nullum magnum ingenium sine mixtura dementiae fuit

arie’s life journal

Archive for October, 2008

SHAME ON YOU!

Posted by susiloari on October 18, 2008

Menyandang status bisnisman ‘swasta’, meskipun kecil-kecilan bagiku cukup membanggakan. saking bangganya, kadang aku agak memandang rendah pegawai, terutama ‘pegawai negri’. Ada beberapa alasan:

1. Berarti aku ini orang yang mandiri secara finansial, tidak menggantungkan ‘hidupku’ pada belas kasihan pemerintah. Tidak perlu merengek-rengek minta naik gaji.

2. Karena secara finansial mandiri, maka aku merasa lebih independen dalam mengatur hidupku, menyuarakan pendapatku. Aku tidak takut dihukum indisipliner. Tidak merasa gerah harus berseragam. Tidak perlu menjilat pantat atasan.

3. Status itu mendorongku untuk terus maju berkembang, tidak stagnan, tidak gampang puas. Tanpa etos seperti itu, tentu aku bakal ‘gulung tikar’. kalau hanya duduk baca koran, dari mana dapat uang? kalau hanya males-malesan mangkir kerja, mau dibawa kemana periuk nasi? Tuntutan untuk tidak mandeg bahkan bangkrut itu membentuk pribadi yang komit 100% pada apa yang dipikirkan dan dikerjakan. Pribadiku berkembang terus, bukan sebatas urusan bisnis, tapi pada hal-hal lain di luar itu. Hati-hati, cermat, nggak serakah, terukur…

4. Aku bertanggung jawab atas hidupku. Kalau tambah duit ya karena usahaku. kalau bangkrut ya resikoku yang harus kutanggung.

Mencermati ‘musibah-musibah ekonomi’ belakangan ini membuatku berpikir rupanya yang patut berbangga dengan status ‘swasta’ cuma mereka yang kecil-kecilan saja. Yang besar-besar, yang kelas kakap ketahuan ‘memble’-nya. Contoh paling fresh adalah kasus Lehman Brothers Inc dan lembaga bisnis keuangan raksasa lainnya. dalam situasi normal, pongahnya bukan main. Gaya hidup para petingginya selangit! Super elit!. Begitu bangkrut dililit utang, eh ngacir ke pengadilan pailit. Minta dipailitkan. Dengan status pailit berarti lepas tanggung jawab dong. Tinggal gimana maunya pemerintah sebagai regulator. Jual asset kek. Suntik dana segar kek.

Diukur dengan istrumen 4 faktor kebanggaan seperti yang aku sebut, nggak lolos deh! malu-maluin ‘swasta’ aja nih.

1. Mempailitkan diri, pasrah bongkok-an kepada pemerintah berarti hidup dalam belas kasihan. Dirampas assetnya ya monggo, dibantu ya sukur….. najis!

2. Jelas nggak ada lagi independensi. Harus manut! (Herannya tampang si Richard S Fuld Jr, CEO Lehman Bros kok ya tetap pongah aja ya?…rai gedhek!)

3. Kebangkrutan gara-gara Subprime Mortage itu jelas berawal dari ketamakan yang mengalahkan kehati-hatian dan keterukuran.

4. Sama sekali nggak tanggung jawab. Nggak ingat gayanya waktu berjaya.

Maka nggak salah kalau si Clark Clark berulah. Londo edan asal AS ini melakukan aksi satire. Dia pura-pura jadi pengemis di depan bursa saham New York. Tindakannya menyindir korporasi AS uang yang dililit kebangkrutan dan akhirnya ditolong dengan dana penyelamatan dari pemerintah (berita foto Kompas 13/10).

Kepada korporasi-korporasi kakap tapi bermental kere, sebagai bisnisman ‘swasta’ kecil-kecilan yang bangga dengan statusnya, I just want to say….SHAME.. ON.. YOU!!

Berkah Dalem

Posted in MY THOUGHTS | Tagged: , , , , , , , | Leave a Comment »

KRISIS SUBPRIME DI AS – KALAU LANGIT MASIH KURANG TINGGI

Posted by susiloari on October 14, 2008

(Tulisan ini ditulis oleh Dahlan Iskan, CEO JawaPos Grup. Menarik, karena lewat tuturan yang sederhana (for dummies), saya yang nggak mudeng ekonomi njlimet itu lalu sedikit lebih ngeh. Oh, begitu to….. Selamat berdummie-ria. Berkah Dalem)

Meski saya bukan ekonom, banyak pembaca tetap minta saya “menceritakan”secara awam mengenai hebatnya krisis keuangan di AS saat ini. Seperti juga, banyak pembaca tetap bertanya tentang sakit liver, meski mereka tahu saya bukan dokter. Saya coba:

Semua perusahaan yang sudah go public lebih dituntut untuk terus berkembang di semua sektor. Terutama labanya. Kalau bisa, laba sebuah perusahaan publik terus meningkat sampai 20 persen setiap tahun. Soal caranya bagaimana, itu urusan kiat para CEO dan direkturnya.

