nullum magnum ingenium sine mixtura dementiae fuit

arie’s life journal

Archive for September, 2008

Matahari Yongki Simbok Gethuk

Posted by susiloari on September 28, 2008

Minggu 28 September 2008 Jam 7 pagi aku mancal APV-ku ke Mertoyudan Magelang mau njemput pulang anakku dari Seminari. Dia dapat libur lebaran. Kabar terakhir yang kuterima dia pulang habis siang. Biasanya sih (dulu) habis makan siang. So, sekitar jam 1 siang. Berhubung takut kena macet arus mudik, aku memutuskan untuk nggasikki.

Rupanya jalan gak macet sama sekali, meskipun rame, sehingga aku bisa nyampe Mertoyudan jam 10 kurang. Eh, blaik! Ternyata anak-anak seminaris baru bisa pulang setelah jam 2.30. Begitu kata mas-mas yang jaga di ruang tamu. Lama dong nunggunya….

Daripada bengong di tempat, aku putuskan untuk memantau (cie…) suasana menjelang lebaran di pusat kota Magelang. Resikonya emamng kena macet.

Benar saja. Jalanan di seputar alun-alun dan jalan pemuda penuh kendaraan. Orang-orang lalu-lalang. Pinggir jalan full parkir mobil. Aku sendiri akhirnya memarkir grobak jepangku di sisi barat alun-alun. Setelah bengong sebentar, akhirnya aku putuskan untuk jalan kaki nyebrang alun-alun ke arah Matahari Dept. Store.

Wuih…pada belanja, cing! Aku juga sok sibuk lihat-lihat barang. Pertama sepatu sama sandal. Hehe… Diskon 50%! Iya sih, kelihatannya murah. Tapi setelah ngelongok label harganya. Wits…kok kayaknya dinaikkan dulu dari harga wajar kalau nggak diskon. Sandal buatan Oom Yongki Komaladi yang biasa dijual di harga cepek-an berubah jadi Rp 199.900,-. Ya, sami wawon. Opok. Ndoboz.

Browsing aku lanjutkan ke lantai 2 dengan sedikit males gara-gara harga sulapan tadi. Sampai di lantai 2, aku melihat daerah mainan anak. Cling! Aku jadi ingat kalau anakku yang kecil. Belum lama ini dia pengin banget mainan papan yang bisa ditulis, yang tulisannya jadi hilang kalau alat penggesernya yang ada di papan itu digeser dari ujung yang satu ke ujung yang lain. Embuh apa namanya. Papan ajaib, mbok?

Aku beli satu. Harganya Rp 35.000. Didiskon jadi Rp 28.000-an.

Browsing-browsing sebentar, lalu keluar dari Matahari. Jalan lagi nyebrang alun-alaun ke arah parkiran mobil. Sentuuuupp! Bau kuah bakso masuk hidung. Mampirlah aku mbakso dulu. Clak, clak,clak! Di trotoar dekat mobilku parkir ibu-ibu penjual kelapa muda sedang beraksi mengayunkan bendo-nya. Ayunan pisau besar itu seperti lambaian tangan di mataku: mampir mas! OK! Aku lalu ndegan. Tentu setelah baksonya habis. Slurrpp!

Aku nengok jam tangan. Masih lama. Ngapaian lagi, ya?

APV aku pancal menyusuri jalan pemuda, terus ke selatan melewati pasar… Pasar! Aku mau ke pasar! Setelah celingak-celinguk, akhirnya dapat tempat parkir. Nyebrang jalan sebentar, mulailah episode browsing baru. Mas Ari tindak pasar……

Wualah, ramenya. Jalan di trotoar sambil senggal-senggol (nggak sengaja lho!). Macem-macem yang dijual. Ada sate yang bergelut dalam panci kupingan bersama ndas pitik, nanas-nanas yang sedang dikuliti oleh seorang ibu dengan muka tanpa ekspresi, gethuk magelang merah-hijau-coklat-putih, bunga hias-bunga tabur, tahu ayu-ayu, tempe ngawe-awe, sandal jepit, pisau, ember, tali jemuran. Komplit!

Di satu sisi trotoar ada 3 orang simbok-simbok duduk bersimpuh di belakang dagangannya: bunga tabur tiga kranjang kecil dan gula aren satu kranjang kecil. Orang-orang lalu lalang saja. Nggak ada yang beli. Aku perhatikan simbok ini. Mukanya kelihatan capek. Mungkin capek karena sudah memulai aktifitas bisnisnya sedari pagi buta. Mungkin juga karena dari pagi belum laku daganannya. I know it. Karena aku juga jualan.

