nullum magnum ingenium sine mixtura dementiae fuit

arie’s life journal

Archive for the ‘KATOLISITAS’ Category

Injil Minggu Biasa XXIX/A 19 Oktober 2008 (Mat 22:15-21)

Posted by susiloari on October 14, 2008

MEMBAYAR PAJAK KEPADA KAISAR

Satu ketika Yesus dimintai pendapat tentang membayar pajak kepada Kaisar: apakah hal ini diperbolehkan (Mat 22:15-21). Bila mengatakan boleh maka ia akan menyalahi rasa kebangsaan. Tetapi bila mengatakan tidak, ia pun akan berhadapan dengan penguasa Romawi yang waktu itu mengatur negeri orang Yahudi. Para pengikut Yesus kerap dihadapkan ke masalah seperti itu. Ada dua macam rumusan. Yang pertama terlalu menyederhanakan perkaranya, dan bisanya berbunyi demikian: “Bolehkah mengakui dan hidup menurut kelembagaan duniawi?” Gagasan ini kurang membantu. Kalau bilang “ya” maka bisa dipersoalkan, lho kan orang beriman mesti hidup dari dan bagi Kerajaan Surga seutuhnya. Kalau bilang “tidak”, apa maksudnya akan mengadakan pemerintahan ilahi di muka bumi? Pertanyaan ini sama dengan jerat yang diungkapkan murid-murid kaum Farisi. Untunglah, ada pertanyaan yang lebih cocok dengan inti Injil hari ini: Bagaimana Yesus sang pembawa warta Kerajaan Surga melihat kehidupan di dunia ini? Ia memakai pendekatan frontal? Atau pendekatan kerja sama? Apa yang dapat dipetik dari cara pandangnya?

SEBUAH DISKUSI

Menurut kebiasaan kaum terpelajar Yahudi waktu itu, dalam menanggapi pertanyaan yang membawa ke soal yang makin rumit, orang berhak mengajukan sebuah pertanyaan guna menjernihkan perkaranya terlebih dahulu. Lihat misalnya pertanyaan dalam Mat 21:23-25 mengenai asal kuasa Yesus. Dalam perbincangan mengenai boleh tidaknya membayar pajak kepada Kaisar, Yesus mengajak lawan bicaranya memasuki persoalan yang sesungguhnya. Ia meminta mereka menunjukkan mata uang pembayar pajak dan bertanya gambar siapa tertera di situ. Mereka tidak dapat menyangkal itu gambar Kaisar. Yesus pun menyudahi pembicaraan dengan mengatakan, “Berikanlah kepada Kaisar yang wajib kalian berikan kepada Kaisar dan kepada Allah yang wajib kalian berikan kepada Allah!” Dengan jawaban ini ia membuat mereka memikirkan sikap mereka sendiri baik terhadap “urusan kaisar” maupun keprihatinan mereka mengenai “urusan Allah” dan sekaligus menghindari jerat yang dipasang lawan-lawannya. Bagaimana penjelasannya?

Kaum Farisi memang bermaksud menjerat Yesus. Mereka menyuruh murid-murid mereka datang kepadanya bersama dengan para pendukung Herodes. Kedua kelompok ini sebetulnya memiliki pandangan yang bertolak belakang. Orang-orang Farisi secara prinsip tidak mengakui hak pemerintah Romawi memungut pajak yang dikenal sebagai pajak “kensos”, yakni pajak bagi penduduk, praktisnya sama dengan pajak hak milik tanah. Inilah pajak yang dibicarakan dalam petikan ini. Tidak dibicarakan pajak pendapatan. Mereka yang warga Romawi tidak dikenai pajak penduduk, tapi mereka diwajibkan membayar pajak pendapatan kepada pemerintah. Orang Yahudi yang bukan warga Romawi diharuskan membayar pajak penduduk. Maklumlah, seluruh negeri telah diserap ke dalam kedaulatan Romawi. Pemerintah Romawi tidak memungut pajak pendapatan orang Yahudi bukan warga Romawi. Tapi aturan agama juga mewajibkan mereka membayar pajak pendapatan dan hasil bumi yang dikenal dengan nama “persepuluhan” kepada lembaga agama. Disebut pajak Bait Allah. Kepengurusan Bait Allah akan mengatur pemakaian dana tadi bagi pemeliharaan tempat ibadat, menghidupi yatim piatu, janda, kaum terlantar serta keperluan sosial lain. Jadi orang Yahudi yang memiliki tanah dan berpendapatan dipajak dua kali.

