<br />
&#8220;Siapa sih Allah, Pak?&#8221;</p>
<p>Jadinya ia berpikir agak lama juga. Lantas ia bertanya untuk sekadar mengulur waktu:<br />
&#8220;Apa kata Bu Guru di sekolah?&#8221;<br />
&#8220;Ia membaca surat-surat dari Al-Qur&#8217;an dan mengajari kami sembahyang. Tapi saya tidak tahu siapa Allah itu.&#8221;</p>
<p>Ia berpikir lagi, sambil tersenyum agak remang. Katanya:<br />
&#8220;Ia yang menciptakan dunia seluruhnya.&#8221;<br />
&#8220;Seluruhnya?&#8221;<br />
&#8220;Ya, seluruhnya.&#8221;<br />
&#8220;Apa artinya mencipta?&#8221;<br />
&#8220;Yang membuat segala sesuatu.&#8221;<br />
&#8220;Bagaimana caranya?&#8221;<br />
&#8220;Dengan kekuasaan yang agung sekali.&#8221;<br />
&#8220;Dimana Ia tinggal?&#8221;<br />
&#8220;Di dunia seluruhnya.&#8221;<br />
&#8220;Dan sebelum ada dunia?&#8221;<br />
&#8220;Di atas.&#8221;<br />
&#8220;Di langit?&#8221;<br />
&#8220;Ya.&#8221;<br />
&#8220;Saya ingin melihat-Nya.&#8221;<br />
&#8220;Tidak bisa.&#8221;<br />
&#8220;Meskipun melalui televisi?&#8221;<br />
&#8220;Ya, tidak bisa juga.&#8221;<br />
&#8220;Tak seorang pun bisa melihat-Nya?&#8221;<br />
&#8220;Tak seorang pun.&#8221;<br />
&#8220;Bagaimana Bapak tahu Ia ada di atas?&#8221;<br />
&#8220;Begitulah.&#8221;<br />
&#8220;Siapa yang kasih tahu Ia di atas?&#8221;<br />
&#8220;Para nabi.&#8221;<br />
&#8220;Para nabi?&#8221;<br />
&#8220;Ya, seperti nabi kita Muhammad.&#8221;<br />
&#8220;Bagaimana caranya?&#8221;<br />
&#8220;Dengan kesanggupan yang khas ada padanya.&#8221;<br />
&#8220;Kedua matanya tajam sekali?&#8221;<br />
&#8220;Ya.&#8221;<br />
&#8220;Kenapa begitu?&#8221;<br />
&#8220;Allah menciptakannya begitu.&#8221;<br />
&#8220;Kenapa?&#8221;</p>
<p>Dan ia menjawab sambil menahan kesabarannya:<br />
&#8220;Ia bebas berbuat apa yang Ia kehendaki.&#8221;<br />
&#8220;Dan bagaimana nabi melihat-Nya?&#8221;<br />
&#8220;Agung sekali, kuat sekali, dan berkuasa atas segala sesuatu.&#8221;<br />
&#8220;Seperti Bapak?&#8221;</p>
<p>Ia menjawab sambil menahan tawanya:<br />
&#8220;Ia tak ada bandingannya.&#8221;<br />
&#8220;Kenapa Ia tinggal di atas?&#8221;<br />
&#8220;Bumi tak bisa memuat-Nya. Tapi ia bisa melihat segala sesuatu.&#8221;</p>
<p>Anak kecil itu diam sebentar, lalu katanya:<br />
&#8220;Tapi Nadia bilang, Ia tinggal di bumi.&#8221;<br />
&#8220;Karena Ia tahu dan melihat segala sesuatu, maka seolah-olah Ia tinggal di mana-mana.&#8221;<br />
&#8220;Dan ia juga bilang, orang-orang telah membunuh-Nya.&#8221;<br />
&#8220;Tapi Ia hidup dan tidak mati.&#8221;<br />
&#8220;Nadia bilang, orang-orang itu telah membunuh-Nya.&#8221;<br />
&#8220;Tidak, Sayang. Mereka mengira telah membunuh-Nya. Tapi ia hidup dan tidak mati.&#8221;<br />
&#8220;Dan kakekku masih hidup juga?&#8221;<br />
&#8220;Kakekmu sudah meninggal.&#8221;<br />
&#8220;Apa orang-orang juga telah membunuhnya?&#8221;<br />
&#8220;Tidak, ia meninggal sendiri.&#8221;<br />
&#8220;Bagaimana?&#8221;<br />
&#8220;Ia sakit, dan kemudian meninggal.&#8221;<br />
&#8220;Dan adikku juga akan meninggal karena ia sakit?&#8221;<br />
Keningnya mengerenyit sebentar, sementara ia melihat gerak semacam protes dari arah istrinya.</p>
<p>&#8220;Tidak. Insya Allah ia akan sembuh.&#8221;<br />
&#8220;Dan kenapa Kakek meninggal?&#8221;<br />
&#8220;Sakit dalam ketuaannya.&#8221;<br />
&#8220;Bapak pernah sakit dan Bapak juga sudah tua. Kenapa tidak meninggal?&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba ibunya menghardiknya. Anak itu jadi heran tak mengerti, sebentar matanya ditujukan pada ibunya, sebentar lagi pada ayahnya. Kata sang ayah:<br />
&#8220;Kita semua akan mati kalau Tuhan menghendakinya.&#8221;<br />
&#8220;Kenapa Tuhan menghendaki agar kita semua mati?&#8221;<br />
&#8220;Ia bebas berbuat apa yang Ia kehendaki.&#8221;<br />
&#8220;Apa mati itu menyenangkan?&#8221;<br />
&#8220;Tidak, Sayang.&#8221;<br />
&#8220;Kenapa Tuhan menghendaki sesuatu yang tidak menyenangkan?&#8221;<br />
&#8220;Selama Tuhan yang menghendaki begitu, itu artinya baik dan menyenangkan.&#8221;<br />
&#8220;Tapi tadi Bapak bilang, itu tidak menyenangkan.&#8221;<br />
&#8220;Hmm, Bapak keliru tadi.&#8221;<br />
&#8220;Dan kenapa Ibu marah waktu saya bilang bahwa Bapak akan mati?&#8221;<br />