Lalu lewatlah sepasang suami-istri ndeso bersama anaknya yang masih kecil. Rupanya mereka saling kenal. Maka meluncurlah percakapan dan sapaan bla-bla-bla.

“Wah, tindak sekalian niki…”

“Nggih, mbokde. Niki pados srandal-e thole”

“Lebaran nganyari srandal yo le…?”

Anak kecil yang ditanya itu cuma mesam-mesem sambil sentrap-sentrup nyedot umbel.

“Pinarak, monggo….”

“Sampun, mbokde…selak siang…”

Muka simbok itu jadi berseri-seri. Mukaku juga ketularan berseri-seri. Entah kenapa aku menikmati pemandangan itu tadi. Mungkin karena aku menangkap perubahan suasana dari lesu menjadi riang di muka simbok itu. Padahal dagangan tetap nggak laku. Mungkin juga kau geli mendengar simbok itu menarwarkan sepasang suami istri yang sedang lewat itu untuk pinarak, mampir. Mampir? Mampir di trotoar? Orang kan umumnya ngampirke orang lain di rumah. Lha ini kok di trotoar. Apa saking menghayati hidup bisnisnya sehingga simbok itu menyamakan level trotoar dengan rumahnya?

Aku segera berlalu. Takut jadi melow…

Sebelum meninggalkan kawasan pasar itu, aku sempatkan beli gethuk dan wajik buat oleh-oleh. Lalu aku meluncur ke selatan, ke Mertoyudan. Jam12.30. Ah, masih 2 jam lagi.

Posted in MEA VITA | Tagged: , , , | Leave a Comment »

Jawa Kreatif aka Java Creative

Posted by susiloari on September 26, 2008

Ini kiriman, tepatnya forward-an dari Romo Slamet Lasmunadi Pr. Mbuh asalnya dari mana. Silakan dinikmati. Berkah Dalem.

(Jawa Mode On – Please fasten your seatbelt)

Selain lembaga pemerintahan, kebiasaan singkat menyingkat juga berlaku untuk
tag line suatu daerah.

Solo Berseri, Jogja Berhati Nyaman, Temanggung Bersenyum, Cilacap Bercahaya,
semuanya adalah singkatan.

Juga untuk menyebut suatu kawasan, yang katanya akan menjadi suatu kawasan yang unggul dan berkembang.

Bermula dari Jabotabek, eh sekarang Jabodetabek.
Muncul pula Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya ,
Sidoarjo, Lamongan),
Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen),
Pawonsari Bakulrejo (Pacitan Wonogiri Wonosari, Bantul, Kulon Progo,
Purworejo),
atau Joglosemar (Jogja Solo Semarang).

Beruntung tidak ada yang membalik urutannya menjadi Semarang Solo Yogya,
disingkat menjadi Semar Loyo.
Mungkin di masa mendatang akan muncul juga Dibalang Sendal (Purwodadi,
Batang, Pemalang, Semarang , Kendal),
atau Kasur Bosok (Karanganyar, Sukoharjo, Boyolali, Solo, Klaten).
Asal jangan Susu Mbokde (Surakarta , Sukoharjo, Mboyolali, Kartasura,
Delanggu)
atau Tanteku Montok (Panjatan, Tegalan, Kulwaru, Temon, Toyan, Kokap)

Anak-anak muda Jogja tidak kalah kreatifnya untuk ikut-ikutan menyingkat
nama tempat.
Sebut saja Amplas untuk Ambarukmo Plaza , atau Jakal (Jalan Kaliurang),
Jamal (Jalan Magelang).
Kalau sampeyan sekolah di SMA 6, bisa nyombong kalau sampeyan sekolah di
Depazter alias Depan Pasar Terban.

Bahkan, dari pusat kota Jogja, sangat mudah untuk mencapai
Paris(Parangtritis),
atau Pakistan (Pasar Kidul Stasiun alias Sarkem),
bahkan Banglades (Bangjo Lapangan Denggung Sleman).