MASALAH PAJAK?

Bagi orang Farisi, membayar pajak penduduk berarti mengakui kekuasaan Romawi atas tanah suci. Padahal dalam keyakinan mereka, tanah itu milik turun temurun yang diberikan Allah, dan tak boleh diganggu gugat, apalagi dipajak. Maka pungutan pajak penduduk dirasakan sebagai perkara yang amat melawan ajaran agama leluhur. Para penarik pajak yang orang Yahudi dipandang sebagai kaum murtad dan melawan inti keyahudian sendiri. Mereka itu dianggap pendosa, sama seperti perempuan yang tidak setia.

Bagaimana sikap para pendukung Herodes? Yang dimaksud ialah Herodes Antipas, penguasa wilayah Galilea di bagian utara tanah suci. Pemerintah Romawi meresmikannya sebagai penguasa “pribumi” dan memberi wewenang dalam urusan sipil dan militer di wilayahnya. Tetapi di Yerusalem dan Yudea wewenang dipegang langsung oleh perwakilan Romawi, waktu itu Ponsius Pilatus. Herodes mengikuti politik Romawi dan merasa berhak menarik pajak penduduk di wilayahnya. Mereka yang disebut kaum pendukung Herodes dalam Mat 21:16 itu sebetulnya bukan mereka yang tinggal di Galilea, melainkan orang Yerusalem dan Yudea pada umumnya yang menginginkan otonomi “pribumi” seperti Herodes di utara. Mereka memperjuangkan pajak penduduk – pajak yang dibicarakan dalam petikan ini – tetapi bukan bagi pemerintah Romawi, melainkan bagi kas kegiatan politik mereka di Yudea dan Yerusalem. Jadi mereka berbeda paham dengan orang Farisi yang menganggap penarikan pajak penduduk dalam bentuk apa saja oleh siapa saja tidak sah dan melawan ajaran agama.

Bila Yesus menyetujui pembayaran pajak penduduk yang diklaim penguasa Romawi, ia akan berhadapan dengan mereka yang bersikap nasionalis dan akan dianggap meremehkan pandangan teologis bahwa tanah suci ialah hak yang langsung diberikan oleh Allah. Dan orang Farisi bisa memakainya untuk mengobarkan rasa tidak suka kepada Yesus. Tetapi bila ia mengatakan jangan, maka ia akan bermusuhan dengan para pendukung Herodes yang dibawa serta orang Farisi dan sekaligus melawan politik Romawi. Jawaban apapun akan membuat Yesus mendapat lawan-lawan baru. Memang itulah yang diinginkan oleh orang Farisi.

PEMECAHAN

Ketika mengatakan berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib diberikan kepada Kaisar sebetulnya Yesus mengajak lawan bicaranya memikirkan keadaan mereka sendiri, yakni dibawahkan pada kuasa Romawi. Jelas kaum Farisi dan para pendukung Herodes hendak menyangkalnya, tapi dengan alasan yang berbeda. Kaum Farisi menolak dengan alasan agama, sedangkan kaum pendukung dengan alasan kepentingan politik mereka sendiri. Di sini ada titik temu dengan permasalahan yang kadang-kadang dihadapi para pengikut Yesus di manapun juga seperti disebut pada awal ulasan ini. Bukan dalam arti mengidentifikasi diri dengan pilihan orang-orang yang datang membawa masalah, melainkan belajar dari sikap Yesus dalam menghadapi persoalan tadi. Dengan mengatakan bahwa patutlah diberikan kepada Allah yang wajib diberikan kepadaNya, Yesus hendak menekankan perlunya integritas batin. Bila kehidupan agama mereka utamakan, hendaklah mereka menjalankannya dengan lurus. Bila mau jujur, mereka mau tak mau akan memeriksa diri adakah mereka sungguh percaya atau sebetulnya mereka menomorsatukan kepentingan sendiri dengan memperalat agama.