Pemilik perusahaan itu (para pemilik saham) biasanya sudah tidak mau tahu lagi apa dan bagaimana perusahaan tersebut dijalankan. Yang mereka mau tahu adalah dua hal yang terpenting saja: harga sahamnya harus terus naik dan labanya harus terus meningkat.

Perusahaan publik di AS biasanya dimiliki ribuan atau ratusan ribu orang, sehingga mereka tidak peduli lagi dengan tetek-bengek perusahaan mereka.

Mengapa mereka menginginkan harga saham harus terus naik?

Agar kalau para pemilik saham itu ingin menjual saham, bisa dapat harga lebih tinggi dibanding waktu mereka beli dulu: untung.

Mengapa laba juga harus terus naik? Agar, kalau mereka tidak ingin jual saham, setiap tahun merekabisa dapat pembagian laba (dividen) yang kian banyak.

Soal cara bagaimana agar keinginan dua hal itu bisa terlaksana dengan baik, terserah pada CEO-nya. Mau pakai cara kucing hitam atau cara kucing putih, terserah saja. Sudah ada hukum yang mengawasi cara kerja para CEO tersebut: hukum perusahaan, hukum pasar modal, hukum pajak, hokum perburuhan, dan seterusnya.

Apakah para CEO yang harus selalu memikirkan dua hal itu merasa tertekan dan stres setiap hari? Bukankah sebuah perusahaan kadang bisa untung, tapi kadang bisa rugi?

Anehnya, para CEO belum tentu merasa terus-menerus diuber target. Tanpa disuruh pun para CEO sendiri memang juga menginginkannya.

Mengapa?

Pertama, agar dia tidak terancam kehilangan jabatan CEO. Kedua, agar dia mendapat bonus superbesar yang biasanya dihitung sekian persen dari laba dan pertumbuhan yang dicapai. Gaji dan bonus yang diterima para CEO perusahaan besar di AS bisa 100 kali lebih besar dari gaji Presiden George Bush. Mana bisa dengan gaji sebesar itu masih stres?

Keinginan pemegang saham dan keinginan para CEO dengan demikian seperti tumbu ketemu tutup: klop. Maka, semua perusahaan dipaksa untuk terus-menerus berkembang dan membesar. Kalau tida ada jalan, harus dicarikan jalan lain.. Kalau jalan lain tidak ditemukan, bikin jalan baru.. Kalau bikin jalan baru ternyata sulit, ambil saja jalannya orang lain. Kalau tidak boleh diambil ? Beli ! Kalau tidak dijual? Beli dengan cara yang licik -dan kasar! Istilah populernya hostile take over.

Kalau masih tidak bisa juga, masih ada jalan aneh: minta politisi untuk bikinkan berbagai peraturan yang memungkinkan perusahaan bisa mendapat jalan. Kalau perusahaan terus berkembang, semua orang happy. CEO dan para direkturnya happy karena dapat bonus yang mencapai Rp 500 miliar setahun. Para pemilik saham juga happy karena kekayaannya terus naik. Pemerintah happy karena penerimaan pajak yang terus membesar. Politisi happy karena dapat dukungan atau sumber dana.

Dengan gambaran seperti itulah ekonomi AS berkembang pesat dan kesejahteraan rakyatnya meningkat. Semua orang lantas mampu membeli kebutuhan hidupnya. Kulkas, TV, mobil, dan rumah laku dengan kerasnya. Semakin banyak yang bisa membeli barang, ekonomi semakin maju lagi.

Karena itu, AS perlu banyak sekali barang. Barang apa saja. Kalau tidak bisa bikin sendiri, datangkan saja dari Tiongkok atau Indonesia atau negara lainnya. Itulah yang membuat Tiongkok bisa menjual barang apa saja ke AS yang bisa membuat Tiongkok punya cadangan devisa terbesar di dunia: USD 2 triliun!

Sudah lebih dari 60 tahun cara ”membesarkan’ ‘ perusahaan seperti itu dilakukan di AS dengan suksesnya. Itulah bagian dari ekonomi kapitalis. AS dengan kemakmuran dan kekuatan ekonominya lalu menjadi penguasa dunia.

Tapi, itu belum cukup.Yang makmur harus terus lebih makmur. Punya toilet otomatis dianggap tidak cukup lagi: harus computerized!

Bonus yang sudah amat besar masih kurang besar. Laba yang terus meningkat harus terus mengejar langit. Ukuran perusahaan yang sudah sebesar gajah harus dibikin lebih jumbo. Langit, gajah, jumbo juga belum cukup.