Sampeyan seorang yang enthengan, ringan tangan, suka membantu, ndak pernah
menolak untuk dimintai tolong?
Berarti sampeyan layak menyandang nama Willem Ortano, alias Dijawil Gelem
Ora Tau Nolak.
Atau kalau sampeyan pinter omong, jualan obat, meyakinkan orang dengan
omongan sampeyan
yang nggak karuan bener salahnya, maka jangan marah kalau sampeyan dipanggil
sebagai Toni Boster, alias Waton Muni Ndobose Banter.

Posted in CERITA, HUMOR | Tagged: , , , , , , | 1 Comment »

Surga Anak-anak (Cerpen Naguib Mahfouz)

Posted by susiloari on September 26, 2008

“Bapak!”
“Ya?”
“Saya dan teman saya Nadia selalu bersama-sama.”
“Tentu, Sayang. Dia kan sahabatmu.”
“Di kelas, pada waktu istirahat, dan waktu makan siang.”
“Bagus sekali. Ia anak yang manis dan sopan.”
“Tapi waktu pelajaran agama, saya di satu kelas dan ia di kelas yang lain.”

Terlihat ibunya tersenyum, meskipun sedang sibuk menyulam seprai. Dan ia berkata sambil juga tersenyum:
“Itu hanya pada pelajaran agama saja.”
“Kenapa, Pak?”
“Karena kau punya agama sendiri dan ia punya agama lain.”
“Bagaimana sih, Pak?”
“Kau Islam dan ia Kristen.”
“Kenapa?”
“Kau masih kecil, nanti akan mengerti.”
“Saya sudah besar sekarang.”
“Masih kecil, Sayangku.”
“Kenapa saya seorang Islam?”

Ia harus lapang dada dan harus hati-hati. Juga tidak mempersetankan pendidikan modern yang baru pertama kali diterapkan. Dan ia berkata:
“Bapak dan Ibu orang Islam. Sebab itu kau juga orang Islam.”
“Dan Nadia?”
“Bapak dan ibunya Kristen. Sebab itu ia juga Kristen.”
“Apa karena bapaknya berkacamata?”
“Bukan. Tak ada urusannya kacamata dalam hal ini. Dan juga karena kakeknya Kristen.”

Ia berusaha mengikuti silsilah kakek-kakeknya sampai entah tak ada batasnya, agar anak itu bosan dan mengalihkan percakapan ke arah lain. Tapi sang anak bertanya:
“Siapa yang lebih baik?”

Ia berpikir sejenak, lalu berkata:
“Orang Islam baik dan orang Kristen juga baik.”
“Tentu salah satu ada yang lebih baik.”
“Ini baik dan itu juga baik.”
“Apa boleh saya berlaku seperti Kristen, agar kami bisa selalu bersama-sama?”
“Oo tidak, Sayang, itu tidak bisa. Tiap orang tetap harus seperti bapak dan ibunya.”
“Tapi kenapa?”

Memang betul, pendidikan modern itu keji juga! Dan ia bertanya:
“Apa tidak tunggu saja sampai kau besar nanti?”
“Tidak.”
“Baiklah, kau tahu mode kan? Seseorang bisa menyenangi mode tertentu, dan orang lain menyenangi mode lain. Bahwa kau orang Islam, itu artinya mode terakhir. Sebab itu kau harus tetap Islam.”
“Jadi, Nadia itu mode lama?”

Hmm, jangan-jangan Tuhan akan menjewermu bersama Nadia pada hari yang sama. Tampaknya ia telah melakukan kesalahan, betapapun ia sudah berhati-hati. Dan ia merasa seperti didorong tanpa ampun ke sebuah leher botol. Katanya:
“Masalahnya adalah selera. Tapi tiap orang harus tetap seperti bapak dan ibunya.”
“Apakah dapat saya katakan pada Nadia, bahwa ia mode lama dan saya mode baru?”

Segera ia memotong:
“Tiap agama baik. Orang Islam menyembah Allah, dan orang Kristen menyembah Allah juga.”
“Kenapa ia menyembah Allah di satu kelas dan saya di kelas yang lain?”
“Di sini Allah disembah dengan cara tertentu, dan di sana dengan cara lain.”
“Apa bedanya, Pak?”
“Nanti tahun depan kau akan mengetahuinya, atau tahun berikutnya lagi. Sekarang kau cukup tahu saja, bahwa orang Islam itu menyembah Allah dan orang Kristen juga menyembah Allah.”
“Siapa sih Allah, Pak?”

