nullum magnum ingenium sine mixtura dementiae fuit

arie’s life journal

Archive for the ‘MEA VITA’ Category

KUATIRAN

Posted by susiloari on October 7, 2008

(Ini tulisan istriku. Tambah pinter nulis, dia….hehe istri siapa to? – Berkah Dalem)

Saya, orangnya kuatiran sekali. Dari jaman muda dulu sampai sekarang sudah punya dua orang anak. Ada sisi positifnya juga, sih. Contohnya, saking kuatirnya ada barang yang dibutuhkan di jalan, kalau pergi dengan anak-anak, banyak sekali barang yang saya bawa. Bahkan barang yang aneh dan tidak terpikir oleh orang lain: gunting kecil, kertas, vitamin c, sampai jamu tolak angin… Sangu baju dan makanan jangan ditanya lagi. Banyak dan macam macam jenisnya.

Itu baru dalam hal bepergian. Dalam keseharian pun juga begitu. Saya sering kuatir dengan banyak hal. Yang utama sih kalau warung saya sepi. Yang kepikiran bagaimana menggaji para karyawan, bagaimana membayar spp anak anak, bagaimana nanti kalau ada kebutuhan mendesak. Walaupun saya inget, burung pipit dan bunga di padang saja dipelihara olehNya. Tapi saya tetap kuatir.

Bapaknya anak anak lebih ‘santai’. “Tenang saja to bu, namanya juga baru sepi. Sabar saja nanti sore atau besok pagi mesti rame lagi,” begitu katanya dengan nada tenang.

Suatu hari, kami bertiga, saya, suami dan si kecil, mengantar si besar kembali ke sekolahnya di luar kota. Magelang tepatnya. Sengaja kami berangkat pagi-pagi karena takut jalanan macet. Sampai di Magelang hari masih siang. Kembali ke kebumen? Sepertinya sayang. Akhirnya kami memutuskan untuk jalan-jalan ke pasar Rejowinangun.

Saya sebenarnya agak bingung juga. Mau apa saya di pasar? Saya tidak pernah masuk pasar. Dulu Jaman saya kecil sih iya. Dulu saya sering ikut ibu ke pasar. Menurut gambaran saya, belanja di pasar tidak menyenangkan. Mau beli barang saja harus menawar dulu, bahkan saya sering dengar ada nada-nada tinggi dalam proses tawar menawar.

“Bu, sendale pira kiye?”

“Selawe.”

“Sepuluh ewu bae ya? Olih?”

“Mbak, nawar kok kayak nggone mbahe dewek.”

“Kene, rong puluh wis pas.”

“Lah, limolas. Olih tak tuku. Olih apa ora?”

“Ra, durung bisa mbak, tukune be ora olih semeno.”

Begitulah …..walaupun tidak sama persis. Tapi dalam gambaran saya pasar jadi tempat yang kurang menyenangkan. Wong mau beli saja susah. Nanti kalau barang sudah terbeli dengan usaha menawar setengah mati, masih saja kuatir. Jangan-jangan masih kemahalan harganya.

Tapi ternyata, di Rejowinangun saya tergoda juga untuk beli-beli. Gethuk singkong dua bungkus seharga masing-masing lima ribu rupiah. Tahu seharga sepuluh ribu rupiah. Dan sebungkus slondok seharga sepuluh ribu. Semua saya beli tanpa menawar sedikitpun. Menurut saya cukup murah. Dan yang jelas, ndak tega saya. Bayangkan. Tahu sepuluh ribu mendapat tiga belas potong besar-besar. Mau ditawar berapa lagi?

Tapi, ada satu yang membuat saya sungguh tertarik. Di sebuah sudut ada penjual jadah bakar. Tadinya dari kejauhan saya heran, ada asap tipis apa itu. Ternyata si mbak sedang membakar jadah. Wih potongannya besar-besar. Kalau ndak inget sudah jajan banyak, saya ingin membeli. Baunya sedap. Benar benar mengundang selera.

Saya agak ragu-ragu. Beli? Tidak? Beli? Tidak? Cukup lama saya di situ sambil menimbang-nimbang. Tiba-tiba saya sadar, dari tadi belum ada yang membeli jadah. Tapi si mbak dengan santainya terus membakar. Dia serius tanpa melihat atau berusaha menawarkan dagangannya ke orang lewat. Ditambahnya lagi jadah di atas bakaran. Bul…… Asap tipis mengepul.

Saya heran juga. Optimis juga si mbak ini. Lha kalau sampai nanti tidak ada yang membeli, terus jadah sebanyak itu mau diapakan? Kenapa kok membakarnya tidak nanti saja, kalau ada yang mau beli saja?