Yesus juga membuat mereka yang datang kepadanya berpikir apakah ada pilihan lain selain memberikan kepada Kaisar yang menjadi haknya. Bila ya, coba mana? Ternyata keadaan mereka tak memungkinkan. Mereka tidak mencoba menemukan kemungkinan yang lain. Mereka telah menerima status quo dan tidak mengusahakan perbaikan kecuali dengan mengubahnya menjadi soal teologi. Padahal masalahnya terletak dalam kehidupan sehari-hari. Iman dan hukum agama mereka pakai sebagai dalih dan sebenarnya mereka permiskin. Yesus tidak mengikuti pemikiran yang sempit ini.

Pada akhir petikan disebutkan mereka “heran” mendengar jawaban tadi. Dalam dunia Perjanjian Lama, para musuh umat tak bisa berbuat banyak karena Allah sendiri melindungi umatNya dengan tindakan-tindakan ajaib. Para lawan itu tak berdaya dan bungkam mengakui kebesaranNya. Inilah makna “heran” tadi. Mereka kini terdiam mengakui kebijaksanaan Yesus dan mundur. Seperti penggoda di padang gurun yang terdiam dan mundur meninggalkannya.

KOMUNITAS ORANG YANG PERCAYA

Ketika merumuskan pertanyaan mereka (Mat 21:16), murid-murid orang Farisi terlebih dahulu menyebut Yesus sebagai “orang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan tidak takut kepada siapa pun juga, sebab tidak mencari muka.” Dalam bahasa sekarang, Yesus itu dikenal sebagai orang yang punya prinsip serta hidup sesuai dengan prinsip tadi secara transparan . Bukannya demi meraih keuntungan dan menjaga kedudukan. Orang yang mencobainya sebetulnya sudah melihat arah pemecahan masalah, yakni sikapnya yang terarah pada kepentingan Allah. Pembicaraan selanjutnya menunjukkan bahwa sikap itu bukan sikap menutup diri terhadap urusan duniawi dan memusuhinya. Malah hidup dengan urusan duniawi itu juga menjadi cara untuk membuat kehidupan rohani lebih berarti. Itulah kebijaksanaan Yesus. Itulah yang dapat dikaji dan diikuti para pengikutnya.

Gagasan pokok yang ditampilkan dalam petikan di atas dapat menjadi arahan bagi Gereja. Apakah Gereja sebagai lembaga rohani yang ada di muka bumi ini menemukan perannya juga? Sebagai kelompok masyarakat agama, Gereja diharapkan dapat berdialog dengan kenyataan yang berubah-ubah dalam masyarakat luas tanpa memaksa-maksakan posisi dan pilihan-pilihan sendiri. Pada saat yang sama disadari juga betapa pentingnya menjalankan perutusannya sebagai komunitas orang-orang yang mau menghadirkan Allah, yang memungkinkan urusanNya berjalan sebaik-baiknya di bumi ini. Petikan di atas mengajak orang menumbuhkan kebijaksanaan hidup dan menepati perutusan tadi.

Salam,
A. Gianto

Posted in JENDELA ALKITAB, KATOLISITAS | Tagged: , , , , , , | Leave a Comment »

Rekrutmen Paulus – Transfer Window

Posted by susiloari on September 8, 2008

Hari Kamis malam yang lalu (4/9) Aku jadi pemandu pendalaman Kitab Suci (KS) di Lingkunganku, Lingkungan St. Yohanes – Paroki Kebumen St. Yohanes Maria Vianney Kebumen. Seperti yang sudah kami (para menandu) siapkan, aku memakai metode metaplan dalam memetakan alur kisah pertobatan Saulus yang berujung pada ‘lahirnya’ Paulus. Tentang metode ini aku akan tulis di posting-an berikutnya.