Jadinya ia berpikir agak lama juga. Lantas ia bertanya untuk sekadar mengulur waktu:
“Apa kata Bu Guru di sekolah?”
“Ia membaca surat-surat dari Al-Qur’an dan mengajari kami sembahyang. Tapi saya tidak tahu siapa Allah itu.”

Ia berpikir lagi, sambil tersenyum agak remang. Katanya:
“Ia yang menciptakan dunia seluruhnya.”
“Seluruhnya?”
“Ya, seluruhnya.”
“Apa artinya mencipta?”
“Yang membuat segala sesuatu.”
“Bagaimana caranya?”
“Dengan kekuasaan yang agung sekali.”
“Dimana Ia tinggal?”
“Di dunia seluruhnya.”
“Dan sebelum ada dunia?”
“Di atas.”
“Di langit?”
“Ya.”
“Saya ingin melihat-Nya.”
“Tidak bisa.”
“Meskipun melalui televisi?”
“Ya, tidak bisa juga.”
“Tak seorang pun bisa melihat-Nya?”
“Tak seorang pun.”
“Bagaimana Bapak tahu Ia ada di atas?”
“Begitulah.”
“Siapa yang kasih tahu Ia di atas?”
“Para nabi.”
“Para nabi?”
“Ya, seperti nabi kita Muhammad.”
“Bagaimana caranya?”
“Dengan kesanggupan yang khas ada padanya.”
“Kedua matanya tajam sekali?”
“Ya.”
“Kenapa begitu?”
“Allah menciptakannya begitu.”
“Kenapa?”

Dan ia menjawab sambil menahan kesabarannya:
“Ia bebas berbuat apa yang Ia kehendaki.”
“Dan bagaimana nabi melihat-Nya?”
“Agung sekali, kuat sekali, dan berkuasa atas segala sesuatu.”
“Seperti Bapak?”

Ia menjawab sambil menahan tawanya:
“Ia tak ada bandingannya.”
“Kenapa Ia tinggal di atas?”
“Bumi tak bisa memuat-Nya. Tapi ia bisa melihat segala sesuatu.”

Anak kecil itu diam sebentar, lalu katanya:
“Tapi Nadia bilang, Ia tinggal di bumi.”
“Karena Ia tahu dan melihat segala sesuatu, maka seolah-olah Ia tinggal di mana-mana.”
“Dan ia juga bilang, orang-orang telah membunuh-Nya.”
“Tapi Ia hidup dan tidak mati.”
“Nadia bilang, orang-orang itu telah membunuh-Nya.”
“Tidak, Sayang. Mereka mengira telah membunuh-Nya. Tapi ia hidup dan tidak mati.”
“Dan kakekku masih hidup juga?”
“Kakekmu sudah meninggal.”
“Apa orang-orang juga telah membunuhnya?”
“Tidak, ia meninggal sendiri.”
“Bagaimana?”
“Ia sakit, dan kemudian meninggal.”
“Dan adikku juga akan meninggal karena ia sakit?”
Keningnya mengerenyit sebentar, sementara ia melihat gerak semacam protes dari arah istrinya.

“Tidak. Insya Allah ia akan sembuh.”
“Dan kenapa Kakek meninggal?”
“Sakit dalam ketuaannya.”
“Bapak pernah sakit dan Bapak juga sudah tua. Kenapa tidak meninggal?”

Tiba-tiba ibunya menghardiknya. Anak itu jadi heran tak mengerti, sebentar matanya ditujukan pada ibunya, sebentar lagi pada ayahnya. Kata sang ayah:
“Kita semua akan mati kalau Tuhan menghendakinya.”
“Kenapa Tuhan menghendaki agar kita semua mati?”
“Ia bebas berbuat apa yang Ia kehendaki.”
“Apa mati itu menyenangkan?”
“Tidak, Sayang.”
“Kenapa Tuhan menghendaki sesuatu yang tidak menyenangkan?”
“Selama Tuhan yang menghendaki begitu, itu artinya baik dan menyenangkan.”
“Tapi tadi Bapak bilang, itu tidak menyenangkan.”
“Hmm, Bapak keliru tadi.”
“Dan kenapa Ibu marah waktu saya bilang bahwa Bapak akan mati?”
“Karena Tuhan belum menghendaki begitu.”
“Kenapa Ia menghendaki begitu, Pak?”
“Dialah yang membawa kita ke dunia, dan Dia pula yang membawa kita pergi.”
“Kenapa?”
“Agar kita berbuat baik di dunia sebelum kita pergi.”
“Kenapa kita tidak tinggal saja terus di dunia?”
“Nanti tak akan muat dunia kalau semua orang tinggal.”
“Dan kita tinggalkan hal-hal yang baik?”
“Kita akan pergi ke hal-hal yang lebih baik lagi.”
“Di mana?”
“Di atas.”
“Di sisi Tuhan?”
“Ya.”
“Dan kita bisa melihat-Nya?”
“Ya.”
“Tentunya itu bagus kan?”
“Tentu.”
“Kalau begitu, kita harus pergi.”
“Tapi sekarang kita belum melakukan hal-hal yang baik.”
“Dan Kakek sudah melakukannya?”
“Ya.”
“Apa yang ia lakukan?”
“Ia telah membangun rumah dan menanam kebun.”
“Dan Tutu, sepupuku, apa yang sudah ia lakukan?”