Sampai di mobil, hal itu jadi bahan obrolan buat saya dan suami. Menurut saya hal itu aneh. Tapi menurut suami tidak. Berarti si mbak tadi optimis dagangannya bakal laku. Mungkin pagi belum, mungkin siang. Nanti kalau siang belum laris juga, mungkin sore. Begitu kata suami saya.

Wah, saya jadi malu. Orang seperti si mbak jadah saja yakin pada rejekinya. Yakin pada belas kasihan Tuhan. Yakin bakal ada rejeki untuk dia dan keluarganya hari itu.

Sudah ada rejeki untuk hari ini pun, saya masih kuatir untuk yang besok. Apa besok laris seperti hari ini? Apalagi kalau sepi. Wih, bingungnya pol. Kadang saya sampai tergoda untuk melakukan hal yang tidak baik, hal yang tidak semestinya. Apa saya harus seperti banyak warung lain, memberi nota kosong? Atau mengutak atik angka di nota? Atau apa saja, menghalalkan segala cara agar pembeli mau ke warung saya?

Hari itu saya belajar banyak dari SEORANG PENJUAL JADAH BAKAR. Saya tidak tahu namanya. Saya tiadak tahu apa agamanya. Bahkan wajahnya pun saya sudah lupa.

Terima kasih mbak…. Saya janji kalau besok saya ke pasar itu lagi, saya akan borong jadah bakarmu. Akan saya bagi bagikan ke teman-teman. Dan saya katakan ini ada oleh-oleh sedikit. Dibeli dengan rejeki dari Bapa…

Salam

Laurensia

Posted in MEA VITA | Tagged: , , , , | Leave a Comment »

Matahari Yongki Simbok Gethuk

Posted by susiloari on September 28, 2008

Minggu 28 September 2008 Jam 7 pagi aku mancal APV-ku ke Mertoyudan Magelang mau njemput pulang anakku dari Seminari. Dia dapat libur lebaran. Kabar terakhir yang kuterima dia pulang habis siang. Biasanya sih (dulu) habis makan siang. So, sekitar jam 1 siang. Berhubung takut kena macet arus mudik, aku memutuskan untuk nggasikki.

Rupanya jalan gak macet sama sekali, meskipun rame, sehingga aku bisa nyampe Mertoyudan jam 10 kurang. Eh, blaik! Ternyata anak-anak seminaris baru bisa pulang setelah jam 2.30. Begitu kata mas-mas yang jaga di ruang tamu. Lama dong nunggunya….

Daripada bengong di tempat, aku putuskan untuk memantau (cie…) suasana menjelang lebaran di pusat kota Magelang. Resikonya emamng kena macet.

Benar saja. Jalanan di seputar alun-alun dan jalan pemuda penuh kendaraan. Orang-orang lalu-lalang. Pinggir jalan full parkir mobil. Aku sendiri akhirnya memarkir grobak jepangku di sisi barat alun-alun. Setelah bengong sebentar, akhirnya aku putuskan untuk jalan kaki nyebrang alun-alun ke arah Matahari Dept. Store.

Wuih…pada belanja, cing! Aku juga sok sibuk lihat-lihat barang. Pertama sepatu sama sandal. Hehe… Diskon 50%! Iya sih, kelihatannya murah. Tapi setelah ngelongok label harganya. Wits…kok kayaknya dinaikkan dulu dari harga wajar kalau nggak diskon. Sandal buatan Oom Yongki Komaladi yang biasa dijual di harga cepek-an berubah jadi Rp 199.900,-. Ya, sami wawon. Opok. Ndoboz.

Browsing aku lanjutkan ke lantai 2 dengan sedikit males gara-gara harga sulapan tadi. Sampai di lantai 2, aku melihat daerah mainan anak. Cling! Aku jadi ingat kalau anakku yang kecil. Belum lama ini dia pengin banget mainan papan yang bisa ditulis, yang tulisannya jadi hilang kalau alat penggesernya yang ada di papan itu digeser dari ujung yang satu ke ujung yang lain. Embuh apa namanya. Papan ajaib, mbok?

Aku beli satu. Harganya Rp 35.000. Didiskon jadi Rp 28.000-an.

Browsing-browsing sebentar, lalu keluar dari Matahari. Jalan lagi nyebrang alun-alaun ke arah parkiran mobil. Sentuuuupp! Bau kuah bakso masuk hidung. Mampirlah aku mbakso dulu. Clak, clak,clak! Di trotoar dekat mobilku parkir ibu-ibu penjual kelapa muda sedang beraksi mengayunkan bendo-nya. Ayunan pisau besar itu seperti lambaian tangan di mataku: mampir mas! OK! Aku lalu ndegan. Tentu setelah baksonya habis. Slurrpp!

Aku nengok jam tangan. Masih lama. Ngapaian lagi, ya?