&#8220;Karena Tuhan belum menghendaki begitu.&#8221;<br />
&#8220;Kenapa Ia menghendaki begitu, Pak?&#8221;<br />
&#8220;Dialah yang membawa kita ke dunia, dan Dia pula yang membawa kita pergi.&#8221;<br />
&#8220;Kenapa?&#8221;<br />
&#8220;Agar kita berbuat baik di dunia sebelum kita pergi.&#8221;<br />
&#8220;Kenapa kita tidak tinggal saja terus di dunia?&#8221;<br />
&#8220;Nanti tak akan muat dunia kalau semua orang tinggal.&#8221;<br />
&#8220;Dan kita tinggalkan hal-hal yang baik?&#8221;<br />
&#8220;Kita akan pergi ke hal-hal yang lebih baik lagi.&#8221;<br />
&#8220;Di mana?&#8221;<br />
&#8220;Di atas.&#8221;<br />
&#8220;Di sisi Tuhan?&#8221;<br />
&#8220;Ya.&#8221;<br />
&#8220;Dan kita bisa melihat-Nya?&#8221;<br />
&#8220;Ya.&#8221;<br />
&#8220;Tentunya itu bagus kan?&#8221;<br />
&#8220;Tentu.&#8221;<br />
&#8220;Kalau begitu, kita harus pergi.&#8221;<br />
&#8220;Tapi sekarang kita belum melakukan hal-hal yang baik.&#8221;<br />
&#8220;Dan Kakek sudah melakukannya?&#8221;<br />
&#8220;Ya.&#8221;<br />
&#8220;Apa yang ia lakukan?&#8221;<br />
&#8220;Ia telah membangun rumah dan menanam kebun.&#8221;<br />
&#8220;Dan Tutu, sepupuku, apa yang sudah ia lakukan?&#8221;</p>
<p>Wajahnya jadi merengut sebentar, kemudian pandangannya ia tujukan ke arah istrinya seperti minta kasihan.</p>
<p>&#8220;Ia juga telah bikin sebuah rumah kecil sebelum ia pergi.&#8221;<br />
&#8220;Tapi Lulu, tetangga kita, ia pernah memukulku dan tak pernah berbuat baik.&#8221;<br />
&#8220;Ia anak nakal.&#8221;<br />
&#8220;Tapi ia tidak akan mati.&#8221;<br />
&#8220;Kecuali kalau Tuhan menghendakinya.&#8221;<br />
&#8220;Meskipun ia tidak berbuat hal-hal yang baik?&#8221;<br />
&#8220;Semua akan mati. Siapa yang berbuat baik, ia akan pergi ke sisi Tuhan. Dan siapa yang berbuat jahat, ia akan ke neraka.&#8221;</p>
<p>Anak kecil itu menarik napas seraya kemudian diam. Sang ayah tiba-tiba merasa dirinya begitu capek. Tak tahu ia, berapa dari kata- katanya tadi yang benar dan berapa yang salah. Pertanyaan-pertanyaan itu sudah menggerakkan tanda tanya, yang kemudian mengendap di dalam dirinya.</p>
<p>Namun si kecil tiba-tiba berseru:<br />
&#8220;Saya ingin selalu bersama Nadia!&#8221;</p>
<p>Ditolehkannya kepalanya seperti ingin tahu. Si kecil itu berseru lagi:<br />
&#8220;Meski pada pelajaran agama sekalipun!&#8221;</p>
<p>Dan ia tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Istrinya juga ketawa. Sambil menguap mengantuk, ia kemudian berkata:<br />
&#8220;Tak bisa kubayangkan, pertanyaan-pertanyaan ini bisa didiskusikan pada taraf umur begitu!&#8221;</p>
<p>Istrinya menyahut:<br />
&#8220;Nanti ia akan besar, dan akan bisa menjelaskan hal-hal itu padanya.&#8221;</p>
<p>Cepat ia menoleh ke perempuan itu, untuk mengetahui apa memang betul kata-katanya atau hanya sekadar cemoohan belaka. Namun dilihatnya perempuan itu sudah sibuk lagi dengan sulamannya.</p>
<p><em>*Diterjemahkan oleh M. Fudoli Zaini, dalam &#8220;Antologi Cerpen Nobel&#8221; (Penerbit Bentang, Mei 2004).</em></p>
<p><em>NAGUIB MAHFOUZ lahir di Kairo, Mesir, pada 1911. Ia dianggap yang terbesar dalam sastra modern Mesir yang belum berusia satu abad. Sebagai pengarang, Mahfouz mula-mula menulis dengan gaya romantis, lalu realistis, simbolis, filosofis, dan terakhir simbolis-filosofis dengan kecenderungan sufistis.</em></p>
<br />Posted in CERITA, SASTRA Tagged: anak-anak, cerpen, religion, religiositas, religius, sastra, surga <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/berkahdalem.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/berkahdalem.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/berkahdalem.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/berkahdalem.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/berkahdalem.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/berkahdalem.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/berkahdalem.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/berkahdalem.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/berkahdalem.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/berkahdalem.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/berkahdalem.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/berkahdalem.