Wajahnya jadi merengut sebentar, kemudian pandangannya ia tujukan ke arah istrinya seperti minta kasihan.

“Ia juga telah bikin sebuah rumah kecil sebelum ia pergi.”
“Tapi Lulu, tetangga kita, ia pernah memukulku dan tak pernah berbuat baik.”
“Ia anak nakal.”
“Tapi ia tidak akan mati.”
“Kecuali kalau Tuhan menghendakinya.”
“Meskipun ia tidak berbuat hal-hal yang baik?”
“Semua akan mati. Siapa yang berbuat baik, ia akan pergi ke sisi Tuhan. Dan siapa yang berbuat jahat, ia akan ke neraka.”

Anak kecil itu menarik napas seraya kemudian diam. Sang ayah tiba-tiba merasa dirinya begitu capek. Tak tahu ia, berapa dari kata- katanya tadi yang benar dan berapa yang salah. Pertanyaan-pertanyaan itu sudah menggerakkan tanda tanya, yang kemudian mengendap di dalam dirinya.

Namun si kecil tiba-tiba berseru:
“Saya ingin selalu bersama Nadia!”

Ditolehkannya kepalanya seperti ingin tahu. Si kecil itu berseru lagi:
“Meski pada pelajaran agama sekalipun!”

Dan ia tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Istrinya juga ketawa. Sambil menguap mengantuk, ia kemudian berkata:
“Tak bisa kubayangkan, pertanyaan-pertanyaan ini bisa didiskusikan pada taraf umur begitu!”

Istrinya menyahut:
“Nanti ia akan besar, dan akan bisa menjelaskan hal-hal itu padanya.”

Cepat ia menoleh ke perempuan itu, untuk mengetahui apa memang betul kata-katanya atau hanya sekadar cemoohan belaka. Namun dilihatnya perempuan itu sudah sibuk lagi dengan sulamannya.

*Diterjemahkan oleh M. Fudoli Zaini, dalam “Antologi Cerpen Nobel” (Penerbit Bentang, Mei 2004).

NAGUIB MAHFOUZ lahir di Kairo, Mesir, pada 1911. Ia dianggap yang terbesar dalam sastra modern Mesir yang belum berusia satu abad. Sebagai pengarang, Mahfouz mula-mula menulis dengan gaya romantis, lalu realistis, simbolis, filosofis, dan terakhir simbolis-filosofis dengan kecenderungan sufistis.

Posted in CERITA, SASTRA | Tagged: , , , , , , | Leave a Comment »

Rekrutmen Paulus – Transfer Window

Posted by susiloari on September 8, 2008

Hari Kamis malam yang lalu (4/9) Aku jadi pemandu pendalaman Kitab Suci (KS) di Lingkunganku, Lingkungan St. Yohanes – Paroki Kebumen St. Yohanes Maria Vianney Kebumen. Seperti yang sudah kami (para menandu) siapkan, aku memakai metode metaplan dalam memetakan alur kisah pertobatan Saulus yang berujung pada ‘lahirnya’ Paulus. Tentang metode ini aku akan tulis di posting-an berikutnya.

Dalam sesi mencari pesan dari perikop yang didalami, seorang bapak, sebut saja Pak Barto melontarkan pertanyaan.

“Pak Arie, Tuhan Yesus kok milih Saulus jadi salah satu murid yang diberi peran besar, padahal dia kan justru yang mengejar-ngejar, menangkap para pengikutNya? Ini kan aneh?”