APV aku pancal menyusuri jalan pemuda, terus ke selatan melewati pasar… Pasar! Aku mau ke pasar! Setelah celingak-celinguk, akhirnya dapat tempat parkir. Nyebrang jalan sebentar, mulailah episode browsing baru. Mas Ari tindak pasar……

Wualah, ramenya. Jalan di trotoar sambil senggal-senggol (nggak sengaja lho!). Macem-macem yang dijual. Ada sate yang bergelut dalam panci kupingan bersama ndas pitik, nanas-nanas yang sedang dikuliti oleh seorang ibu dengan muka tanpa ekspresi, gethuk magelang merah-hijau-coklat-putih, bunga hias-bunga tabur, tahu ayu-ayu, tempe ngawe-awe, sandal jepit, pisau, ember, tali jemuran. Komplit!

Di satu sisi trotoar ada 3 orang simbok-simbok duduk bersimpuh di belakang dagangannya: bunga tabur tiga kranjang kecil dan gula aren satu kranjang kecil. Orang-orang lalu lalang saja. Nggak ada yang beli. Aku perhatikan simbok ini. Mukanya kelihatan capek. Mungkin capek karena sudah memulai aktifitas bisnisnya sedari pagi buta. Mungkin juga karena dari pagi belum laku daganannya. I know it. Karena aku juga jualan.

Lalu lewatlah sepasang suami-istri ndeso bersama anaknya yang masih kecil. Rupanya mereka saling kenal. Maka meluncurlah percakapan dan sapaan bla-bla-bla.

“Wah, tindak sekalian niki…”

“Nggih, mbokde. Niki pados srandal-e thole”

“Lebaran nganyari srandal yo le…?”

Anak kecil yang ditanya itu cuma mesam-mesem sambil sentrap-sentrup nyedot umbel.

“Pinarak, monggo….”

“Sampun, mbokde…selak siang…”

Muka simbok itu jadi berseri-seri. Mukaku juga ketularan berseri-seri. Entah kenapa aku menikmati pemandangan itu tadi. Mungkin karena aku menangkap perubahan suasana dari lesu menjadi riang di muka simbok itu. Padahal dagangan tetap nggak laku. Mungkin juga kau geli mendengar simbok itu menarwarkan sepasang suami istri yang sedang lewat itu untuk pinarak, mampir. Mampir? Mampir di trotoar? Orang kan umumnya ngampirke orang lain di rumah. Lha ini kok di trotoar. Apa saking menghayati hidup bisnisnya sehingga simbok itu menyamakan level trotoar dengan rumahnya?

Aku segera berlalu. Takut jadi melow…

Sebelum meninggalkan kawasan pasar itu, aku sempatkan beli gethuk dan wajik buat oleh-oleh. Lalu aku meluncur ke selatan, ke Mertoyudan. Jam12.30. Ah, masih 2 jam lagi.

Posted in MEA VITA | Tagged: , , , | Leave a Comment »

Elang Kecilku di Sarang Baru

Posted by susiloari on September 1, 2008

“Aku tadi pagi ngepel dari sini sampai sana,” cerita Michael, anakku sambil tangannya menunjuk salah satu lorong di Seminari Mertoyudan. Ini cerita pertama yang keluar dari mulutnya. Dan selama dia, aku, istriku, Fillia-anakku yang ke-2 dan keluarga besar kami duduk bersama, banyak cerita kecil-kecil menyusul kemudian. Tidak ada keluhan, tidak ada cerita menyedihkan. Tentang mencuci baju sendiri, atau tentang jadwal hidupnya yang baru selama 43 hari pertama dia ada di situ. Bahkan penitensi (sanksi hukuman) pun diceritakannya dengan cengar-cengir.

Sebuah buku kenangan masa orientasinya kubuka. Anakku berefleksi:

PERUBAHANKU

(Michael Aquila Machiavelli – KPP3/20)

Sebelum masuk di seminari ini aku adalah pribadi yang santai. Di rumah aku belajar hanya pada waktu ulangan. Setiap hari aku selalu bermain tanpa mengetahui seberapa besar pengorbanan orang tua yang dilakukan untuk menghidupiku.

Setelah masuk di seminari ini, aku menjadi lebih menghargai waktu. Di sini aku tahu bahwa waktu sangat berharga. Di sini aku juga mulai menyadari betapa berat dan besar pengorbanan orang tuaku. Setelah menetap di seminari selama 40 hari, aku merasa kepribadianku mulai berubah sedikit demi sedikit. Aku bersyukur bahwa aku memilih memasuki seminari ini sebagai rumahku yang baru tidaklah salah***

Panggilannya dulu Michael. Sekarang mulai dipanggil Aquila. Burung Elang. Dan Elang kecilku sekarang sudah menemukan sarangnya yang baru.

Tentang perasaanku. Like Mother Mary, aku menyimpan semua dalam hati.

Berkah Dalem

Posted in MEA VITA | Tagged: , , , , , , | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.