Ketika semua orang sudah mampu beli rumah, mestinya tidak ada lagi perusahaan yang jual rumah. Tapi, karena perusahaan harus terus meningkat, dicarilah jalan agar penjualan rumah tetap bisa dilakukan dalam jumlah yang kian banyak. Kalau orangnya sudah punya rumah, harus diciptakan agar kucing atau anjingnya juga punya rumah. Demikian juga mobilnya.

Tapi, ketika anjingnyapun sudah punya rumah, siapa pula yang akan beli rumah? Kalau tidak ada lagi yang beli rumah, bagaimana perusahaan bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan penjamin bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan alat-alat bangunan bisa lebih besar? Bagaimana bank bisa lebih besar? Bagaimana notaris bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan penjual kloset bisa lebih besar? Padahal, doktrinnya, semua perusahaan harus semakin besar?

Ada jalan baru.

Pemerintah AS- lah yang membuat jalan baru itu. Pada1980 pemerintah bikin keputusan yang disebut ”Deregulasi Kontrol Moneter”. Intinya, dalam hal kredit rumah, perusahaan real estat diperbolehkan menggunakan variabel bunga. Maksudnya: boleh mengenakan bunga tambahan dari bunga yang sudah ditetapkan secara pasti. Peraturan baru itu berlaku dua tahun kemudian.

Inilah peluang besar bagi banyak sektor usaha: realestat, perbankan, asuransi, broker, underwriter, dan seterusnya. Peluang itulah yang dimanfaatkan perbankan secara nyata.

Begini ceritanya:

Sejak sebelum 1925, di AS sudah ada UU Mortgage.Yakni,semacam undang-undang kredit pemilikan rumah (KPR). Semua warga AS, asalkan memenuhi syarat tertentu, bisa mendapat mortgage (anggap saja seperti KPR, meski tidak sama). Misalnya, kalau gaji seseorang sudah Rp100 juta setahun, boleh ambil mortgage untuk beli rumah seharga Rp250 juta. Cicilan bulanannya ringan karena mortgage itu berjangka 30 tahun dengan bunga 6 persen setahun.

Negara-negara maju, termasuk Singapura, umumnya punya UU Mortgage. Yang terbaru adalah UU Mortgage di Dubai. Sejak itu, penjualan properti di Dubai naik 55 persen. UU Mortgage tersebut sangat ketat dalam menetapkan syarat orang yang bisa mendapat mortgage.

Dengan keluarnya ”jalan baru” pada 1980 itu, terbuka peluang untuk menaikkan bunga. Bisnis yang terkait dengan perumahan kembali hidup. Bank bisa dapat peluang bunga tambahan. Bank menjadi lebih agresif. Juga para broker dan bisnis lain yang terkait.

Tapi, karena semua orang sudah punya rumah, tetap saja ada hambatan. Maka, ada lagi”jalan baru”yang dibuat pemerintah enam tahun kemudian. Yakni, tahun 1986. Pada 1986 itu, pemerintah menetapkan reformasi pajak. Salah satu isinya: pembeli rumah diberi keringanan pajak. Keringanan itu juga berlaku bagi pembelian rumah satu lagi. Artinya, meski sudah punya rumah, kalau mau beli rumah satu lagi, masih bisa dimasukkan dalam fasilitas itu.

Di negara-negara maju, sebuah keringanan pajak mendapat sambutan yang luar biasa. Di sana pajak memang sangat tinggi. Bahkan, seperti di Swedia atau Denmark, gaji seseorang dipajaki sampai 50 persen. Imbalannya, semua keperluan hidup seperti sekolah dan pengobatan gratis. Hari tua juga terjamin.

Dengan adanya fasilitas pajak itu, gairah bisnis rumah meningkat drastis menjelang 1990. Dan terus melejit selama 12 tahun berikutnya. Kredit yang disebut mortgage yang biasanya hanya USD 150 miliar setahun langsung menjadi dua kali lipat pada tahun berikutnya. Tahun-tahun berikutnya terus meningkat lagi.

Pada 2004 mencapai hampir USD 700 miliar setahun.

Kata ”mortgage” berasal dari istilah hukum dalam bahasa Prancis. Artinya: matinya sebuah ikrar. Itu agak berbeda dari kredit rumah. Dalam mortgage, Anda mendapat kredit. Lalu, Anda memiliki rumah. Rumah itu Anda serahkan kepada pihak yang memberi kredit. Anda boleh menempatinya selama cicilan Anda belum lunas.

Karena rumah itu bukan milik Anda, begitu pembayaran mortgage macet, rumah itu otomatis tidak bisa Anda tempati. Sejak awal ada ikrar bahwa itu bukan rumah Anda. Atau belum. Maka, ketika Anda tidak membayar cicilan, ikrar itu dianggap mati. Dengan demikian, Anda harus langsung pergi dari rumah tersebut.

Lalu, apa hubungannya dg bangkrutnya investment banking seperti Lehman Brothers?

