nullum magnum ingenium sine mixtura dementiae fuit

arie’s life journal

Archive for the ‘COGITO’ Category

Rekrutmen Paulus – Transfer Window

Posted by susiloari on September 8, 2008

Hari Kamis malam yang lalu (4/9) Aku jadi pemandu pendalaman Kitab Suci (KS) di Lingkunganku, Lingkungan St. Yohanes – Paroki Kebumen St. Yohanes Maria Vianney Kebumen. Seperti yang sudah kami (para menandu) siapkan, aku memakai metode metaplan dalam memetakan alur kisah pertobatan Saulus yang berujung pada ‘lahirnya’ Paulus. Tentang metode ini aku akan tulis di posting-an berikutnya.

Dalam sesi mencari pesan dari perikop yang didalami, seorang bapak, sebut saja Pak Barto melontarkan pertanyaan.

“Pak Arie, Tuhan Yesus kok milih Saulus jadi salah satu murid yang diberi peran besar, padahal dia kan justru yang mengejar-ngejar, menangkap para pengikutNya? Ini kan aneh?”

Hehe. Kalau mau dilanjutin sih pasti muncul kalimat begini, “Nggak rela! Nggak rela!”

Aku diam. Nggak langsung menjawab. Cuma sedikit mesem. Mesem karena pertanyaan Pak Barto itu mengingatkanku pada obrolanku dengan Romo Slamet (pastor parokiku) siang sebelumnya di tokoku.

“Gusti Yesus ki ternyata manajer SDM sing top lho, Mo?

“Kok bisa?”

Lalu aku mulai nyrocos. Ini dalam konteks rekrutmen dan deployment para murid. 12 rasul awal yang direkrut itu (Yudas Iskariot termasuk anomali-skenarionya begitu sih) punya karakter low-profile-sederhana, manutan, gak pinter-pinter amat, jujur, mau setia. SDM seperti itu nggak cukup. Maka dalam rangka ‘marketing the church’ yang memerlukan the right man on the right place, direkrutlah Stefanus yang lebih thas-thes, berani dan lebih diperhitungkan kaum farisi ahli taurat. Eh, debutan ini keburu dihabisi geng-nya Saulus (Kis.7:54-8:1a).

Nah, sampai di sini naluri manejerial-Nya bekerja. Saulus itu kan puinter-ter, orang sekolahan-ahli taurat, berani, berkemauan keras, bukan yahudi lokalan (Tarsus). High profile banget, deh! Butuh orang kayak gini untuk di-deploy, membuat keseimbangan antar lini para murid Yesus (wah, malah kayak komentator bola). Tapi masalahnya dia ada di pihak musuh. Piye iki?

Maka terjadilah peristiwa penampakan (approachment) yang membutakan Saulus 3 hari lamanya itu (Kis.9:3-9). Peristiwa ini bagaikan ‘transfer window’ klub-klub bola Eropa. Dalam waktu mepet menggaet pemain unggulan milik lawan. Selanjutnya, setelah penumpangan tangan oleh Ananias kepada Saulus aka Paulus, komposisi murid-murid Yesus lebih menjanjikan. Keseimbangan antar lini terjaga. Dan faktor Paulus adalah kartu truf bagi ‘marketing the church’ di luar ranah Yahudi. Begitu.

Romo Parokiku cuma mesam-mesem mendengar cerocosanku yang sangat awami ini. Maklum aku kan Cuma lulusan Bulaksumur, bukan lulusan Urbanum.

Kembali ke laptop! Eh, pertanyaan Pak Barto.

Tentu saja aku nggak bisa menjawab dengan cerocosanku itu. Aku hanya bisa bilang, ya Yesus memang maunya begitu. Coba lihat apa kata Yesus kepada Ananias yang male-malesan waktu disuruh menemui Saulus yang buta: ….orang ini adalah alat pilihan bagiKu untuk memberitakan namaKu kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel (Kis.9:15). Pasti Yesus telah mempertimbangkan sebelum memilih dia. Begitu jawabanku.

Hehe. Nggak meyakinkan ya? OK deh. Kalau gitu, ada yang bisa bantu mencari jawaban yang meyakinkan?