Hehe. Kalau mau dilanjutin sih pasti muncul kalimat begini, “Nggak rela! Nggak rela!”

Aku diam. Nggak langsung menjawab. Cuma sedikit mesem. Mesem karena pertanyaan Pak Barto itu mengingatkanku pada obrolanku dengan Romo Slamet (pastor parokiku) siang sebelumnya di tokoku.

“Gusti Yesus ki ternyata manajer SDM sing top lho, Mo?

“Kok bisa?”

Lalu aku mulai nyrocos. Ini dalam konteks rekrutmen dan deployment para murid. 12 rasul awal yang direkrut itu (Yudas Iskariot termasuk anomali-skenarionya begitu sih) punya karakter low-profile-sederhana, manutan, gak pinter-pinter amat, jujur, mau setia. SDM seperti itu nggak cukup. Maka dalam rangka ‘marketing the church’ yang memerlukan the right man on the right place, direkrutlah Stefanus yang lebih thas-thes, berani dan lebih diperhitungkan kaum farisi ahli taurat. Eh, debutan ini keburu dihabisi geng-nya Saulus (Kis.7:54-8:1a).

Nah, sampai di sini naluri manejerial-Nya bekerja. Saulus itu kan puinter-ter, orang sekolahan-ahli taurat, berani, berkemauan keras, bukan yahudi lokalan (Tarsus). High profile banget, deh! Butuh orang kayak gini untuk di-deploy, membuat keseimbangan antar lini para murid Yesus (wah, malah kayak komentator bola). Tapi masalahnya dia ada di pihak musuh. Piye iki?

Maka terjadilah peristiwa penampakan (approachment) yang membutakan Saulus 3 hari lamanya itu (Kis.9:3-9). Peristiwa ini bagaikan ‘transfer window’ klub-klub bola Eropa. Dalam waktu mepet menggaet pemain unggulan milik lawan. Selanjutnya, setelah penumpangan tangan oleh Ananias kepada Saulus aka Paulus, komposisi murid-murid Yesus lebih menjanjikan. Keseimbangan antar lini terjaga. Dan faktor Paulus adalah kartu truf bagi ‘marketing the church’ di luar ranah Yahudi. Begitu.

Romo Parokiku cuma mesam-mesem mendengar cerocosanku yang sangat awami ini. Maklum aku kan Cuma lulusan Bulaksumur, bukan lulusan Urbanum.

Kembali ke laptop! Eh, pertanyaan Pak Barto.

Tentu saja aku nggak bisa menjawab dengan cerocosanku itu. Aku hanya bisa bilang, ya Yesus memang maunya begitu. Coba lihat apa kata Yesus kepada Ananias yang male-malesan waktu disuruh menemui Saulus yang buta: ….orang ini adalah alat pilihan bagiKu untuk memberitakan namaKu kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel (Kis.9:15). Pasti Yesus telah mempertimbangkan sebelum memilih dia. Begitu jawabanku.

Hehe. Nggak meyakinkan ya? OK deh. Kalau gitu, ada yang bisa bantu mencari jawaban yang meyakinkan?

Berkah Dalem

Posted in COGITO, KATOLISITAS | Tagged: , , , , , , , , , , , , | 3 Comments »

Kang Duko

Posted by susiloari on September 8, 2008

not me

not me

Cak Ma’roeb melancong ke Jogja. naik kereta dari Wonokromo turun di Stasiun Tugu. Bingung mau ke mana, akhirnya manggil becak. Pokoknya puter-puter, katanya. Tukang becaknya manggut-manggut saja.

Pelan tapi pasti becak meninggalkan Stasiun Tugu, meluncur ke Malioboro. Cak Ma’roeb berdecak kagum melihat deretan toko-toko di sepanjang jalan yang terkenal seantero nusantara itu.

“Lek, toko-toko ini semua punyak-e siapa?” selidik Cak ma’roeb. Tukang becaknya bingung. Pastinya punya orang banyak. Tapi masak dia harus sebut satu-satu.

“Duko”, akhirnya dia hanya jawab begitu.

“Wah, Kang Duko tokonya bagus-bagus, banyak lagi. Suogih eram!”

Becak meluncur terus ke selatan memasuki alun-alun utara.

“Lek, iki pekarangane siapa?”