Gairah bisnis rumah yang luar biasa pada 1990-2004 itu bukan hanya karena fasilitas pajak tersebut. Fasilitas itu telah dilihat oleh ”para pelaku bisnis keuangan” sebagai peluang untuk membesarkan perusahaan dan meningkatkan laba.

Warga terus dirangsang dengan berbagai iklan dan berbagai fasilitas mortgage. Jor-joran memberi kredit bertemu dengan jor-joran membeli rumah. Harga rumah dan tanah naik terus melebihi bunga bank.

Akibatnya, yang pintar bukan hanya orang-orang bank, tapi juga para pemilik rumah. Yang rumahnya sudah lunas, di-mortgage- kan lagi untuk membeli rumah berikutnya. Yang belum memenuhi syarat beli rumah pun bisa mendapatkan kredit dengan harapan toh harga rumahnya terus naik. Kalau toh suatu saat ada yang tidak bisa bayar, bank masih untung. Jadi, tidak ada kata takut dalam memberi kredit rumah.

Tapi, bank tentu punya batasan yang ketat sebagaimana diatur dalam undang-undang perbankan yang keras. Sekali lagi, bagi orang bisnis, selalu ada jalan.

Jalan baru itu adalah ini: bank bisa bekerja sama dengan ”bank jenis lain” yang disebut
investment banking.

Apakah investment banking itu,bank? Bukan. Ia perusahaan keuangan yang ”hanya mirip” bank. Ia lebih bebas daripada bank. Ia tidak terikat peraturan bank. Bisa berbuat banyak hal: menerima macam-macam ”deposito” dari para pemilik uang, meminjamkan uang, meminjam uang, membeli perusahaan, membeli saham, menjadi penjamin, membeli rumah, menjual rumah, private placeman, dan apa pun yang orang bisa lakukan. Bahkan, bisa melakukan apa yang orang tidak pernah memikirkan ! Lehman Brothers,Bear Stern, dan banyak lagi adalah jenis investment banking itu.

Dengan kebebasannya tersebut, ia bisa lebih agresif. Bisa memberi pinjaman tanpa ketentuan pembatasan apa pun. Bisa membeli perusahaan dan menjualnya kapan saja. Kalau uangnya tidak cukup, ia bisa pinjam kepada siapa saja: kepada bank lain atau kepada sesama investment banking. Atau, juga kepada orang-orang kaya yang punya banyak uang dengan istilah ”personal banking”.

Saya sering kedatangan orang dari investment banking seperti itu yang menawarkan banyak fasilitas. Kalau saya mau menempatkan dana di sana, saya dapat bunga lebih baik dengan hitungan yang rumit. Biasanya saya tidak sanggup mengikuti hitung-hitungan yang canggih itu. Saya orang yang berpikiran sederhana. Biasanya tamu-tamu seperti itu saya serahkan ke Dirut Jawa Pos Wenny Ratna Dewi. Yang kalau menghitung angka lebih cepat dari kalkulator. Kini saya tahu, pada dasarnya dia tidak menawarkan fasilitas, tapi cari pinjaman untuk memutar cash-flow.

Begitu agresifnya para investment banking itu, sehingga kalau dulu hanya orang yang memenuhi syarat (prime) yang bisa dapat mortgage, yang kurang memenuhi syarat pun (sub-prime)
dirangsang untuk minta mortgage.

Di AS, setiap orang punya rating. Tinggi rendahnya rating ditentukan oleh besar kecilnya penghasilan dan boros-tidaknya gaya hidup seseorang. Orang yang disebut prime adalah yang ratingnya 600 ke atas. Setiap tahun orang bisa memperkirakan sendiri, ratingnya naik atau turun..Kalau sudah mencapai 600, dia sudah boleh bercita-cita punya rumah lewat mortgage. Kalau belum 600, dia harus berusaha mencapai 600. Bisa dengan terus bekerja keras agar gajinya naik atau terus melakukan penghematan pengeluaran.

Tapi, karena perusahaan harus semakin besar dan laba harus kian tinggi, pasar pun digelembungkan. Orang yang ratingnya baru 500 sudah ditawari mortgage.Toh kalau gagal bayar, rumah itu bisa disita.
Setelah disita, bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi dari nilai pinjaman. Tidak pernah dipikirkan jangka panjangnya. Jangka panjang itu ternyata tidak terlalu panjang. Dalam waktu kurang dari 10 tahun, kegagalan bayar mortgage langsung melejit. Rumah yang disita sangat banyak. Rumah yang dijual kian bertambah. Kian banyak orang yang jual rumah, kian turun harganya. Kian turun harga, berarti nilai jaminan rumah itu kian tidak cocok dengan nilai pinjaman. Itu berarti kian banyak yang gagal bayar.

Bank atau investment banking yang memberi pinjaman telah pula menjaminkan rumah-rumah itu kepada bank atau investment banking yang lain. Yang lain itu menjaminkan ke yang lain lagi. Yang lain lagi itu menjaminkan ke yang beriktunya lagi. Satu ambruk, membuat yang lain ambruk. Seperti kartu domino yang didirikan berjajar. Satu roboh menimpa kartu lain. Roboh semua.