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/berkahdalem.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/berkahdalem.wordpress.com/159/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=berkahdalem.wordpress.com&amp;blog=4682063&amp;post=159&amp;subd=berkahdalem&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berkahdalem.wordpress.com/2008/09/26/surga-anak-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fabfb5175b394f9acd2708f9fa7a397d?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">susiloari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rekrutmen Paulus – Transfer Window</title>
		<link>http://berkahdalem.wordpress.com/2008/09/08/rekrutmen-paulus-%e2%80%93-transfer-window/</link>
		<comments>http://berkahdalem.wordpress.com/2008/09/08/rekrutmen-paulus-%e2%80%93-transfer-window/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 04:01:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>susiloari</dc:creator>
				<category><![CDATA[COGITO]]></category>
		<category><![CDATA[KATOLISITAS]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>
		<category><![CDATA[BKSN]]></category>
		<category><![CDATA[Chatolic]]></category>
		<category><![CDATA[Church]]></category>
		<category><![CDATA[Katolik]]></category>
		<category><![CDATA[kebumen]]></category>
		<category><![CDATA[Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[paroki]]></category>
		<category><![CDATA[Paulus]]></category>
		<category><![CDATA[Saulus]]></category>
		<category><![CDATA[Transfer]]></category>
		<category><![CDATA[vianney]]></category>
		<category><![CDATA[Yahudi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berkahdalem.wordpress.com/2008/09/08/rekrutmen-paulus-%e2%80%93-transfer-window/</guid>
		<description><![CDATA[Hari Kamis malam yang lalu (4/9) Aku jadi pemandu pendalaman Kitab Suci (KS) di Lingkunganku, Lingkungan St. Yohanes – Paroki Kebumen St. Yohanes Maria Vianney Kebumen. Seperti yang sudah kami (para menandu) siapkan, aku memakai metode metaplan dalam memetakan alur kisah pertobatan Saulus yang berujung pada &#8216;lahirnya&#8217; Paulus. Tentang metode ini aku akan tulis di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=berkahdalem.wordpress.com&amp;blog=4682063&amp;post=104&amp;subd=berkahdalem&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://berkahdalem.files.wordpress.com/2008/09/conversion_of_st_paul-400.jpg" target="_blank"><img class="size-medium wp-image-107 alignleft" style="border:2px solid black;margin-left:5px;margin-right:5px;" title="conversion_of_st_paul-400" src="http://berkahdalem.files.wordpress.com/2008/09/conversion_of_st_paul-400.jpg?w=300&#038;h=222" alt="" width="300" height="222" /></a>Hari Kamis malam yang lalu (4/9) Aku jadi pemandu pendalaman Kitab Suci (KS) di Lingkunganku, Lingkungan St. Yohanes – Paroki Kebumen St. Yohanes Maria Vianney Kebumen. Seperti yang sudah kami (para menandu) siapkan, aku memakai metode metaplan dalam memetakan alur kisah pertobatan Saulus yang berujung pada &#8216;lahirnya&#8217; Paulus. Tentang metode ini aku akan tulis di posting-an berikutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam sesi mencari pesan dari perikop yang didalami, seorang bapak, sebut saja Pak Barto melontarkan pertanyaan.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Pak Arie, Tuhan Yesus kok milih Saulus jadi salah satu murid yang diberi peran besar, padahal dia kan justru yang mengejar-ngejar, menangkap para pengikutNya? Ini kan aneh?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Hehe. Kalau mau dilanjutin sih pasti muncul kalimat begini, &#8220;Nggak rela! Nggak rela!&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Aku diam. Nggak langsung menjawab. Cuma sedikit mesem. Mesem karena pertanyaan Pak Barto itu mengingatkanku pada obrolanku dengan Romo Slamet (pastor parokiku) siang sebelumnya di tokoku.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Gusti Yesus ki ternyata manajer SDM sing top lho, Mo?</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Kok bisa?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu aku mulai nyrocos. Ini dalam konteks rekrutmen dan deployment para murid. 12 rasul awal yang direkrut itu (Yudas Iskariot termasuk anomali-skenarionya begitu sih) punya karakter low-profile-sederhana, manutan, gak pinter-pinter amat, jujur, mau setia. SDM seperti itu nggak cukup. Maka dalam rangka &#8216;marketing the church&#8217; yang memerlukan the right man on the right place, direkrutlah Stefanus yang lebih thas-thes, berani dan lebih diperhitungkan kaum farisi ahli taurat. Eh, debutan ini keburu dihabisi geng-nya Saulus (Kis.7:54-8:1a).</p>
