Minggu 28 September 2008 Jam 7 pagi aku mancal APV-ku ke Mertoyudan Magelang mau njemput pulang anakku dari Seminari. Dia dapat libur lebaran. Kabar terakhir yang kuterima dia pulang habis siang. Biasanya sih (dulu) habis makan siang. So, sekitar jam 1 siang. Berhubung takut kena macet arus mudik, aku memutuskan untuk nggasikki.
Rupanya jalan gak macet sama sekali, meskipun rame, sehingga aku bisa nyampe Mertoyudan jam 10 kurang. Eh, blaik! Ternyata anak-anak seminaris baru bisa pulang setelah jam 2.30. Begitu kata mas-mas yang jaga di ruang tamu. Lama dong nunggunya….
Daripada bengong di tempat, aku putuskan untuk memantau (cie…) suasana menjelang lebaran di pusat kota Magelang. Resikonya emamng kena macet.
Benar saja. Jalanan di seputar alun-alun dan jalan pemuda penuh kendaraan. Orang-orang lalu-lalang. Pinggir jalan full parkir mobil. Aku sendiri akhirnya memarkir grobak jepangku di sisi barat alun-alun. Setelah bengong sebentar, akhirnya aku putuskan untuk jalan kaki nyebrang alun-alun ke arah Matahari Dept. Store.
Wuih…pada belanja, cing! Aku juga sok sibuk lihat-lihat barang. Pertama sepatu sama sandal. Hehe… Diskon 50%! Iya sih, kelihatannya murah. Tapi setelah ngelongok label harganya. Wits…kok kayaknya dinaikkan dulu dari harga wajar kalau nggak diskon. Sandal buatan Oom Yongki Komaladi yang biasa dijual di harga cepek-an berubah jadi Rp 199.900,-. Ya, sami wawon. Opok. Ndoboz.
Browsing aku lanjutkan ke lantai 2 dengan sedikit males gara-gara harga sulapan tadi. Sampai di lantai 2, aku melihat daerah mainan anak. Cling! Aku jadi ingat kalau anakku yang kecil. Belum lama ini dia pengin banget mainan papan yang bisa ditulis, yang tulisannya jadi hilang kalau alat penggesernya yang ada di papan itu digeser dari ujung yang satu ke ujung yang lain. Embuh apa namanya. Papan ajaib, mbok?
Aku beli satu. Harganya Rp 35.000. Didiskon jadi Rp 28.000-an.
Browsing-browsing sebentar, lalu keluar dari Matahari. Jalan lagi nyebrang alun-alaun ke arah parkiran mobil. Sentuuuupp! Bau kuah bakso masuk hidung. Mampirlah aku mbakso dulu. Clak, clak,clak! Di trotoar dekat mobilku parkir ibu-ibu penjual kelapa muda sedang beraksi mengayunkan bendo-nya. Ayunan pisau besar itu seperti lambaian tangan di mataku: mampir mas! OK! Aku lalu ndegan. Tentu setelah baksonya habis. Slurrpp!
Aku nengok jam tangan. Masih lama. Ngapaian lagi, ya?
APV aku pancal menyusuri jalan pemuda, terus ke selatan melewati pasar… Pasar! Aku mau ke pasar! Setelah celingak-celinguk, akhirnya dapat tempat parkir. Nyebrang jalan sebentar, mulailah episode browsing baru. Mas Ari tindak pasar……
Wualah, ramenya. Jalan di trotoar sambil senggal-senggol (nggak sengaja lho!). Macem-macem yang dijual. Ada sate yang bergelut dalam panci kupingan bersama ndas pitik, nanas-nanas yang sedang dikuliti oleh seorang ibu dengan muka tanpa ekspresi, gethuk magelang merah-hijau-coklat-putih, bunga hias-bunga tabur, tahu ayu-ayu, tempe ngawe-awe, sandal jepit, pisau, ember, tali jemuran. Komplit!
Di satu sisi trotoar ada 3 orang simbok-simbok duduk bersimpuh di belakang dagangannya: bunga tabur tiga kranjang kecil dan gula aren satu kranjang kecil. Orang-orang lalu lalang saja. Nggak ada yang beli. Aku perhatikan simbok ini. Mukanya kelihatan capek. Mungkin capek karena sudah memulai aktifitas bisnisnya sedari pagi buta. Mungkin juga karena dari pagi belum laku daganannya. I know it. Karena aku juga jualan.
Lalu lewatlah sepasang suami-istri ndeso bersama anaknya yang masih kecil. Rupanya mereka saling kenal. Maka meluncurlah percakapan dan sapaan bla-bla-bla.
“Wah, tindak sekalian niki…”
“Nggih, mbokde. Niki pados srandal-e thole”
“Lebaran nganyari srandal yo le…?”
Anak kecil yang ditanya itu cuma mesam-mesem sambil sentrap-sentrup nyedot umbel.
“Pinarak, monggo….”
“Sampun, mbokde…selak siang…”
Muka simbok itu jadi berseri-seri. Mukaku juga ketularan berseri-seri. Entah kenapa aku menikmati pemandangan itu tadi. Mungkin karena aku menangkap perubahan suasana dari lesu menjadi riang di muka simbok itu. Padahal dagangan tetap nggak laku. Mungkin juga kau geli mendengar simbok itu menarwarkan sepasang suami istri yang sedang lewat itu untuk pinarak, mampir. Mampir? Mampir di trotoar? Orang kan umumnya ngampirke orang lain di rumah. Lha ini kok di trotoar. Apa saking menghayati hidup bisnisnya sehingga simbok itu menyamakan level trotoar dengan rumahnya?
Aku segera berlalu. Takut jadi melow…
Sebelum meninggalkan kawasan pasar itu, aku sempatkan beli gethuk dan wajik buat oleh-oleh. Lalu aku meluncur ke selatan, ke Mertoyudan. Jam12.30. Ah, masih 2 jam lagi.



“Aku tadi pagi ngepel dari sini sampai sana,” cerita Michael, anakku sambil tangannya menunjuk salah satu lorong di Seminari Mertoyudan. Ini cerita pertama yang keluar dari mulutnya. Dan selama dia, aku, istriku, Fillia-anakku yang ke-2 dan keluarga besar kami duduk bersama, banyak cerita kecil-kecil menyusul kemudian. Tidak ada keluhan, tidak ada cerita menyedihkan. Tentang mencuci baju sendiri, atau tentang jadwal hidupnya yang baru selama 43 hari pertama dia ada di situ. Bahkan penitensi (sanksi hukuman) pun diceritakannya dengan cengar-cengir.