Berapa ratus ribu atau juta rumah yang termasuk dalam mortgage itu? Belum ada data. Yang ada baru nilai uangnya. Kira-kira mencapai 5 triliun dolar.

Jadi, kalau Presiden Bush merencanakan menyuntik dana APBN USD 700 miliar, memang perlu dipertanyakan: kalau ternyata dana itu tidak menyelesaikan masalah, apa harus menambah USD 700 miliar lagi? Lalu, USD 700 miliar lagi?

Itulah yang ditanyakan anggota DPR AS sekarang, sehingga belum mau menyetujui rencana pemerintah tersebut. Padahal, jumlah suntikan sebanyak USD 700 miliar itu sudah sama dengan pendapatan seluruh bangsa dan negara Indonesia dijadikan satu.

Jadi, kita masih harus menunggu apa yang akan dilakukan pemerintah dan rakyat AS. Kita juga masih menunggu data berapa banyak perusahaan dan orang Indonesia yang ”menabung” -kan uangnya di lembaga-lembaga investment banking yang kini lagi pada kesulitan itu.

Sebesar tabungan itulah Indonesia akan terseret ke dalamnya. Rasanya tidak banyak, sehingga pengaruhnya tidak akan sebesar pengaruhnya pada Singapura, Hongkong, atau Tiongkok.

Singapura dan Hongkong terpengaruh besar karena dua negara itu menjadi salah satu pusat beroperasinya raksasa-raksasa keuangan dunia. Sedangkan Tiongkok akan terpengaruh karena daya beli rakyat AS akan sangat menurun, yang berarti banyak barang buatan Tiongkok yang tidak bisa dikirim secara besar-besaran ke sana.

Kita, setidaknya, masih bisa menanam jagung.(*)

Posted in HORISON | Tagged: , , , , , | Leave a Comment »

Injil Minggu Biasa XXIX/A 19 Oktober 2008 (Mat 22:15-21)

Posted by susiloari on October 14, 2008

MEMBAYAR PAJAK KEPADA KAISAR

Satu ketika Yesus dimintai pendapat tentang membayar pajak kepada Kaisar: apakah hal ini diperbolehkan (Mat 22:15-21). Bila mengatakan boleh maka ia akan menyalahi rasa kebangsaan. Tetapi bila mengatakan tidak, ia pun akan berhadapan dengan penguasa Romawi yang waktu itu mengatur negeri orang Yahudi. Para pengikut Yesus kerap dihadapkan ke masalah seperti itu. Ada dua macam rumusan. Yang pertama terlalu menyederhanakan perkaranya, dan bisanya berbunyi demikian: “Bolehkah mengakui dan hidup menurut kelembagaan duniawi?” Gagasan ini kurang membantu. Kalau bilang “ya” maka bisa dipersoalkan, lho kan orang beriman mesti hidup dari dan bagi Kerajaan Surga seutuhnya. Kalau bilang “tidak”, apa maksudnya akan mengadakan pemerintahan ilahi di muka bumi? Pertanyaan ini sama dengan jerat yang diungkapkan murid-murid kaum Farisi. Untunglah, ada pertanyaan yang lebih cocok dengan inti Injil hari ini: Bagaimana Yesus sang pembawa warta Kerajaan Surga melihat kehidupan di dunia ini? Ia memakai pendekatan frontal? Atau pendekatan kerja sama? Apa yang dapat dipetik dari cara pandangnya?

SEBUAH DISKUSI

Menurut kebiasaan kaum terpelajar Yahudi waktu itu, dalam menanggapi pertanyaan yang membawa ke soal yang makin rumit, orang berhak mengajukan sebuah pertanyaan guna menjernihkan perkaranya terlebih dahulu. Lihat misalnya pertanyaan dalam Mat 21:23-25 mengenai asal kuasa Yesus. Dalam perbincangan mengenai boleh tidaknya membayar pajak kepada Kaisar, Yesus mengajak lawan bicaranya memasuki persoalan yang sesungguhnya. Ia meminta mereka menunjukkan mata uang pembayar pajak dan bertanya gambar siapa tertera di situ. Mereka tidak dapat menyangkal itu gambar Kaisar. Yesus pun menyudahi pembicaraan dengan mengatakan, “Berikanlah kepada Kaisar yang wajib kalian berikan kepada Kaisar dan kepada Allah yang wajib kalian berikan kepada Allah!” Dengan jawaban ini ia membuat mereka memikirkan sikap mereka sendiri baik terhadap “urusan kaisar” maupun keprihatinan mereka mengenai “urusan Allah” dan sekaligus menghindari jerat yang dipasang lawan-lawannya. Bagaimana penjelasannya?