Tukang becaknya sebenarnya tahu alun-alun utara itu milik Kanjeng Sultan hamengkubuwono. Tapi kalo dijawab, dia takut kalo penumpangnya yang satu ini nanti tanya macem-macem tentang Kanjeng Sultan. Akhirnya dia memutuskan menjawab dengan jawaban yang sama.

“Duko.”

“Byuh….tokone akeh, punya halaman luas lagi……kang Duko, soegih eram sampeyan!”

Tukang becaknya mesem-mesem. dalam hati bilang…Ha! tak kerjain saja orang ini! Melaju sedikit lagi ke arah selatan, becak itu sampai di samping Kraton Jogja.

“Lha ini rumah siapa, Lek?”

“Duko”

“Byuh-byuh…. Kang Duko, rek! Tokone akeh, omahe guedhe apik, halamannya luas….”

Tukang becaknya tambah geli. Tambah semangat pula nggenjotnya. Sebentar sudah sampai di Pasar Burung Ngasem. Kebetulan banyak turis-turis asing di kawasan itu. “Londo-londo” itu, terutama yang cewek pake baju sekenanya, maklum kepanasan. Mata Cak Ma’roeb melotot keasyikan melihat pemandangan indah terhampar di mana-mana.

“Lek,…iku arek wedok-wedok, londo ayu-ayu bojone siapa?”

“Duko”

“Byuh……Kang Duko, rek, kuat eram duwe bojo akeh. Bojone londo-londo!”

Tukang becaknya tambah terhibur. Becak terus digenjot meluncur ke arah selatan. sampailah mereka di depan Gereja Pugeran.

“Lek, gereja yang besar itu punya siapa?”

“Duko”, kali ini Tukang bcaknya benar-benar gak tahu.

“Oh…….Kang Duko iku Kresten, ta!” Tapi kok bojonya banyak?”

Tukang becaknya sekarang mulai geleng-geleng….mikirin turisnya yang satu ini. Becak belok ke arah timur. pas lagi kenceng-kencengnya meluncur, tiba-tiba serombongan pelayat memotong jalan diikuti mobil jenazah. Becak terpaksa berhenti. Ciiitt!

“Waduh! Orang meninggal! Siapa Lek yang meninggal?”

“Duko”

Mendengan jawaban ini, kontan Cak ma’roeb turun dari becak, berdiri sambil membuka topi laken-nya. Sebentar ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Byuh..byuh….byuh…. kang Duko, rek…tokonya banyak, rumahnya bagus, halamannya luas, istrinya cuantik-cuantik eh,….ditinggal matek!”***

(ini salah satu cerita pengantar tidur dari bapakku)


Posted in CERITA, HUMOR | Tagged: , , , | Leave a Comment »

Elang Kecilku di Sarang Baru

Posted by susiloari on September 1, 2008

“Aku tadi pagi ngepel dari sini sampai sana,” cerita Michael, anakku sambil tangannya menunjuk salah satu lorong di Seminari Mertoyudan. Ini cerita pertama yang keluar dari mulutnya. Dan selama dia, aku, istriku, Fillia-anakku yang ke-2 dan keluarga besar kami duduk bersama, banyak cerita kecil-kecil menyusul kemudian. Tidak ada keluhan, tidak ada cerita menyedihkan. Tentang mencuci baju sendiri, atau tentang jadwal hidupnya yang baru selama 43 hari pertama dia ada di situ. Bahkan penitensi (sanksi hukuman) pun diceritakannya dengan cengar-cengir.

Sebuah buku kenangan masa orientasinya kubuka. Anakku berefleksi:

PERUBAHANKU

(Michael Aquila Machiavelli – KPP3/20)

Sebelum masuk di seminari ini aku adalah pribadi yang santai. Di rumah aku belajar hanya pada waktu ulangan. Setiap hari aku selalu bermain tanpa mengetahui seberapa besar pengorbanan orang tua yang dilakukan untuk menghidupiku.

Setelah masuk di seminari ini, aku menjadi lebih menghargai waktu. Di sini aku tahu bahwa waktu sangat berharga. Di sini aku juga mulai menyadari betapa berat dan besar pengorbanan orang tuaku. Setelah menetap di seminari selama 40 hari, aku merasa kepribadianku mulai berubah sedikit demi sedikit. Aku bersyukur bahwa aku memilih memasuki seminari ini sebagai rumahku yang baru tidaklah salah***

Panggilannya dulu Michael. Sekarang mulai dipanggil Aquila. Burung Elang. Dan Elang kecilku sekarang sudah menemukan sarangnya yang baru.