Dalam sesi mencari pesan dari perikop yang didalami, seorang bapak, sebut saja Pak Barto melontarkan pertanyaan.

“Pak Arie, Tuhan Yesus kok milih Saulus jadi salah satu murid yang diberi peran besar, padahal dia kan justru yang mengejar-ngejar, menangkap para pengikutNya? Ini kan aneh?”

Hehe. Kalau mau dilanjutin sih pasti muncul kalimat begini, “Nggak rela! Nggak rela!”

Aku diam. Nggak langsung menjawab. Cuma sedikit mesem. Mesem karena pertanyaan Pak Barto itu mengingatkanku pada obrolanku dengan Romo Slamet (pastor parokiku) siang sebelumnya di tokoku.

“Gusti Yesus ki ternyata manajer SDM sing top lho, Mo?

“Kok bisa?”

Lalu aku mulai nyrocos. Ini dalam konteks rekrutmen dan deployment para murid. 12 rasul awal yang direkrut itu (Yudas Iskariot termasuk anomali-skenarionya begitu sih) punya karakter low-profile-sederhana, manutan, gak pinter-pinter amat, jujur, mau setia. SDM seperti itu nggak cukup. Maka dalam rangka ‘marketing the church’ yang memerlukan the right man on the right place, direkrutlah Stefanus yang lebih thas-thes, berani dan lebih diperhitungkan kaum farisi ahli taurat. Eh, debutan ini keburu dihabisi geng-nya Saulus (Kis.7:54-8:1a).

Nah, sampai di sini naluri manejerial-Nya bekerja. Saulus itu kan puinter-ter, orang sekolahan-ahli taurat, berani, berkemauan keras, bukan yahudi lokalan (Tarsus). High profile banget, deh! Butuh orang kayak gini untuk di-deploy, membuat keseimbangan antar lini para murid Yesus (wah, malah kayak komentator bola). Tapi masalahnya dia ada di pihak musuh. Piye iki?

Maka terjadilah peristiwa penampakan (approachment) yang membutakan Saulus 3 hari lamanya itu (Kis.9:3-9). Peristiwa ini bagaikan ‘transfer window’ klub-klub bola Eropa. Dalam waktu mepet menggaet pemain unggulan milik lawan. Selanjutnya, setelah penumpangan tangan oleh Ananias kepada Saulus aka Paulus, komposisi murid-murid Yesus lebih menjanjikan. Keseimbangan antar lini terjaga. Dan faktor Paulus adalah kartu truf bagi ‘marketing the church’ di luar ranah Yahudi. Begitu.

Romo Parokiku cuma mesam-mesem mendengar cerocosanku yang sangat awami ini. Maklum aku kan Cuma lulusan Bulaksumur, bukan lulusan Urbanum.

Kembali ke laptop! Eh, pertanyaan Pak Barto.

Tentu saja aku nggak bisa menjawab dengan cerocosanku itu. Aku hanya bisa bilang, ya Yesus memang maunya begitu. Coba lihat apa kata Yesus kepada Ananias yang male-malesan waktu disuruh menemui Saulus yang buta: ….orang ini adalah alat pilihan bagiKu untuk memberitakan namaKu kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel (Kis.9:15). Pasti Yesus telah mempertimbangkan sebelum memilih dia. Begitu jawabanku.

Hehe. Nggak meyakinkan ya? OK deh. Kalau gitu, ada yang bisa bantu mencari jawaban yang meyakinkan?