Kaum Farisi memang bermaksud menjerat Yesus. Mereka menyuruh murid-murid mereka datang kepadanya bersama dengan para pendukung Herodes. Kedua kelompok ini sebetulnya memiliki pandangan yang bertolak belakang. Orang-orang Farisi secara prinsip tidak mengakui hak pemerintah Romawi memungut pajak yang dikenal sebagai pajak “kensos”, yakni pajak bagi penduduk, praktisnya sama dengan pajak hak milik tanah. Inilah pajak yang dibicarakan dalam petikan ini. Tidak dibicarakan pajak pendapatan. Mereka yang warga Romawi tidak dikenai pajak penduduk, tapi mereka diwajibkan membayar pajak pendapatan kepada pemerintah. Orang Yahudi yang bukan warga Romawi diharuskan membayar pajak penduduk. Maklumlah, seluruh negeri telah diserap ke dalam kedaulatan Romawi. Pemerintah Romawi tidak memungut pajak pendapatan orang Yahudi bukan warga Romawi. Tapi aturan agama juga mewajibkan mereka membayar pajak pendapatan dan hasil bumi yang dikenal dengan nama “persepuluhan” kepada lembaga agama. Disebut pajak Bait Allah. Kepengurusan Bait Allah akan mengatur pemakaian dana tadi bagi pemeliharaan tempat ibadat, menghidupi yatim piatu, janda, kaum terlantar serta keperluan sosial lain. Jadi orang Yahudi yang memiliki tanah dan berpendapatan dipajak dua kali.

MASALAH PAJAK?

Bagi orang Farisi, membayar pajak penduduk berarti mengakui kekuasaan Romawi atas tanah suci. Padahal dalam keyakinan mereka, tanah itu milik turun temurun yang diberikan Allah, dan tak boleh diganggu gugat, apalagi dipajak. Maka pungutan pajak penduduk dirasakan sebagai perkara yang amat melawan ajaran agama leluhur. Para penarik pajak yang orang Yahudi dipandang sebagai kaum murtad dan melawan inti keyahudian sendiri. Mereka itu dianggap pendosa, sama seperti perempuan yang tidak setia.

Bagaimana sikap para pendukung Herodes? Yang dimaksud ialah Herodes Antipas, penguasa wilayah Galilea di bagian utara tanah suci. Pemerintah Romawi meresmikannya sebagai penguasa “pribumi” dan memberi wewenang dalam urusan sipil dan militer di wilayahnya. Tetapi di Yerusalem dan Yudea wewenang dipegang langsung oleh perwakilan Romawi, waktu itu Ponsius Pilatus. Herodes mengikuti politik Romawi dan merasa berhak menarik pajak penduduk di wilayahnya. Mereka yang disebut kaum pendukung Herodes dalam Mat 21:16 itu sebetulnya bukan mereka yang tinggal di Galilea, melainkan orang Yerusalem dan Yudea pada umumnya yang menginginkan otonomi “pribumi” seperti Herodes di utara. Mereka memperjuangkan pajak penduduk – pajak yang dibicarakan dalam petikan ini – tetapi bukan bagi pemerintah Romawi, melainkan bagi kas kegiatan politik mereka di Yudea dan Yerusalem. Jadi mereka berbeda paham dengan orang Farisi yang menganggap penarikan pajak penduduk dalam bentuk apa saja oleh siapa saja tidak sah dan melawan ajaran agama.

Bila Yesus menyetujui pembayaran pajak penduduk yang diklaim penguasa Romawi, ia akan berhadapan dengan mereka yang bersikap nasionalis dan akan dianggap meremehkan pandangan teologis bahwa tanah suci ialah hak yang langsung diberikan oleh Allah. Dan orang Farisi bisa memakainya untuk mengobarkan rasa tidak suka kepada Yesus. Tetapi bila ia mengatakan jangan, maka ia akan bermusuhan dengan para pendukung Herodes yang dibawa serta orang Farisi dan sekaligus melawan politik Romawi. Jawaban apapun akan membuat Yesus mendapat lawan-lawan baru. Memang itulah yang diinginkan oleh orang Farisi.

PEMECAHAN

Ketika mengatakan berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib diberikan kepada Kaisar sebetulnya Yesus mengajak lawan bicaranya memikirkan keadaan mereka sendiri, yakni dibawahkan pada kuasa Romawi. Jelas kaum Farisi dan para pendukung Herodes hendak menyangkalnya, tapi dengan alasan yang berbeda. Kaum Farisi menolak dengan alasan agama, sedangkan kaum pendukung dengan alasan kepentingan politik mereka sendiri. Di sini ada titik temu dengan permasalahan yang kadang-kadang dihadapi para pengikut Yesus di manapun juga seperti disebut pada awal ulasan ini. Bukan dalam arti mengidentifikasi diri dengan pilihan orang-orang yang datang membawa masalah, melainkan belajar dari sikap Yesus dalam menghadapi persoalan tadi. Dengan mengatakan bahwa patutlah diberikan kepada Allah yang wajib diberikan kepadaNya, Yesus hendak menekankan perlunya integritas batin. Bila kehidupan agama mereka utamakan, hendaklah mereka menjalankannya dengan lurus. Bila mau jujur, mereka mau tak mau akan memeriksa diri adakah mereka sungguh percaya atau sebetulnya mereka menomorsatukan kepentingan sendiri dengan memperalat agama.

