31 Tahun BKSN – Menantang Dunia
Posted by susiloari on September 1, 2008
Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2008 mulai bergulir. Banyak orang dan lembaga yang sibuk menyambut. Dari mulai tingkat lingkungan, stasi, paroki sampai keuskupan. Dari Penerbit Kanisius sampai PMKRI. Coba cari di google pakai kata kunci BKSN 2008, banyak halaman bisa ditemukan.
BKSN tahun ini digulirkan dalam tahun Paulus yang dicanangkan Paus Benediktus XVI. Tapi saya nggak akan membahas masalah tema sekarang ini. Yang pertama-tama menarik perhatian saya adalah umur BKSN itu sendiri. Kegiatan tahunan ini sudah digulirkan sejak tahun 1977. Sampai sekarang berarti sudah 31 tahun.
Lha kok umur jadi poin menarik? Begini, biasanya kegiatan itu kan ada targetnya, ada tujuannya. Dalam kurun waktu tertentu, kalau tujuannya sudah tercapai, ya kegiatannya berhenti. Atau kalau masih mau berjalan ya berlanjut ke tingkat yang lebih tinggi.
Selama 31 tahun BKSN punya tujuan yang masih sama; mendekatkan umat dengan kitab suci (KS). Ini sesuai dengan cita-cita gereja universal. Lha ini membuat saya bertanya-tanya dan berasumsi. Apakah selama 31 tahun Gereja Katolik di Indonesia belum berhasil mendekatkan umat dengan kitab suci? Bertahun-tahun kok tujuannya masih sama. Belum ada peningkatan. Apa memang ini proses yang tidak berkesudahan? Wah haiya lama-lama yang ngurus capek juga. Kerja keras tanpa peningkatan? Ada kesulitan apa sih?
Terus-terang, ini agak mengganggu saya. Bukan karena saya sudah termasuk yang dekat dengan KS. Tapi ya itu tadi, dilaksanakan bertahun-tahun kok’ ra ono kacek-e’. Salahnya di mana?
Saya coba-coba membaca buku pedoman BKSN termasuk bahan pendalaman KS. Setelah sekian halaman saya lalap, saya sampai pada bagian ini: Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. (Ibr.4:12).
O…lha genah! Sudah jamaknya orang cari yang enak-enak, yang bikin nyaman, yang menyenangkan, yang cocok dengan ‘keinginan daging’, yang ‘pro-aku’. Maka ketika dihadapkan pada firman Allah yang lebih tajam dari pedang bermata dua, yang menusuk amat dalam, tajam, menyakitkan, yang menuntut pengosongan diri, yang berlawanan dengan ‘naluri daging’…..ya nehi-nehi. Simpen aja kitab sucinya. Aman.
“Kamu harus mengampuni sampai tuju puluh tuju kali tujuh…..”. lha sekali saja uangelnya minta ampun!
“Cukupkanlah dengan gajimu…” Mana cukuuupp? Kalau bisa sih ngembat rejeki orang lain… oaran-orang lain juga begitu….
“Berbahagialah orang yang miskin…yang dianiaya…” Waduh! Edan, po!?
Di luar masalah metode, SDM dan sebagainya, BKSN itu memang proyek yang menentang dunia. Jadi yaw ajar kalau bertahun-tahun tujuannya masiiihh saja mendekatkan. Umat belum juga dekat-dekat dengan KS. Ini bukan bermaksud mengecilkan hati penggiat BKSN. Justru ini rahmat, yang membuat kita selalu berkesempatan bekerja untuk Tuhan. Don’t forget untuk selalu mohon kekuatan Roh Kudus menumbuhkan dan menggerakkan kerinduan umat terhadap Tuhan yang selalu setia menunggu untuk berjumpa dan berbicara dalam KS.
Ha. Maka saya pun nggak akan komplain lagi kenapa tujuan BKSN kok masih itu-itu saja.
Berkah Dalem
Giovani Baptista Giyarso said
Selamat datang Bulan Kitab Suci, mari kita perdalam iman kita dengan semakin mencintai Kitab Suci, jangan biarkan Kitab Suci hanya menjadi hiasan pelengkap perpustakaan keluarga saja, mari kita buka dan cari kehendak Allah dari Kitab Suci dan semoga Roh Kudus senantiasa menuntun hidup kita. Alleluya. Amen
Marhaban ya BKSN
Giovani Baptista Giyarso said
Tema BKSN tahun ini sungguh sangat sesuai dengan realita kehidupan di negara kita, saya pribadi sebagai warga gereja merasa terinspirasi untuk mampu mengatasi rasa IRI HATI yang sangat besar dampaknya bagi kehidupan kita. Marilah IRI HATI itu kita kelola bukan untuk menghancurkan tetapi kita jadikan cambuk bagi perkembangan hidup kita, marilah kita arahkan IRI HATI itu ke hal-hal yang positif dan membangun.
susiloari said
Ya, Pak Giyarso.
Mari kita dengar apa yang mau dikatakan Tuhan buat hidup kita…dalam KS. Meskipun pada saa yang sama kita merasa ditelanjangi, disobek-sobek sampai tulang sumsum. Ini butuh kerelaan utk mengosongkan diri, tentu saja.
Berkah dalem