<p style="text-align:justify;">Nah, sampai di sini naluri manejerial-Nya bekerja. Saulus itu kan puinter-ter, orang sekolahan-ahli taurat, berani, berkemauan keras, bukan yahudi lokalan (Tarsus). High profile banget, deh! Butuh orang kayak gini untuk di-deploy, membuat keseimbangan antar lini para murid Yesus (wah, malah kayak komentator bola). Tapi masalahnya dia ada di pihak musuh. Piye iki?</p>
<p style="text-align:justify;">Maka terjadilah peristiwa penampakan (approachment) yang membutakan Saulus 3 hari lamanya itu (Kis.9:3-9). Peristiwa ini bagaikan &#8216;transfer window&#8217; klub-klub bola Eropa. Dalam waktu mepet menggaet pemain unggulan milik lawan. Selanjutnya, setelah penumpangan tangan oleh Ananias kepada Saulus aka Paulus, komposisi murid-murid Yesus lebih menjanjikan. Keseimbangan antar lini terjaga. Dan faktor Paulus adalah kartu truf bagi &#8216;marketing the church&#8217; di luar ranah Yahudi. Begitu.</p>
<p style="text-align:justify;">Romo Parokiku cuma mesam-mesem mendengar cerocosanku yang sangat awami ini. Maklum aku kan Cuma lulusan Bulaksumur, bukan lulusan Urbanum.</p>
<p style="text-align:justify;">Kembali ke laptop! Eh, pertanyaan Pak Barto.</p>
<p style="text-align:justify;">Tentu saja aku nggak bisa menjawab dengan cerocosanku itu. Aku hanya bisa bilang, ya Yesus memang maunya begitu. Coba lihat apa kata Yesus kepada Ananias yang male-malesan waktu disuruh menemui Saulus yang buta: ….orang ini adalah alat pilihan bagiKu untuk memberitakan namaKu kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel (Kis.9:15). Pasti Yesus telah mempertimbangkan sebelum memilih dia. Begitu jawabanku.</p>
<p style="text-align:justify;">Hehe. Nggak meyakinkan ya? OK deh. Kalau gitu, ada yang bisa bantu mencari jawaban yang meyakinkan?</p>
<p>Berkah Dalem</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/berkahdalem.wordpress.com/104/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/berkahdalem.wordpress.com/104/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/berkahdalem.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/berkahdalem.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/berkahdalem.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/berkahdalem.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/berkahdalem.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/berkahdalem.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/berkahdalem.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/berkahdalem.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/berkahdalem.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/berkahdalem.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/berkahdalem.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/berkahdalem.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/berkahdalem.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/berkahdalem.wordpress.com/104/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=berkahdalem.wordpress.com&amp;blog=4682063&amp;post=104&amp;subd=berkahdalem&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berkahdalem.wordpress.com/2008/09/08/rekrutmen-paulus-%e2%80%93-transfer-window/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fabfb5175b394f9acd2708f9fa7a397d?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">susiloari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://berkahdalem.files.wordpress.com/2008/09/conversion_of_st_paul-400.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">conversion_of_st_paul-400</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kang Duko</title>
		<link>http://berkahdalem.wordpress.com/2008/09/08/kang-duko/</link>