Yesus juga membuat mereka yang datang kepadanya berpikir apakah ada pilihan lain selain memberikan kepada Kaisar yang menjadi haknya. Bila ya, coba mana? Ternyata keadaan mereka tak memungkinkan. Mereka tidak mencoba menemukan kemungkinan yang lain. Mereka telah menerima status quo dan tidak mengusahakan perbaikan kecuali dengan mengubahnya menjadi soal teologi. Padahal masalahnya terletak dalam kehidupan sehari-hari. Iman dan hukum agama mereka pakai sebagai dalih dan sebenarnya mereka permiskin. Yesus tidak mengikuti pemikiran yang sempit ini.

Pada akhir petikan disebutkan mereka “heran” mendengar jawaban tadi. Dalam dunia Perjanjian Lama, para musuh umat tak bisa berbuat banyak karena Allah sendiri melindungi umatNya dengan tindakan-tindakan ajaib. Para lawan itu tak berdaya dan bungkam mengakui kebesaranNya. Inilah makna “heran” tadi. Mereka kini terdiam mengakui kebijaksanaan Yesus dan mundur. Seperti penggoda di padang gurun yang terdiam dan mundur meninggalkannya.

KOMUNITAS ORANG YANG PERCAYA

Ketika merumuskan pertanyaan mereka (Mat 21:16), murid-murid orang Farisi terlebih dahulu menyebut Yesus sebagai “orang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan tidak takut kepada siapa pun juga, sebab tidak mencari muka.” Dalam bahasa sekarang, Yesus itu dikenal sebagai orang yang punya prinsip serta hidup sesuai dengan prinsip tadi secara transparan . Bukannya demi meraih keuntungan dan menjaga kedudukan. Orang yang mencobainya sebetulnya sudah melihat arah pemecahan masalah, yakni sikapnya yang terarah pada kepentingan Allah. Pembicaraan selanjutnya menunjukkan bahwa sikap itu bukan sikap menutup diri terhadap urusan duniawi dan memusuhinya. Malah hidup dengan urusan duniawi itu juga menjadi cara untuk membuat kehidupan rohani lebih berarti. Itulah kebijaksanaan Yesus. Itulah yang dapat dikaji dan diikuti para pengikutnya.

Gagasan pokok yang ditampilkan dalam petikan di atas dapat menjadi arahan bagi Gereja. Apakah Gereja sebagai lembaga rohani yang ada di muka bumi ini menemukan perannya juga? Sebagai kelompok masyarakat agama, Gereja diharapkan dapat berdialog dengan kenyataan yang berubah-ubah dalam masyarakat luas tanpa memaksa-maksakan posisi dan pilihan-pilihan sendiri. Pada saat yang sama disadari juga betapa pentingnya menjalankan perutusannya sebagai komunitas orang-orang yang mau menghadirkan Allah, yang memungkinkan urusanNya berjalan sebaik-baiknya di bumi ini. Petikan di atas mengajak orang menumbuhkan kebijaksanaan hidup dan menepati perutusan tadi.

Salam,
A. Gianto

Posted in JENDELA ALKITAB, KATOLISITAS | Tagged: , , , , , , | Leave a Comment »

KUATIRAN

Posted by susiloari on October 7, 2008

(Ini tulisan istriku. Tambah pinter nulis, dia….hehe istri siapa to? – Berkah Dalem)

Saya, orangnya kuatiran sekali. Dari jaman muda dulu sampai sekarang sudah punya dua orang anak. Ada sisi positifnya juga, sih. Contohnya, saking kuatirnya ada barang yang dibutuhkan di jalan, kalau pergi dengan anak-anak, banyak sekali barang yang saya bawa. Bahkan barang yang aneh dan tidak terpikir oleh orang lain: gunting kecil, kertas, vitamin c, sampai jamu tolak angin… Sangu baju dan makanan jangan ditanya lagi. Banyak dan macam macam jenisnya.

Itu baru dalam hal bepergian. Dalam keseharian pun juga begitu. Saya sering kuatir dengan banyak hal. Yang utama sih kalau warung saya sepi. Yang kepikiran bagaimana menggaji para karyawan, bagaimana membayar spp anak anak, bagaimana nanti kalau ada kebutuhan mendesak. Walaupun saya inget, burung pipit dan bunga di padang saja dipelihara olehNya. Tapi saya tetap kuatir.

