nullum magnum ingenium sine mixtura dementiae fuit

arie’s life journal

Archive for the ‘HUMOR’ Category

Jawa Kreatif aka Java Creative

Posted by susiloari on September 26, 2008

Ini kiriman, tepatnya forward-an dari Romo Slamet Lasmunadi Pr. Mbuh asalnya dari mana. Silakan dinikmati. Berkah Dalem.

(Jawa Mode On – Please fasten your seatbelt)

Selain lembaga pemerintahan, kebiasaan singkat menyingkat juga berlaku untuk
tag line suatu daerah.

Solo Berseri, Jogja Berhati Nyaman, Temanggung Bersenyum, Cilacap Bercahaya,
semuanya adalah singkatan.

Juga untuk menyebut suatu kawasan, yang katanya akan menjadi suatu kawasan yang unggul dan berkembang.

Bermula dari Jabotabek, eh sekarang Jabodetabek.
Muncul pula Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya ,
Sidoarjo, Lamongan),
Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen),
Pawonsari Bakulrejo (Pacitan Wonogiri Wonosari, Bantul, Kulon Progo,
Purworejo),
atau Joglosemar (Jogja Solo Semarang).

Beruntung tidak ada yang membalik urutannya menjadi Semarang Solo Yogya,
disingkat menjadi Semar Loyo.
Mungkin di masa mendatang akan muncul juga Dibalang Sendal (Purwodadi,
Batang, Pemalang, Semarang , Kendal),
atau Kasur Bosok (Karanganyar, Sukoharjo, Boyolali, Solo, Klaten).
Asal jangan Susu Mbokde (Surakarta , Sukoharjo, Mboyolali, Kartasura,
Delanggu)
atau Tanteku Montok (Panjatan, Tegalan, Kulwaru, Temon, Toyan, Kokap)

Anak-anak muda Jogja tidak kalah kreatifnya untuk ikut-ikutan menyingkat
nama tempat.
Sebut saja Amplas untuk Ambarukmo Plaza , atau Jakal (Jalan Kaliurang),
Jamal (Jalan Magelang).
Kalau sampeyan sekolah di SMA 6, bisa nyombong kalau sampeyan sekolah di
Depazter alias Depan Pasar Terban.

Bahkan, dari pusat kota Jogja, sangat mudah untuk mencapai
Paris(Parangtritis),
atau Pakistan (Pasar Kidul Stasiun alias Sarkem),
bahkan Banglades (Bangjo Lapangan Denggung Sleman).

Sampeyan seorang yang enthengan, ringan tangan, suka membantu, ndak pernah
menolak untuk dimintai tolong?
Berarti sampeyan layak menyandang nama Willem Ortano, alias Dijawil Gelem
Ora Tau Nolak.
Atau kalau sampeyan pinter omong, jualan obat, meyakinkan orang dengan
omongan sampeyan
yang nggak karuan bener salahnya, maka jangan marah kalau sampeyan dipanggil
sebagai Toni Boster, alias Waton Muni Ndobose Banter.

Posted in CERITA, HUMOR | Tagged: , , , , , , | 1 Comment »

Kang Duko

Posted by susiloari on September 8, 2008

not me

not me

Cak Ma’roeb melancong ke Jogja. naik kereta dari Wonokromo turun di Stasiun Tugu. Bingung mau ke mana, akhirnya manggil becak. Pokoknya puter-puter, katanya. Tukang becaknya manggut-manggut saja.

Pelan tapi pasti becak meninggalkan Stasiun Tugu, meluncur ke Malioboro. Cak Ma’roeb berdecak kagum melihat deretan toko-toko di sepanjang jalan yang terkenal seantero nusantara itu.

“Lek, toko-toko ini semua punyak-e siapa?” selidik Cak ma’roeb. Tukang becaknya bingung. Pastinya punya orang banyak. Tapi masak dia harus sebut satu-satu.

“Duko”, akhirnya dia hanya jawab begitu.

“Wah, Kang Duko tokonya bagus-bagus, banyak lagi. Suogih eram!”

Becak meluncur terus ke selatan memasuki alun-alun utara.

“Lek, iki pekarangane siapa?”

Tukang becaknya sebenarnya tahu alun-alun utara itu milik Kanjeng Sultan hamengkubuwono. Tapi kalo dijawab, dia takut kalo penumpangnya yang satu ini nanti tanya macem-macem tentang Kanjeng Sultan. Akhirnya dia memutuskan menjawab dengan jawaban yang sama.

“Duko.”

“Byuh….tokone akeh, punya halaman luas lagi……kang Duko, soegih eram sampeyan!”

Tukang becaknya mesem-mesem. dalam hati bilang…Ha! tak kerjain saja orang ini! Melaju sedikit lagi ke arah selatan, becak itu sampai di samping Kraton Jogja.

“Lha ini rumah siapa, Lek?”

“Duko”

“Byuh-byuh…. Kang Duko, rek! Tokone akeh, omahe guedhe apik, halamannya luas….”

Tukang becaknya tambah geli. Tambah semangat pula nggenjotnya. Sebentar sudah sampai di Pasar Burung Ngasem. Kebetulan banyak turis-turis asing di kawasan itu. “Londo-londo” itu, terutama yang cewek pake baju sekenanya, maklum kepanasan. Mata Cak Ma’roeb melotot keasyikan melihat pemandangan indah terhampar di mana-mana.

“Lek,…iku arek wedok-wedok, londo ayu-ayu bojone siapa?”

“Duko”

“Byuh……Kang Duko, rek, kuat eram duwe bojo akeh. Bojone londo-londo!”

Tukang becaknya tambah terhibur. Becak terus digenjot meluncur ke arah selatan. sampailah mereka di depan Gereja Pugeran.

“Lek, gereja yang besar itu punya siapa?”

“Duko”, kali ini Tukang bcaknya benar-benar gak tahu.

“Oh…….Kang Duko iku Kresten, ta!” Tapi kok bojonya banyak?”

Tukang becaknya sekarang mulai geleng-geleng….mikirin turisnya yang satu ini. Becak belok ke arah timur. pas lagi kenceng-kencengnya meluncur, tiba-tiba serombongan pelayat memotong jalan diikuti mobil jenazah. Becak terpaksa berhenti. Ciiitt!

“Waduh! Orang meninggal! Siapa Lek yang meninggal?”

“Duko”

Mendengan jawaban ini, kontan Cak ma’roeb turun dari becak, berdiri sambil membuka topi laken-nya. Sebentar ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Byuh..byuh….byuh…. kang Duko, rek…tokonya banyak, rumahnya bagus, halamannya luas, istrinya cuantik-cuantik eh,….ditinggal matek!”***

(ini salah satu cerita pengantar tidur dari bapakku)


Posted in CERITA, HUMOR | Tagged: , , , | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.