		<comments>http://berkahdalem.wordpress.com/2008/09/08/kang-duko/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Sep 2008 20:12:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>susiloari</dc:creator>
				<category><![CDATA[CERITA]]></category>
		<category><![CDATA[HUMOR]]></category>
		<category><![CDATA[humor]]></category>
		<category><![CDATA[kang duko]]></category>
		<category><![CDATA[Madura]]></category>
		<category><![CDATA[Ngakak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berkahdalem.wordpress.com/2008/09/08/kang-duko/</guid>
		<description><![CDATA[Cak Ma&#8217;roeb melancong ke Jogja. naik kereta dari Wonokromo turun di Stasiun Tugu. Bingung mau ke mana, akhirnya manggil becak. Pokoknya puter-puter, katanya. Tukang becaknya manggut-manggut saja. Pelan tapi pasti becak meninggalkan Stasiun Tugu, meluncur ke Malioboro. Cak Ma&#8217;roeb berdecak kagum melihat deretan toko-toko di sepanjang jalan yang terkenal seantero nusantara itu. &#8220;Lek, toko-toko ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=berkahdalem.wordpress.com&amp;blog=4682063&amp;post=88&amp;subd=berkahdalem&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_5" class="wp-caption alignleft" style="width: 119px"><a href="http://berkahdalem.files.wordpress.com/2008/09/recip2.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-5" title="recip2" src="http://berkahdalem.files.wordpress.com/2008/09/recip2.jpg?w=109&#038;h=86" alt="not me" width="109" height="86" /></a><p class="wp-caption-text">not me</p></div>
<p style="text-align:justify;">Cak Ma&#8217;roeb melancong ke Jogja. naik kereta dari Wonokromo turun di Stasiun Tugu. Bingung mau ke mana, akhirnya manggil becak. Pokoknya puter-puter, katanya. Tukang becaknya manggut-manggut saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Pelan tapi pasti becak meninggalkan Stasiun Tugu, meluncur ke Malioboro. Cak Ma&#8217;roeb berdecak kagum melihat deretan toko-toko di sepanjang jalan yang terkenal seantero nusantara itu.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Lek, toko-toko ini semua punyak-e siapa?&#8221; selidik Cak ma&#8217;roeb. Tukang becaknya bingung. Pastinya punya orang banyak. Tapi masak dia harus sebut satu-satu.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Duko&#8221;, akhirnya dia hanya jawab begitu.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Wah, Kang Duko tokonya bagus-bagus, banyak lagi. Suogih eram!&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Becak meluncur terus ke selatan memasuki alun-alun utara.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Lek, iki pekarangane siapa?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Tukang becaknya sebenarnya tahu alun-alun utara itu milik Kanjeng Sultan hamengkubuwono. Tapi kalo dijawab, dia takut kalo penumpangnya yang satu ini nanti tanya macem-macem tentang Kanjeng Sultan. Akhirnya dia memutuskan menjawab dengan jawaban yang sama.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Duko.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Byuh&#8230;.tokone akeh, punya halaman luas lagi&#8230;&#8230;kang Duko, soegih eram sampeyan!&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Tukang becaknya mesem-mesem. dalam hati bilang&#8230;Ha! tak kerjain saja orang ini! Melaju sedikit lagi ke arah selatan, becak itu sampai di samping Kraton Jogja.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Lha ini rumah siapa, Lek?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Duko&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Byuh-byuh&#8230;. Kang Duko, rek! Tokone akeh, omahe guedhe apik, halamannya luas&#8230;.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Tukang becaknya tambah geli. Tambah semangat pula nggenjotnya. Sebentar sudah sampai di Pasar Burung Ngasem. Kebetulan banyak turis-turis asing di kawasan itu. &#8220;Londo-londo&#8221; itu, terutama yang cewek pake baju sekenanya, maklum kepanasan. Mata Cak Ma&#8217;roeb melotot keasyikan melihat pemandangan indah terhampar di mana-mana.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Lek,&#8230;iku arek wedok-wedok, londo ayu-ayu bojone siapa?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Duko&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Byuh&#8230;&#8230;Kang Duko, rek, kuat eram duwe bojo akeh. Bojone londo-londo!