Bapaknya anak anak lebih ‘santai’. “Tenang saja to bu, namanya juga baru sepi. Sabar saja nanti sore atau besok pagi mesti rame lagi,” begitu katanya dengan nada tenang.

Suatu hari, kami bertiga, saya, suami dan si kecil, mengantar si besar kembali ke sekolahnya di luar kota. Magelang tepatnya. Sengaja kami berangkat pagi-pagi karena takut jalanan macet. Sampai di Magelang hari masih siang. Kembali ke kebumen? Sepertinya sayang. Akhirnya kami memutuskan untuk jalan-jalan ke pasar Rejowinangun.

Saya sebenarnya agak bingung juga. Mau apa saya di pasar? Saya tidak pernah masuk pasar. Dulu Jaman saya kecil sih iya. Dulu saya sering ikut ibu ke pasar. Menurut gambaran saya, belanja di pasar tidak menyenangkan. Mau beli barang saja harus menawar dulu, bahkan saya sering dengar ada nada-nada tinggi dalam proses tawar menawar.

“Bu, sendale pira kiye?”

“Selawe.”

“Sepuluh ewu bae ya? Olih?”

“Mbak, nawar kok kayak nggone mbahe dewek.”

“Kene, rong puluh wis pas.”

“Lah, limolas. Olih tak tuku. Olih apa ora?”

“Ra, durung bisa mbak, tukune be ora olih semeno.”

Begitulah …..walaupun tidak sama persis. Tapi dalam gambaran saya pasar jadi tempat yang kurang menyenangkan. Wong mau beli saja susah. Nanti kalau barang sudah terbeli dengan usaha menawar setengah mati, masih saja kuatir. Jangan-jangan masih kemahalan harganya.

Tapi ternyata, di Rejowinangun saya tergoda juga untuk beli-beli. Gethuk singkong dua bungkus seharga masing-masing lima ribu rupiah. Tahu seharga sepuluh ribu rupiah. Dan sebungkus slondok seharga sepuluh ribu. Semua saya beli tanpa menawar sedikitpun. Menurut saya cukup murah. Dan yang jelas, ndak tega saya. Bayangkan. Tahu sepuluh ribu mendapat tiga belas potong besar-besar. Mau ditawar berapa lagi?

Tapi, ada satu yang membuat saya sungguh tertarik. Di sebuah sudut ada penjual jadah bakar. Tadinya dari kejauhan saya heran, ada asap tipis apa itu. Ternyata si mbak sedang membakar jadah. Wih potongannya besar-besar. Kalau ndak inget sudah jajan banyak, saya ingin membeli. Baunya sedap. Benar benar mengundang selera.

Saya agak ragu-ragu. Beli? Tidak? Beli? Tidak? Cukup lama saya di situ sambil menimbang-nimbang. Tiba-tiba saya sadar, dari tadi belum ada yang membeli jadah. Tapi si mbak dengan santainya terus membakar. Dia serius tanpa melihat atau berusaha menawarkan dagangannya ke orang lewat. Ditambahnya lagi jadah di atas bakaran. Bul…… Asap tipis mengepul.

Saya heran juga. Optimis juga si mbak ini. Lha kalau sampai nanti tidak ada yang membeli, terus jadah sebanyak itu mau diapakan? Kenapa kok membakarnya tidak nanti saja, kalau ada yang mau beli saja?

Sampai di mobil, hal itu jadi bahan obrolan buat saya dan suami. Menurut saya hal itu aneh. Tapi menurut suami tidak. Berarti si mbak tadi optimis dagangannya bakal laku. Mungkin pagi belum, mungkin siang. Nanti kalau siang belum laris juga, mungkin sore. Begitu kata suami saya.

Wah, saya jadi malu. Orang seperti si mbak jadah saja yakin pada rejekinya. Yakin pada belas kasihan Tuhan. Yakin bakal ada rejeki untuk dia dan keluarganya hari itu.

Sudah ada rejeki untuk hari ini pun, saya masih kuatir untuk yang besok. Apa besok laris seperti hari ini? Apalagi kalau sepi. Wih, bingungnya pol. Kadang saya sampai tergoda untuk melakukan hal yang tidak baik, hal yang tidak semestinya. Apa saya harus seperti banyak warung lain, memberi nota kosong? Atau mengutak atik angka di nota? Atau apa saja, menghalalkan segala cara agar pembeli mau ke warung saya?

Hari itu saya belajar banyak dari SEORANG PENJUAL JADAH BAKAR. Saya tidak tahu namanya. Saya tiadak tahu apa agamanya. Bahkan wajahnya pun saya sudah lupa.

Terima kasih mbak…. Saya janji kalau besok saya ke pasar itu lagi, saya akan borong jadah bakarmu. Akan saya bagi bagikan ke teman-teman. Dan saya katakan ini ada oleh-oleh sedikit. Dibeli dengan rejeki dari Bapa…

Salam

Laurensia

Posted in MEA VITA | Tagged: , , , , | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.