Berkah Dalem

Posted in COGITO, KATOLISITAS | Tagged: , , , , , , , , , , , , | 3 Comments »

31 Tahun BKSN – Menantang Dunia

Posted by susiloari on September 1, 2008

Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2008 mulai bergulir. Banyak orang dan lembaga yang sibuk menyambut. Dari mulai tingkat lingkungan, stasi, paroki sampai keuskupan. Dari Penerbit Kanisius sampai PMKRI. Coba cari di google pakai kata kunci BKSN 2008, banyak halaman bisa ditemukan.

BKSN tahun ini digulirkan dalam tahun Paulus yang dicanangkan Paus Benediktus XVI. Tapi saya nggak akan membahas masalah tema sekarang ini. Yang pertama-tama menarik perhatian saya adalah umur BKSN itu sendiri. Kegiatan tahunan ini sudah digulirkan sejak tahun 1977. Sampai sekarang berarti sudah 31 tahun.

Lha kok umur jadi poin menarik? Begini, biasanya kegiatan itu kan ada targetnya, ada tujuannya. Dalam kurun waktu tertentu, kalau tujuannya sudah tercapai, ya kegiatannya berhenti. Atau kalau masih mau berjalan ya berlanjut ke tingkat yang lebih tinggi.

Selama 31 tahun BKSN punya tujuan yang masih sama; mendekatkan umat dengan kitab suci (KS). Ini sesuai dengan cita-cita gereja universal. Lha ini membuat saya bertanya-tanya dan berasumsi. Apakah selama 31 tahun Gereja Katolik di Indonesia belum berhasil mendekatkan umat dengan kitab suci? Bertahun-tahun kok tujuannya masih sama. Belum ada peningkatan. Apa memang ini proses yang tidak berkesudahan? Wah haiya lama-lama yang ngurus capek juga. Kerja keras tanpa peningkatan? Ada kesulitan apa sih?

Terus-terang, ini agak mengganggu saya. Bukan karena saya sudah termasuk yang dekat dengan KS. Tapi ya itu tadi, dilaksanakan bertahun-tahun kok’ ra ono kacek-e’. Salahnya di mana?

Saya coba-coba membaca buku pedoman BKSN termasuk bahan pendalaman KS. Setelah sekian halaman saya lalap, saya sampai pada bagian ini: Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. (Ibr.4:12).

O…lha genah! Sudah jamaknya orang cari yang enak-enak, yang bikin nyaman, yang menyenangkan, yang cocok dengan ‘keinginan daging’, yang ‘pro-aku’. Maka ketika dihadapkan pada firman Allah yang lebih tajam dari pedang bermata dua, yang menusuk amat dalam, tajam, menyakitkan, yang menuntut pengosongan diri, yang berlawanan dengan ‘naluri daging’…..ya nehi-nehi. Simpen aja kitab sucinya. Aman.

“Kamu harus mengampuni sampai tuju puluh tuju kali tujuh…..”. lha sekali saja uangelnya minta ampun!

“Cukupkanlah dengan gajimu…” Mana cukuuupp? Kalau bisa sih ngembat rejeki orang lain… oaran-orang lain juga begitu….

“Berbahagialah orang yang miskin…yang dianiaya…” Waduh! Edan, po!?

Di luar masalah metode, SDM dan sebagainya, BKSN itu memang proyek yang menentang dunia. Jadi yaw ajar kalau bertahun-tahun tujuannya masiiihh saja mendekatkan. Umat belum juga dekat-dekat dengan KS. Ini bukan bermaksud mengecilkan hati penggiat BKSN. Justru ini rahmat, yang membuat kita selalu berkesempatan bekerja untuk Tuhan. Don’t forget untuk selalu mohon kekuatan Roh Kudus menumbuhkan dan menggerakkan kerinduan umat terhadap Tuhan yang selalu setia menunggu untuk berjumpa dan berbicara dalam KS.

Ha. Maka saya pun nggak akan komplain lagi kenapa tujuan BKSN kok masih itu-itu saja.

Berkah Dalem

Posted in COGITO, KATOLISITAS | Tagged: , , , , , | 3 Comments »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.