Tentang perasaanku. Like Mother Mary, aku menyimpan semua dalam hati.

Berkah Dalem

Posted in MEA VITA | Tagged: , , , , , , | Leave a Comment »

31 Tahun BKSN – Menantang Dunia

Posted by susiloari on September 1, 2008

Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2008 mulai bergulir. Banyak orang dan lembaga yang sibuk menyambut. Dari mulai tingkat lingkungan, stasi, paroki sampai keuskupan. Dari Penerbit Kanisius sampai PMKRI. Coba cari di google pakai kata kunci BKSN 2008, banyak halaman bisa ditemukan.

BKSN tahun ini digulirkan dalam tahun Paulus yang dicanangkan Paus Benediktus XVI. Tapi saya nggak akan membahas masalah tema sekarang ini. Yang pertama-tama menarik perhatian saya adalah umur BKSN itu sendiri. Kegiatan tahunan ini sudah digulirkan sejak tahun 1977. Sampai sekarang berarti sudah 31 tahun.

Lha kok umur jadi poin menarik? Begini, biasanya kegiatan itu kan ada targetnya, ada tujuannya. Dalam kurun waktu tertentu, kalau tujuannya sudah tercapai, ya kegiatannya berhenti. Atau kalau masih mau berjalan ya berlanjut ke tingkat yang lebih tinggi.

Selama 31 tahun BKSN punya tujuan yang masih sama; mendekatkan umat dengan kitab suci (KS). Ini sesuai dengan cita-cita gereja universal. Lha ini membuat saya bertanya-tanya dan berasumsi. Apakah selama 31 tahun Gereja Katolik di Indonesia belum berhasil mendekatkan umat dengan kitab suci? Bertahun-tahun kok tujuannya masih sama. Belum ada peningkatan. Apa memang ini proses yang tidak berkesudahan? Wah haiya lama-lama yang ngurus capek juga. Kerja keras tanpa peningkatan? Ada kesulitan apa sih?

Terus-terang, ini agak mengganggu saya. Bukan karena saya sudah termasuk yang dekat dengan KS. Tapi ya itu tadi, dilaksanakan bertahun-tahun kok’ ra ono kacek-e’. Salahnya di mana?

Saya coba-coba membaca buku pedoman BKSN termasuk bahan pendalaman KS. Setelah sekian halaman saya lalap, saya sampai pada bagian ini: Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. (Ibr.4:12).

O…lha genah! Sudah jamaknya orang cari yang enak-enak, yang bikin nyaman, yang menyenangkan, yang cocok dengan ‘keinginan daging’, yang ‘pro-aku’. Maka ketika dihadapkan pada firman Allah yang lebih tajam dari pedang bermata dua, yang menusuk amat dalam, tajam, menyakitkan, yang menuntut pengosongan diri, yang berlawanan dengan ‘naluri daging’…..ya nehi-nehi. Simpen aja kitab sucinya. Aman.

“Kamu harus mengampuni sampai tuju puluh tuju kali tujuh…..”. lha sekali saja uangelnya minta ampun!

“Cukupkanlah dengan gajimu…” Mana cukuuupp? Kalau bisa sih ngembat rejeki orang lain… oaran-orang lain juga begitu….

“Berbahagialah orang yang miskin…yang dianiaya…” Waduh! Edan, po!?

Di luar masalah metode, SDM dan sebagainya, BKSN itu memang proyek yang menentang dunia. Jadi yaw ajar kalau bertahun-tahun tujuannya masiiihh saja mendekatkan. Umat belum juga dekat-dekat dengan KS. Ini bukan bermaksud mengecilkan hati penggiat BKSN. Justru ini rahmat, yang membuat kita selalu berkesempatan bekerja untuk Tuhan. Don’t forget untuk selalu mohon kekuatan Roh Kudus menumbuhkan dan menggerakkan kerinduan umat terhadap Tuhan yang selalu setia menunggu untuk berjumpa dan berbicara dalam KS.

Ha. Maka saya pun nggak akan komplain lagi kenapa tujuan BKSN kok masih itu-itu saja.

Berkah Dalem

Posted in COGITO, KATOLISITAS | Tagged: , , , , , | 3 Comments »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.