&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Tukang becaknya tambah terhibur. Becak terus digenjot meluncur ke arah selatan. sampailah mereka di depan Gereja Pugeran.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Lek, gereja yang besar itu punya siapa?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Duko&#8221;, kali ini Tukang bcaknya benar-benar gak tahu.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Oh&#8230;&#8230;.Kang Duko iku Kresten, ta!&#8221; Tapi kok bojonya banyak?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Tukang becaknya sekarang mulai geleng-geleng&#8230;.mikirin turisnya yang satu ini. Becak belok ke arah timur. pas lagi kenceng-kencengnya meluncur, tiba-tiba serombongan pelayat memotong jalan diikuti mobil jenazah. Becak terpaksa berhenti. Ciiitt!</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Waduh! Orang meninggal! Siapa Lek yang meninggal?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Duko&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Mendengan jawaban ini, kontan Cak ma&#8217;roeb turun dari becak, berdiri sambil membuka topi laken-nya. Sebentar ia menggeleng-gelengkan kepalanya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Byuh..byuh&#8230;.byuh&#8230;. kang Duko, rek&#8230;tokonya banyak, rumahnya bagus, halamannya luas, istrinya cuantik-cuantik eh,&#8230;.ditinggal matek!&#8221;***</p>
<p style="text-align:justify;"><em>(ini salah satu cerita pengantar tidur dari bapakku)</em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:Times New Roman;"><br />
</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/berkahdalem.wordpress.com/88/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/berkahdalem.wordpress.com/88/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/berkahdalem.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/berkahdalem.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/berkahdalem.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/berkahdalem.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/berkahdalem.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/berkahdalem.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/berkahdalem.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/berkahdalem.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/berkahdalem.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/berkahdalem.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/berkahdalem.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/berkahdalem.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/berkahdalem.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/berkahdalem.wordpress.com/88/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=berkahdalem.wordpress.com&amp;blog=4682063&amp;post=88&amp;subd=berkahdalem&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berkahdalem.wordpress.com/2008/09/08/kang-duko/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fabfb5175b394f9acd2708f9fa7a397d?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">susiloari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://berkahdalem.files.wordpress.com/2008/09/recip2.jpg?w=121" medium="image">
			<media:title type="html">recip2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Elang Kecilku di Sarang Baru</title>
		<link>http://berkahdalem.wordpress.com/2008/09/01/elang-kecilku-di-sarang-baru/</link>
		<comments>http://berkahdalem.wordpress.com/2008/09/01/elang-kecilku-di-sarang-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Sep 2008 13:23:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>susiloari</dc:creator>
				<category><![CDATA[MEA VITA]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[aquilla]]></category>
		<category><![CDATA[machiavell]]></category>
		<category><![CDATA[mertoyudan]]></category>
		<category><![CDATA[michael]]></category>
		<category><![CDATA[My Life]]></category>