Berkah Dalem

Posted in COGITO, KATOLISITAS | Tagged: , , , , , , , , , , , , | 3 Comments »

31 Tahun BKSN – Menantang Dunia

Posted by susiloari on September 1, 2008

Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2008 mulai bergulir. Banyak orang dan lembaga yang sibuk menyambut. Dari mulai tingkat lingkungan, stasi, paroki sampai keuskupan. Dari Penerbit Kanisius sampai PMKRI. Coba cari di google pakai kata kunci BKSN 2008, banyak halaman bisa ditemukan.

BKSN tahun ini digulirkan dalam tahun Paulus yang dicanangkan Paus Benediktus XVI. Tapi saya nggak akan membahas masalah tema sekarang ini. Yang pertama-tama menarik perhatian saya adalah umur BKSN itu sendiri. Kegiatan tahunan ini sudah digulirkan sejak tahun 1977. Sampai sekarang berarti sudah 31 tahun.

Lha kok umur jadi poin menarik? Begini, biasanya kegiatan itu kan ada targetnya, ada tujuannya. Dalam kurun waktu tertentu, kalau tujuannya sudah tercapai, ya kegiatannya berhenti. Atau kalau masih mau berjalan ya berlanjut ke tingkat yang lebih tinggi.

Selama 31 tahun BKSN punya tujuan yang masih sama; mendekatkan umat dengan kitab suci (KS). Ini sesuai dengan cita-cita gereja universal. Lha ini membuat saya bertanya-tanya dan berasumsi. Apakah selama 31 tahun Gereja Katolik di Indonesia belum berhasil mendekatkan umat dengan kitab suci? Bertahun-tahun kok tujuannya masih sama. Belum ada peningkatan. Apa memang ini proses yang tidak berkesudahan? Wah haiya lama-lama yang ngurus capek juga. Kerja keras tanpa peningkatan? Ada kesulitan apa sih?

Terus-terang, ini agak mengganggu saya. Bukan karena saya sudah termasuk yang dekat dengan KS. Tapi ya itu tadi, dilaksanakan bertahun-tahun kok’ ra ono kacek-e’. Salahnya di mana?

Saya coba-coba membaca buku pedoman BKSN termasuk bahan pendalaman KS. Setelah sekian halaman saya lalap, saya sampai pada bagian ini: Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. (Ibr.4:12).

O…lha genah! Sudah jamaknya orang cari yang enak-enak, yang bikin nyaman, yang menyenangkan, yang cocok dengan ‘keinginan daging’, yang ‘pro-aku’. Maka ketika dihadapkan pada firman Allah yang lebih tajam dari pedang bermata dua, yang menusuk amat dalam, tajam, menyakitkan, yang menuntut pengosongan diri, yang berlawanan dengan ‘naluri daging’…..ya nehi-nehi. Simpen aja kitab sucinya. Aman.

“Kamu harus mengampuni sampai tuju puluh tuju kali tujuh…..”. lha sekali saja uangelnya minta ampun!

“Cukupkanlah dengan gajimu…” Mana cukuuupp? Kalau bisa sih ngembat rejeki orang lain… oaran-orang lain juga begitu….

“Berbahagialah orang yang miskin…yang dianiaya…” Waduh! Edan, po!?

Di luar masalah metode, SDM dan sebagainya, BKSN itu memang proyek yang menentang dunia. Jadi yaw ajar kalau bertahun-tahun tujuannya masiiihh saja mendekatkan. Umat belum juga dekat-dekat dengan KS. Ini bukan bermaksud mengecilkan hati penggiat BKSN. Justru ini rahmat, yang membuat kita selalu berkesempatan bekerja untuk Tuhan. Don’t forget untuk selalu mohon kekuatan Roh Kudus menumbuhkan dan menggerakkan kerinduan umat terhadap Tuhan yang selalu setia menunggu untuk berjumpa dan berbicara dalam KS.

Ha. Maka saya pun nggak akan komplain lagi kenapa tujuan BKSN kok masih itu-itu saja.

Berkah Dalem

Posted in COGITO, KATOLISITAS | Tagged: , , , , , | 3 Comments »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.