(Ini tulisan istriku. Tambah pinter nulis, dia….hehe istri siapa to? – Berkah Dalem)
Saya, orangnya kuatiran sekali. Dari jaman muda dulu sampai sekarang sudah punya dua orang anak. Ada sisi positifnya juga, sih. Contohnya, saking kuatirnya ada barang yang dibutuhkan di jalan, kalau pergi dengan anak-anak, banyak sekali barang yang saya bawa. Bahkan barang yang aneh dan tidak terpikir oleh orang lain: gunting kecil, kertas, vitamin c, sampai jamu tolak angin… Sangu baju dan makanan jangan ditanya lagi. Banyak dan macam macam jenisnya.
Itu baru dalam hal bepergian. Dalam keseharian pun juga begitu. Saya sering kuatir dengan banyak hal. Yang utama sih kalau warung saya sepi. Yang kepikiran bagaimana menggaji para karyawan, bagaimana membayar spp anak anak, bagaimana nanti kalau ada kebutuhan mendesak. Walaupun saya inget, burung pipit dan bunga di padang saja dipelihara olehNya. Tapi saya tetap kuatir.
Bapaknya anak anak lebih ‘santai’. “Tenang saja to bu, namanya juga baru sepi. Sabar saja nanti sore atau besok pagi mesti rame lagi,” begitu katanya dengan nada tenang.
Suatu hari, kami bertiga, saya, suami dan si kecil, mengantar si besar kembali ke sekolahnya di luar kota. Magelang tepatnya. Sengaja kami berangkat pagi-pagi karena takut jalanan macet. Sampai di Magelang hari masih siang. Kembali ke kebumen? Sepertinya sayang. Akhirnya kami memutuskan untuk jalan-jalan ke pasar Rejowinangun.
Saya sebenarnya agak bingung juga. Mau apa saya di pasar? Saya tidak pernah masuk pasar. Dulu Jaman saya kecil sih iya. Dulu saya sering ikut ibu ke pasar. Menurut gambaran saya, belanja di pasar tidak menyenangkan. Mau beli barang saja harus menawar dulu, bahkan saya sering dengar ada nada-nada tinggi dalam proses tawar menawar.
“Bu, sendale pira kiye?”
“Selawe.”
“Sepuluh ewu bae ya? Olih?”
“Mbak, nawar kok kayak nggone mbahe dewek.”
“Kene, rong puluh wis pas.”
“Lah, limolas. Olih tak tuku. Olih apa ora?”
“Ra, durung bisa mbak, tukune be ora olih semeno.”
Begitulah …..walaupun tidak sama persis. Tapi dalam gambaran saya pasar jadi tempat yang kurang menyenangkan. Wong mau beli saja susah. Nanti kalau barang sudah terbeli dengan usaha menawar setengah mati, masih saja kuatir. Jangan-jangan masih kemahalan harganya.
Tapi ternyata, di Rejowinangun saya tergoda juga untuk beli-beli. Gethuk singkong dua bungkus seharga masing-masing lima ribu rupiah. Tahu seharga sepuluh ribu rupiah. Dan sebungkus slondok seharga sepuluh ribu. Semua saya beli tanpa menawar sedikitpun. Menurut saya cukup murah. Dan yang jelas, ndak tega saya. Bayangkan. Tahu sepuluh ribu mendapat tiga belas potong besar-besar. Mau ditawar berapa lagi?
Tapi, ada satu yang membuat saya sungguh tertarik. Di sebuah sudut ada penjual jadah bakar. Tadinya dari kejauhan saya heran, ada asap tipis apa itu. Ternyata si mbak sedang membakar jadah. Wih potongannya besar-besar. Kalau ndak inget sudah jajan banyak, saya ingin membeli. Baunya sedap. Benar benar mengundang selera.
Saya agak ragu-ragu. Beli? Tidak? Beli? Tidak? Cukup lama saya di situ sambil menimbang-nimbang. Tiba-tiba saya sadar, dari tadi belum ada yang membeli jadah. Tapi si mbak dengan santainya terus membakar. Dia serius tanpa melihat atau berusaha menawarkan dagangannya ke orang lewat. Ditambahnya lagi jadah di atas bakaran. Bul…… Asap tipis mengepul.
Saya heran juga. Optimis juga si mbak ini. Lha kalau sampai nanti tidak ada yang membeli, terus jadah sebanyak itu mau diapakan? Kenapa kok membakarnya tidak nanti saja, kalau ada yang mau beli saja?
Sampai di mobil, hal itu jadi bahan obrolan buat saya dan suami. Menurut saya hal itu aneh. Tapi menurut suami tidak. Berarti si mbak tadi optimis dagangannya bakal laku. Mungkin pagi belum, mungkin siang. Nanti kalau siang belum laris juga, mungkin sore. Begitu kata suami saya.
Wah, saya jadi malu. Orang seperti si mbak jadah saja yakin pada rejekinya. Yakin pada belas kasihan Tuhan. Yakin bakal ada rejeki untuk dia dan keluarganya hari itu.
Sudah ada rejeki untuk hari ini pun, saya masih kuatir untuk yang besok. Apa besok laris seperti hari ini? Apalagi kalau sepi. Wih, bingungnya pol. Kadang saya sampai tergoda untuk melakukan hal yang tidak baik, hal yang tidak semestinya. Apa saya harus seperti banyak warung lain, memberi nota kosong? Atau mengutak atik angka di nota? Atau apa saja, menghalalkan segala cara agar pembeli mau ke warung saya?
Hari itu saya belajar banyak dari SEORANG PENJUAL JADAH BAKAR. Saya tidak tahu namanya. Saya tiadak tahu apa agamanya. Bahkan wajahnya pun saya sudah lupa.
Terima kasih mbak…. Saya janji kalau besok saya ke pasar itu lagi, saya akan borong jadah bakarmu. Akan saya bagi bagikan ke teman-teman. Dan saya katakan ini ada oleh-oleh sedikit. Dibeli dengan rejeki dari Bapa…
Salam
Laurensia
“Aku tadi pagi ngepel dari sini sampai sana,” cerita Michael, anakku sambil tangannya menunjuk salah satu lorong di Seminari Mertoyudan. Ini cerita pertama yang keluar dari mulutnya. Dan selama dia, aku, istriku, Fillia-anakku yang ke-2 dan keluarga besar kami duduk bersama, banyak cerita kecil-kecil menyusul kemudian. Tidak ada keluhan, tidak ada cerita menyedihkan. Tentang mencuci baju sendiri, atau tentang jadwal hidupnya yang baru selama 43 hari pertama dia ada di situ. Bahkan penitensi (sanksi hukuman) pun diceritakannya dengan cengar-cengir.