		<category><![CDATA[seminari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berkahdalem.wordpress.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Aku tadi pagi ngepel dari sini sampai sana,&#8221; cerita Michael, anakku sambil tangannya menunjuk salah satu lorong di Seminari Mertoyudan. Ini cerita pertama yang keluar dari mulutnya. Dan selama dia, aku, istriku, Fillia-anakku yang ke-2 dan keluarga besar kami duduk bersama, banyak cerita kecil-kecil menyusul kemudian. Tidak ada keluhan, tidak ada cerita menyedihkan. Tentang mencuci [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=berkahdalem.wordpress.com&amp;blog=4682063&amp;post=22&amp;subd=berkahdalem&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><img class="alignleft" style="margin:1px 3px;" title="michael" src="http://farm3.static.flickr.com/2069/2886478127_1537abd781.jpg" alt="" width="400" height="332" /> &#8220;Aku tadi pagi ngepel dari sini sampai sana,&#8221; cerita Michael, anakku sambil tangannya menunjuk salah satu lorong di Seminari Mertoyudan. Ini cerita pertama yang keluar dari mulutnya. Dan selama dia, aku, istriku, Fillia-anakku yang ke-2 dan keluarga besar kami duduk bersama, banyak cerita kecil-kecil menyusul kemudian. Tidak ada keluhan, tidak ada cerita menyedihkan. Tentang mencuci baju sendiri, atau tentang jadwal hidupnya yang baru selama 43 hari pertama dia ada di situ. Bahkan penitensi (sanksi hukuman) pun diceritakannya dengan cengar-cengir.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah buku kenangan masa orientasinya kubuka. Anakku berefleksi:</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>PERUBAHANKU</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>(Michael Aquila Machiavelli – KPP3/20)</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sebelum masuk di seminari ini aku adalah pribadi yang santai. Di rumah aku belajar hanya pada waktu ulangan. Setiap hari aku selalu bermain tanpa mengetahui seberapa besar pengorbanan orang tua yang dilakukan untuk menghidupiku.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Setelah masuk di seminari ini, aku menjadi lebih menghargai waktu. Di sini aku tahu bahwa waktu sangat berharga. Di sini aku juga mulai menyadari betapa berat dan besar pengorbanan orang tuaku. Setelah menetap di seminari selama 40 hari, aku merasa kepribadianku mulai berubah sedikit demi sedikit. Aku bersyukur bahwa aku memilih memasuki seminari ini sebagai rumahku yang baru tidaklah salah***</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Panggilannya dulu Michael. Sekarang mulai dipanggil Aquila. Burung Elang. Dan Elang kecilku sekarang sudah menemukan sarangnya yang baru.</p>
<p style="text-align:justify;">Tentang perasaanku. Like Mother Mary, aku menyimpan semua dalam hati.</p>
<p style="text-align:justify;">Berkah Dalem</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/berkahdalem.wordpress.com/22/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/berkahdalem.wordpress.com/22/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/berkahdalem.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/berkahdalem.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/berkahdalem.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/berkahdalem.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/berkahdalem.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/berkahdalem.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/berkahdalem.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/berkahdalem.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/berkahdalem.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/berkahdalem.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/berkahdalem.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/berkahdalem.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/berkahdalem.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/berkahdalem.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=berkahdalem.wordpress.com&amp;blog=4682063&amp;post=22&amp;subd=berkahdalem&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berkahdalem.wordpress.com/2008/09/01/elang-kecilku-di-sarang-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fabfb5175b394f9acd2708f9fa7a397d?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">susiloari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://farm3.static.flickr.com/2069/2886478127_1537abd781.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">michael</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
